12.Musuh

101 5 0
                                        


---

Hari ini markas Death benar-benar kacau. Saat Irel dan teman-temannya tiba, mereka terkejut melihat markas berantakan penuh coretan makian. Tapi yang paling mengejutkan—Revan babak belur, wajahnya penuh lebam.

"SIAPA yang berani ngelakuin ini semua?!" teriak Irel dengan amarah yang membuncah.

Revan hanya menatap Irel, tahu kalau saat ini sahabatnya itu berada di titik ledak.

"...Cobra," jawab Revan singkat.

Mendengar nama itu, semua yang ada di ruangan langsung naik pitam. Bagaimana bisa Cobra, geng yang sudah lama gak muncul, tiba-tiba muncul dan menyerang?

Tanpa pikir panjang, Irel mengambil kunci motornya, siap untuk membalas. Namun Revan menahannya.

"Rel, tahan dulu. Kita gak boleh gegabah," cegah Revan, meski suaranya terdengar lemah.

"Tapi Rev, mereka udah keterlaluan! Mereka nyerang markas kita pas kita semua gak ada. Mereka nyari gara-gara!" potong Kris, tak kalah emosional.

"Gue setuju sama Revan," sahut Marion. "Kita butuh strategi, bukan amarah. Jangan sampai kita yang rugi."

Irel menghentikan langkahnya, menatap teman-temannya satu per satu.

"Kalau ada yang berani ganggu ketenangan Death... mereka akan habis. Kalian lupa prinsip kita?" ucapnya dingin, lalu berlalu pergi.

Melihat itu, Malvin buru-buru memberi perintah, "Marion, lo anter Revan ke rumah sakit. Gue sama Kris nyusul Irel."

"Siap. Hati-hati kalian," balas Marion.

---

Irel ngebut di atas motornya. Satu hal di pikirannya: hancurkan markas Cobra dan kasih pelajaran buat mereka semua.

Begitu sampai, dia melihat anggota Cobra sedang santai tertawa-tawa, membahas kejadian tadi—termasuk saat mereka mengeroyok Revan.

Tanpa basa-basi, Irel turun dan langsung meninju Sarkas Moreno, wakil ketua Cobra.

"Bangsat lo!" bentaknya.

Sarkas tersentak, mukanya memerah karena pukulan.

"Lo juga bangsat, Irel! Nyari masalah aja lo!" balas Sarkas.

Kedatangan Irel bikin geger anak-anak Cobra. Tapi sebenarnya, ini yang mereka mau—memancing Irel datang. Hanya saja, mereka gak siap kalau yang datang bukan cuma Irel.

Tak lama, Malvin dan Kris muncul. Kris langsung maju, emosinya juga memuncak.

"Berani-beraninya lo semua keroyokan!" bentak Kris.

Moreno menatap sinis. "Gue kira lo jago, Irel. Tapi ternyata bawa temen juga, ya?"

Irel tertawa kecil, lalu menendang Moreno sampai tersungkur. "Gue gak sepengecut lo."

Anggota Cobra lain ikut maju, menyerang Malvin dan Kris.

"Hai, Malvin. Udah lama gak ketemu," sapa Jastin, salah satu anak Cobra.

"Lo masih hidup aja udah nyebelin," balas Malvin, langsung menangkis serangan dari Jastin.

Perkelahian pun pecah.

Meski jumlah anak Cobra lebih banyak, tenaga mereka jauh lebih lemah. Emosi Irel dan tim membuat mereka bertarung beringas.

Melihat situasi makin gak seimbang, Moreno memberi kode pada Jastin dan yang lain untuk mundur.

Mereka buru-buru naik motor dan kabur, tapi Irel sempat menarik kerah jaket Moreno.

"Suruh ketua lo keluar. Urusan kita belum selesai. CAMKAN ITU!" ancamnya.

Moreno hanya menggeram dan melepaskan diri, lalu kabur bersama yang lain.

"Brengsek semua!" maki Kris.

"Mulai sekarang, markas ini gue serahin ke lo, Kris. Acak semuanya," kata Irel dingin lalu pergi.

Tanpa banyak tanya, Kris langsung menghancurkan markas Cobra lebih parah dari yang mereka lakukan sebelumnya.

"Cabut!" perintah Malvin.

---

Setelah Revan dirawat di rumah sakit, Marion mengantarnya pulang ke rumahnya—sementara.

"Untuk sementara, lo di rumah gue dulu. Amanin diri dulu," kata Marion.

"Gue bisa pulang sendiri, kali. Gue bukan bayi," jawab Revan cemberut.

"Udah bonyok juga masih nyolot, dasar," ejek Marion sambil tertawa kecil.

Tiba-tiba, pintu rumah terbuka. Alin datang bersama Kheyes dan Sandra, langsung menghampiri mereka.

"Sayang! Kamu gak papa kan?" tanya Alin, cemas.

"Lah, dia yang ditanya. Yang bonyok tuh gue!" protes Revan.

"Aku baik-baik aja, sayang," jawab Marion sambil menatap Alin mesra.

"Siapa yang nyerang kalian?" tanya Kheyes penasaran.

"Anak-anak Cobra. Mereka keroyok gue waktu markas kosong," jelas Revan.

"Yah... lo nya aja kali gak bisa berantem," sindir Sandra.

"Ya elah! Satu lawan tujuh mana bisa menang! Ini aja gue masih bisa berdiri!" balas Revan sambil pegang pipi.

"Trus yang lain pada ke mana?" tanya Alin.

"Irel, Malvin, sama Kris lagi di markas Cobra. Buat perhitungan," jelas Marion.

"Masalahnya makin ribet, dong," gumam Kheyes.

"Tenang, ada gue," celetuk Revan dengan gaya sok.

"Lo? Gak bisa diandelin," balas Sandra.

"Cewek aneh lo," sindir Revan.

"Cowok lemah lo," timpal Sandra lagi.

"Udah! Bisa diem gak sih! Revan lo masih sakit, Sandra lo juga jangan mancing!" potong Marion kesal.

"Maaf," ucap Revan.

"Gue juga minta maaf," tambah Sandra.

Tak lama, Kris dan Malvin datang. Wajah mereka juga babak belur.

"Lo bisa obatin mereka? Kotak P3K di dapur," pinta Marion ke Alin, Kheyes, dan Sandra.

Alin mengangguk, langsung ambil P3K (yah, dia emang udah hafal letaknya, secara sering main ke rumah pacar 😏).

Malvin langsung meminta Kheyes mengobatinya. Kheyes, meski gugup, tetap tenang mengobati lukanya.

"Aww..." ringis Malvin.

"Maaf ya..." jawab Kheyes lembut.

Mereka berdua saling menatap lama—dan entah kenapa suasana jadi canggung.

Sementara itu, Kris dilayani Sandra yang masih dengan omelan-omelannya.

"Btw, Cobra itu sebenernya mau apa sih?" tanya Marion.

"Mereka kabur semua. Tapi gue yakin... ada yang mereka cari dari kita. Ketua mereka aja gak muncul tadi," kata Malvin.

"Terus, Irel ke mana?" tanya Marion.

"Gak tahu. Tapi kayaknya dia butuh waktu sendiri," balas Malvin.

"Lo kenal Irel, kan? Gak gampang diprediksi," kata Revan menutup obrolan mereka.

---

🖤
Sampai jumpa di Bab 13!
Jangan lupa VOTE & KOMEN ya, guys!

---

JIZRAEL!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang