32. Dibalik Masalah

38 6 0
                                        

"Jadi itu alesan lo pacarin Letta?"tanya Dalta begitu Farka menceritakan apa yang terjadi. Farka mengangguk,"aku cuma cinta sama kamu."

"Gausah aku-kamu,geli gue." Dalta mendecih,ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil,menghela napas.

"Gila banget si Gara,gue baru tahu kalo dia punya bisnis kek gitu,"ucap Dalta. Kini tak ada lagi rasa kagum dalam dirinya pada sosok Gara. Farka berdeham,"perusahaan bokapnya lagi bangkrut setau gue,lo tenang aja gue bakal laporin Gara sama temen-temennya ke ranah hukum."

Dalta mengangguk,"Cilla harus dapet keadilan."

Setelah itu mereka sampai di depan rumah Dalta,gadis itu segera turun disusul oleh Farka.

"Thanks udah nganter pulang,"ucap Dalta dengan wajah lelahnya. Gadis itu memandang Farka yang juga tampak letih. Farka tersenyum,ia mengelus puncak kepala Dalta.

"Ganti baju,langsung tidur,mimpi indah cantik."

Farka meninggalkan Dalta yang terdiam. Ia tak ingin terus melihat gadis cantik itu atau hatinya akan goyah.

"Duh,kok pas jadi mantan malah baper gini sih?!"kesal Dalta begitu Farka sudah menjauh. Ia memukul kepalanya pelan,"udah ih jangan gini!!"kesal Dalta kemudian masuk kedalam rumah.

"Assalamualaikum."

Dalta tahu tidak akan ada jawaban karena Bunda sudah tidur. Gadis itu terduduk lesu di meja tempat biasa Bunda membuat donat.

Bayangan tentang Farka yang datang ke rumah dan membantunya membuat donat mulai menghantui kepalanya.

"Kenapa harus gini sih?"lirihnya penuh dengan penyesalan. Dulu ia sangat ingin membuat Farka hancur karena telah berani merendahkannya. Sekarang harusnya Dalta senang karena ia mengetahui jika Farka mencintainya seperti rencana sebelumnya.

Namun,ternyata ia juga memiliki perasaan yang sama. Dirinya juga menginginkan lelaki itu kembali. Tak ingin meninggalkannya begitu saja.

"Farka sialan!bikin gue pusing gini!"

***

Dalta menghitung donat yang akan ia bawa ke sekolah,tak lupa ia juga membungkus donat itu agar jika terjatuh tidak kotor seperti sebelumnya.

"Mau Bunda beliin nasi kuning?"tanya Bunda begitu melihat Dalta bangun lebih awal. Dalta menggeleng,"Aku makan di sekolah aja Bun,sama Gean."

Bunda mengangguk,"kali-kali ajak calon istrinya Gean kesini,Bunda tahu pasti berat melewati semua karena Bunda pernah di posisi itu."

Dalta mengangguk,ia pasti akan membawa Cilla lain hari kerumah.

"Dalta berangkat ya,Gean udah didepan,assalamualaikum Bunda."

Dalta menyalami Bunda kemudian bergegas keluar dari rumah.

"Waalaikumsalam."

Gean sudah berada di atas motor dengan wajah tertekuk,mungkin masih memikirkan masalah Cilla. Dalta ingin sekali menghibur lelaki itu namun ia tahu saat ini bukan waktu yang tepat.

"Ayo jalan."

Gean tak banyak bicara,ia juga lebih memilih menurut daripada mengajak debat gadis itu.

"Ge."

"Hm."

Dalta mengelus punggung Gean yang berada di depannya.

"Semua masalah pasti ada jalan keluarnya,lo Kakak gue 'kan?"

Gean tak menjawab. Lelaki itu hanya mengangguk seadanya.

"Gue pusing Ta,masalah berat kaya gini kenapa harus nimpa Cilla?"tanya Gean. Dalta tak bisa menjawab.

"Tapi dibalik semua masalah ini,dia jadi ketemu sama lo,"ucap Dalta.

Gean kembali mengangguk,"dan lo ketemu Farka,bener?"

Dalta & FarkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang