Part 4 "Hari Pertama"

1.7K 152 23
                                        

-author pov-

Tiga hari melesat begitu saja, dan kini Senin telah tiba

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tiga hari melesat begitu saja, dan kini Senin telah tiba. Hari baru bagi Shafa, yang secara resmi memulai peran barunya sebagai Personal Assistant (PA) Rayyan, masih ditemani Risa, PA Rayyan sebelumnya yang siap memberikan estafet tugasnya ke Shafa.

Namun, bukan hanya Shafa yang memulai lembaran baru. Pagi ini, aura optimisme menyelimuti Inggit, yang kini akan memulai karir barunya di kantor pusat sebagai PA Vano. Langkahnya mantap dan penuh percaya diri melintasi lorong-lorong kantor. Wajah gadis itu memancarkan kecerahan, ditunjang riasan tipis yang begitu pas: sentuhan lipstik warna rosewood yang menawan dan sapuan bedak tabur tipis yang membuat kulitnya tampak flawless. Ia menuju meja kerja Shafa, siap menyongsong hari.

"Selamat pagi, bestie..." Sapa Inggit ceria saat menjatuhkan dirinya dengan nyaman di kursi yang ada di depan meja Shafa. Sedangkan sahabatnya itu, dengan fokus yang tak tergoyahkan, masih tenggelam dalam pekerjaannya, sampai tak menyadari kedatangan Inggit.

"Gue nggak telat, kan?" tanya Inggit memastikan, ada sedikit nada khawatir dalam suaranya. Gadis itu melirik jam yang menempel di dinding, tepat berada di atas Shafa. Jarum jam sedikit menunjuk angka 9, seharusnya masih aman, tidak terlambat.

Shafa mendongak, tatapannya beralih dari layar monitor ke wajah Inggit, "Hm.. Enggak kok, aman." Ia kembali menatap layar laptop di depannya, jarinya menari di atas keyboard.

"Udah siap? Nggak perlu orientasi lagi, kan?" Inggit menggelengkan kepala, ia merasa tak perlu lagi office tour atau orientasi. Toh, ia sering mengunjungi kantor pusat ini, jadi seluk-beluk ruangan dan wajah-wajah staf di sini sudah cukup familier baginya.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, fokus Shafa akhirnya beralih sepenuhnya kepada Inggit. "Oke... Coba lo bikin catatan, Nggit. Kegiatan harian yang harus lo lakuin."

Seketika, Inggit membuka slingbag-nya, ia mengeluarkan buku kecil bersampul kulit sintetis berwarna coklat tua, sejenis notebook yang elegan.

"Biasanya tiap Senin pagi, gue kirim jadwal Vano selama seminggu ke depan. Kemarin udah gue buat, coba lo cek WA. Nah, file yang itu lo kirim ke Vano," kata Shafa, menunjuk layar ponsel Inggit yang kini menyala. "Kalau harian, biasanya tiap pagi gue cuma reminder kegiatan Vano seharian, mulai dari meeting, menghadiri undangan, atau kegiatan lain."

Inggit menulis poin-poin penting yang ia tangkap dengan cepat, "Oke, noted."

"Oh iya, Vano orangnya nggak ribet, kok. Lo nggak perlu bikinin kopi atau mikirin makanan dia. Tenang aja, udah ada Nada. Itu udah bagian dari jobdesk dia, hahaha..." Shafa tertawa kecil, tawa renyah yang sedikit mengandung geli saat ia mengingat rutinitas pagi Nada dan Vano. Mereka selalu sarapan, makan siang, dan makan malam bersama—memang sebucin itu hubungan mereka.

"Oke, ini kita bedah satu per satu. Mulai dari yang paling sering, yaitu bagian meeting. Biasanya lo, report ke gue kan, kalau udah update data keuangan yang di-input ke sistem. Itu biasanya gue cek lagi, sudah balance apa belum, ada salah input atau enggak, atau mungkin ada pembatalan transaksi."

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang