● May every new chapter be better than your last ●
Di sinilah Bela sekarang berada—di rumahnya yang penuh kedamaian. Ayah dan ibunya sedang menghabiskan waktu bersama, saling bercerita dan bercanda. Sementara itu, Bela hanya menonton dari jauh dan tersenyum sesekali.
Bela memang berasal dari keluarga cemara. Namun sifat dingin, cuek, dan malas tahunya berasal dari masa lalu yang kelam.
Tak ada yang tahu bahwa Bela memiliki trauma terhadap api. Saat kecil, ia pernah diculik dan ditahan di dalam gudang yang terbakar. Sejak kejadian itu, sikap cueknya menjadi tameng untuk menutupi rasa takut dan trauma. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain.
Namun sejak pertemuannya dengan Irel, hatinya dipenuhi amarah. Setelah menyatakan “perang” dengannya, Bela merasa tak pernah tenang setiap kali melihat sosok Irel.
Berbeda dengan Irel. Ia tampak bosan. Sedari tadi hanya menonton drama memuakkan antara ayah dan ibu tirinya—dua orang yang baginya, tidak berguna.
Dulu, ia hanyalah anak laki-laki biasa. Tapi semuanya berubah saat rumah tangga orang tuanya hancur. Ayahnya menikah lagi, dan sejak saat itu, Irel sangat membenci ibu tirinya. Baginya, kasih sayang seorang ibu tiri hanyalah kepalsuan.
Ia masih mengingat jelas pertengkaran orang tuanya dulu. Itulah awal mula ia menjadi seseorang yang cuek, dingin, dan kejam.
Perceraian orang tuanya telah mengubah hidupnya. Cinta dan kasih sayang, menurutnya, hanyalah omong kosong. Cinta itu tidak nyata.
"Irel, sini gabung sama Mama dan Papa," ajak ibunya.
Irel hanya menatap sekilas, dingin. Ia lalu beranjak pergi tanpa berkata apa-apa.
"Anak kurang ajar," gumam papanya kesal.
"Gak apa-apa, Mas. Mungkin dia belum bisa menerima aku," ujar ibunya dengan sabar.
"Tapi gak seharusnya dia bersikap begitu ke kamu," balas papanya.
"Suatu saat dia akan berubah, Mas," kata ibunya, mencoba meredakan amarah suaminya.
Kini, Irel sudah berada di tengah-tengah teman-temannya. Baginya, rumah yang paling nyaman dan tempat bersandar terbaik adalah sahabat-sahabatnya. Hanya mereka yang benar-benar mengerti dirinya.
"Guys, omongan kalian waktu itu masih berlaku gak?" tanya Revan tiba-tiba.
Semua langsung menoleh ke arah Revan.
"Yang mana?" tanya Mr. Ly.
"Itu lho, yang katanya kalian penasaran banget sama si Bela," kata Revan.
"Kan dia manusia juga," sarkas Kris.
"Ya elah, iya manusia. Tapi waktu itu kalian bilang penasaran sama dia," balas Revan.
"Terus, maksud lo apa?" tanya Malvin.
"Gimana kalau kita taruhan?" usul Revan sambil tersenyum jahil.
Mereka semua melongo. Gak nyangka Revan bisa punya ide kayak gitu.
"Taruhan apaan?" tanya Mr. Ly penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
JIZRAEL!
Teen FictionCinta-baginya hanyalah kepalsuan. Perceraian orangtuanya membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap perasaan yang bernama cinta. Ia tumbuh menjadi pribadi yang dingin, cuek, dan tidak peduli pada sekitar. Satu-satunya hangat yang ia rasakan hanya da...
