NAWASENA
"Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal."
Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dengan langkah tergesa, Inggit mempercepat langkah kakinya menuju meja kerja Shafa. Napasnya memburu, terdengar jelas di antara derap langkahnya yang semakin cepat. Begitu sampai, ia berhenti sejenak, menenangkan napas sebelum bicara.
Shafa mengangkat kepala, sekilas menatap Inggit. "Kenapa?" tanyanya pelan, lalu kembali menatap layar laptop.
"Pinjem motor, Sha," ucap Inggit, masih dengan sisa napas yang belum sepenuhnya stabil.
Shafa mengernyit ringan. "Gue nggak bawa motor hari ini. Lo mau ke mana?"
"Yah... tumben. Motor lo kenapa? Mogok lagi?" tanya Inggit setengah kecewa.
"Enggak, si Kiara aman kok," jawab Shafa sambil mengetik ringan. "Coba pinjem ke Pak Rudi aja, Nggit."
"Oke deh. Yaudah, gue cabut duluan ya. Lagi buru-buru banget."
Belum sempat Shafa mengangguk atau menanggapi, Inggit sudah berbalik, langkahnya cepat, hampir setengah berlari meninggalkan ruang kerja Shafa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.