Zoya tercengang mendengar bunyi tembakan di belakang, tepatnya di tempat kedua penjaganya itu berada. Perasaannya menjadi tidak enak, pasti ada sesuatu yang tidak beres di belakang sana. Zoya kemudian melirik sopir di sampingnya. Pria itu tersenyum mencurigakan ke arah Zoya seraya menghentikan laju mobilnya.
"Kalian mudah sekali dibodohi ternyata," kata pria itu semakin melebarkan senyumnya.
Pria itu juga memperlihatkan sebuah tato di lengannya. "Tuanku akan sangat senang melihatmu, Zoya."
Gadis itu tersentak, dia hafal betul tato itu. Sebuah tato dengan motif matahari. Dia segera memegang handle pintu mobil untuk bersiap keluar dari sana. Dia dan kedua penjaganya sudah ditipu, orang-orang ini bukanlah anggota Pawn.
Pria itu berdecak melihat Zoya. "Jangan harap bisa kabur lagi dari kami, Zoya!" ujarnya, "tidak akan ada yang menyelamatkanmu. Kedua penjagamu itu pasti sedang sekarat sekarang."
Satu pukulan Zoya layangkan tepat ke wajah pria itu sehingga pria itu mengerang kesakitan. Sebuah kesempatan bagi Zoya, dia segera membuka pintu mobil dan berniat untuk pergi dari sana. Namun, pria itu berhasil menahan tangan Zoya. Pria itu juga dengan cepat membekap wajah Zoya menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius sebelumnya. Gadis itu sekuat tenaga berontak melakukan perlawanan, tetapi dia gagal dan kehilangan kesadarannya.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan. Tuannya akan sangat senang melihat dia dan rekannya bisa menangkap Zoya. Perburuan yang mereka lakukan selama ini akhirnya mendapatkan hasil. Zoya kini berada di tangan mereka. Pria itu dengan bangga akan segera menemui tuannya.
Di markas Dara sedang menyiapkan teh untuk para anggota yang sedang berlatih. Namun, saat dia sedang sibuk menyiapkannya, Dara tidak sengaja menjatuhkan gelas sehingga terlintas dipikirannya mengenai Zoya.
"Zoya," gumam Dara sembari memegangi dadanya. Dia merasakan firasat buruk.
Dara lantas segera menemui Ranvi yang sedang sibuk memeriksa senjatanya di ruang bawah tanah. Dara datang dengan tergopoh-gopoh sehingga membuat Ranvi keheranan.
"Ada apa, Dara? Kenapa kau berlari seperti itu?" tanya Ranvi penasaran.
"Aku merasakan firasat buruk tentang Zoya, Ranvi." Dara mengatur napasnya yang terengah-engah. "Bisakah kau menghubungi anggota yang menjaganya? Tanyakan kepada mereka keadaan Zoya. Tanyakan juga sudah sampai mana mereka," pinta Dara.
"Baiklah, akan aku tanyakan." Ranvi segera mengambil ponsel jadul miliknya. "Mereka juga belum mengabariku sampai saat ini."
Ranvi menghubungi salah satu anggotanya yang menjaga Zoya, tetapi ternyata ponselnya tidak aktif. Untuk itu, Ranvi mencoba menghubungi anggota yang satunya lagi. Akan tetapi, hasilnya sama, ponsel mereka berdua tidak ada yang aktif. Hal itu memunculkan keresahan Ranvi. Dia sudah memerintahkan kepada anggotanya itu untuk selalu mengabari Ranvi dan memastikan ponsel mereka untuk selalu menyala.
"Bagaimana, Ranvi?" Wajah Dara berubah panik saat melihat Ranvi menjadi resah.
Ranvi menggeleng. "Ponsel mereka berdua tidak bisa dihubungi."
Perasaan Dara semakin tidak karuan. Dia tidak akan pernah tenang sebelum mengetahui keadaan gadis itu.
"Apakah kau menyimpan sebuah pelacak di barang bawaan Zoya?" tanya Dara dengan penuh harap. Hanya dengan itulah mereka bisa mengetahui keberadaan gadis itu dan segera menyusulnya untuk tahu keadaan Zoya.
"Kau benar, aku menyimpan alat pelacak di tas selempangnya."
Seutas senyum terbit di wajah Dara, setidaknya sekarang mereka bisa tahu Zoya berada di mana. Ranvi dengan cepat pergi ke ruangannya dan segera memeriksa lokasi Zoya dan kedua anggotanya itu. Terlihat di komputer miliknya, alat pelacak itu berada di tempat peristirahatan bus. Tempat para penumpang beristirahat dan makan siang tadi.
"Lihat! Sepertinya bus mereka sedang berhenti untuk istirahat. Kita tidak perlu khawatir," ujar Ranvi yang sebenarnya masih heran dengan tidak aktifnya kedua ponsel milik anggotanya itu.
Dara masih belum merasa lega meskipun sudah tahu lokasi Zoya saat ini. "Hatiku masih belum puas, Ranvi. Aku ingin tahu keadaan Zoya sekarang."
Ranvi berpikir sejenak, dia juga malah semakin resah mengingat kedua anggotanya tidak bisa dihubungi. "Baiklah, aku akan pergi ke sana untuk memastikan keadaan mereka."
"Aku ikut!" seru Dara.
"Tidak, Dara. Kau di sini saja, aku akan segera menghubungimu nanti setelah bertemu mereka."
Mau tidak mau Dara menyetujuinya. Dia hanya bisa menunggu di markas, seraya berdoa agar Zoya baik-baik saja. Ranvi tidak pergi sendiri, dia mengajak dua anggota bersamanya. Mereka segera pergi menggunakan sepeda motor supaya lebih cepat sampai ke sana. Ranvi juga memerintahkan anggotanya yang berada di markas untuk terus mencoba menghubungi kedua anggotanya yang menjaga Zoya dan segera melapor kepadanya jika anggotanya itu merespons.
Motor mereka melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan yang cukup sepi. Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke sana, sedangkan bus tidak akan berhenti selama itu di tempat peristirahatan. Namun, setengah jam berlalu, alat pelacak itu menandakan posisinya masih berada di tempat yang sama. Hal itu membuat anggotanya yang memantau keberadaan alat pelacak itu di markas merasa keheranan. Dia berniat untuk melaporkannya kepada Ranvi, tetapi kabar mengenai dapur yang tiba-tiba saja terbakar terlebih dahulu menarik atensinya, sehingga dia tidak jadi menghubungi komandannya itu.
Setelah lelah berkendara, akhirnya Ranvi sampai di lokasi yang alat pelacak itu tunjukan. Dia tahu bus itu pasti sudah pergi sejak tadi. Dia sengaja berhenti di sana untuk menghubungi salah satu anggotanya yang berada di markas.
"Di mana posisi alat pelacak itu sekarang?" tanya Ranvi setelah anggotanya menerima panggilan teleponnya.
"Posisinya tetap berada di sana, Pak, di tempat peristirahatan bus tadi," jawabnya di seberang sana.
Ranvi merasa heran. "Coba periksa lagi! Aku sudah di sini, tidak ada Zoya ataupun busnya di sini."
"Posisinya tetap sama, Pak. Apa mungkin alat pelacak itu tidak sengaja Zoya jatuhkan?"
Ranvi membenarkan, itu bisa saja terjadi. Dia pun memutus panggilan teleponnya. Ranvi ingin memastikan keberangkatan bus tadi dari tempat ini, sehingga dia menghampiri pedagang buah yang dilihatnya.
"Ikut aku!" titah Ranvi kepada kedua anggotanya. Mereka pun dengan sigap mengekor di belakangnya.
Pedagang buah itu sedang fokus menghitung hasil penjualannya hari ini. Wajahnya tampak sumringah karena dagangannya hari ini laris manis. Ditambah penumpang dari bus yang dinaiki Zoya banyak sekali membeli buah dagangannya.
"Permisi, Pak!" panggil Ranvi membuat pedagang itu terperanjat.
"I-iya, Pak, ada apa?" Pedagang itu mendekat ke arah Ranvi.
"Saya mau tanya, apakah ada bus dengan tujuan ke ibu kota beristirahat di sini tadi?"
"Oh ... iya. Ada, Pak," jawab pedagang itu tersenyum ramah. "Busnya juga sudah pergi sejak tadi, Pak," tambahnya.
Ranvi mengangguk. "Baiklah, Pak, terima kasih."
"Iya, Pak, sama-sama."
Ranvi hendak pergi dari sana, tetapi kemudian matanya melihat sesuatu di tanah. Dia segera mengambilnya. Benda itu sudah tidak asing lagi bagi Ranvi, sebuah alat pelacak yang dia selipkan ke tas selempang milik Zoya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Minor Mayor
AzioneRanvi, seorang mantan Mayor Jenderal, membentuk sebuah organisasi rahasia untuk membantu negara-negara yang terkena konflik. Organisasinya bertujuan menghancurkan para pemimpin licik dan kejam, yang hanya ingin meraup keuntungan tanpa mempedulikan r...
