Part 43 "Harus Gimana nih?"

408 59 32
                                        

Begitu melihat Rayyan keluar dari resto, Aksa buru-buru mematikan rokoknya yang masih tersisa setengah. Dari raut wajah dan langkahnya, jelas atasannya itu sedang tidak baik-baik saja. Entah apa penyebab pastinya, tapi Aksa yakin, pasti ada hubungannya dengan Shafa.

Kusut banget bos gue, batinnya sambil menghela napas kecil.

"Pulang sekarang, Pak?" tanyanya hati-hati.

Rayyan hanya mengangguk, tanpa suara.

"Mau nunggu Mbak Shafa dulu nggak, Pak? Saya lihat motornya masih ada di parkiran karyawan tadi. Kayaknya belum pulang," tawar Aksa.

Rayyan sempat menoleh ke arah yang dimaksud. Benar saja, motor Shafa masih terparkir di sana.

"Yaudah, kita tunggu dulu aja," ujarnya akhirnya.

Tak sampai lima belas menit, sosok yang mereka tunggu keluar dari pintu resto. Shafa berjalan pelan sambil merapikan tasnya, tanpa menyadari kalau dua pasang mata tengah memperhatikannya dari dalam mobil.

"Mau kita ikutin nggak, Pak? Udah malem juga. Takutnya Mbak Shafa kenapa-kenapa di jalan," ujar Aksa, melirik Rayyan sekilas lalu kembali memandang Shafa.

Rayyan tak langsung menjawab. Pandangannya masih mengikuti langkah Shafa menuju area parkir karyawan. Lampu jalan yang temaram membuat bayangan tubuhnya jatuh panjang di paving yang mulai lembap oleh embun malam.

Begitu Shafa menaiki motornya dan mengenakan helm, Rayyan akhirnya bersuara pelan, "Oke, kita ikutin."

Ia menyalakan mesin mobil, sengaja membiarkan lampu depan dalam mode redup. Mobil perlahan melaju, menjaga jarak cukup aman di belakang Shafa.

Beberapa kali motor itu berhenti di lampu merah. Dari balik kemudi, Rayyan hanya diam. Matanya tak lepas dari sosok itu. Ada rindu yang masih belum terobati, perasaan yang belum tersampaikan, dan kekhawatiran yang diam-diam menghantui.

"Pak..." suara Aksa memecah keheningan, "Bapak ngelamun ya? Serem ih, biar saya aja yang nyetir."

Rayyan menarik napas panjang, tetap menatap ke depan. "Enggak. Nggak usah berisik, Sa."

"Astaga, baru juga ngomong sekali udah dibilang berisik aja. So sad sekalii," celetuk Aksa dramatis.

"Jijik, Sa."

"Yaudah, jalan, Pak. Udah ijo itu," balas Aksa dengan nada sebal.

Rayyan langsung menginjak pedal gas pelan. Mereka terus mengikuti Shafa hingga jalan mulai sepi. Angin malam bertiup cukup kencang. Di kejauhan, Shafa sempat memperlambat laju motornya, seolah sedang memastikan sesuatu lewat spion.

"Kayaknya Mbak Shafa sadar deh, Pak," ujar Aksa cepat.

Rayyan spontan mengerem, menjaga jarak sedikit agak jauh. "Peka banget kalo lagi diikutin," gumamnya.

Beberapa menit berlalu Shafa berbelok ke jalan kecil yang lebih gelap dan sepi. Lampu jalannya jarang, beberapa warung di pinggir jalan sudah tutup, dan suasana semakin lengang. Rayyan tetap menjaga jarak, matanya fokus mengikuti motor Shafa di kejauhan. Tapi begitu mereka melewati tikungan, motor itu tiba-tiba sudah tidak kelihatan lagi.

"Lho, Mbak Shafa ke mana? Itu bukan Mbak Shafa deh, Pak," gumam Aksa sambil mencondongkan badan ke depan.

Rayyan langsung menegakkan tubuhnya, menatap kanan-kiri jalan. "Tadi belok ke arah mana, Sa?"

"Kayaknya ke gang kecil tadi, Pak."

Rayyan mengumpat pelan, lalu memutar setir ke arah gang yang dimaksud. Mobil melaju perlahan menelusuri gang sempit itu, tapi tidak ada tanda-tanda motor Shafa. Hanya jalan basah, sunyi, dan beberapa rumah yang lampunya sudah padam.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang