Part 28 "Hallo, Surabaya!"

3K 273 45
                                        

Sesuai janji Rayyan beberapa hari yang lalu, kalau Shafa mendapat cuti tambahan selama 3 hari sebelum hari raya idul fitri. Jadi saat ini, Shafa sedang mengemasi barang bawaannya untuk pulang kampung. Tak banyak baju yang ia bawa, karena di rumah orang tuanya masih banyak baju miliknya yang masih muat dan layak pakai.

Ia kembali memeriksa jadwal keberangkatan pada tiket keretanya. Masih ada waktu sekitar 2 jam lagi. Kebiasaan, sukanya mepet-mepet. Tapi kali ini bukan karena disengaja, semalam ia harus lembur menyelesaikan pekerjaan sebelum benar-benar bisa menikmati cuti panjangnya.

Setelah yakin semua barang penting sudah masuk ke koper dan ranselnya, serta tas selempang kecil yang hanya berisi dompet, handphone, tisu basah, dan lipstik, Shafa memutuskan untuk berangkat lebih awal dan sahur di stasiun saja.

"Win, mohon maaf lahir dan batin yaa. Gue sekalian pamit pulkam. Titip kamar gue ya," kata Shafa saat melihat Winda sedang duduk santai menonton televisi.

"Eh iya, Shaa. Maafin juga semua salah-salah gue yaa," balas Winda sambil berdiri dan memeluk Shafa erat.

"Tumben lo pulkam sekarang? Biasanya gue yang nitip kamar kos ke lo," sambung Winda setelah melepaskan pelukannya.

"Iya nih, alhamdulillah dapet tambahan cuti dari Pak Bos. Hehe," jawab Shafa.

"Eh iya, gue lupa bilang. Kapan hari pas gue mau berangkat kerja, ada cowok nyariin lo. Tapi lo udah pergi duluan," ucap Winda yang tiba-tiba teringat sesuatu.

"Siapa?"

"Duh, gue lupa nanya namanya. Putih, tinggi, kira-kira segini deh," katanya sambil mengangkat tangan mendeskripsikan tinggi badan Rayyan.

"Ooh, Rayyan, presdir gue."

"Haaa? Oh itu yang namanya Rayyan?! Ganteng, Shaa. Pantes lo incer," celetuk Winda dengan mata melebar, sedikit heboh.

"Udah ah, gue mau berangkat sekarang. Ojeknya udah dateng. Bye, Win," ujar Shafa sembari merapikan jilbabnya dan memeluk Winda sekali lagi.

"Lho, naik ojek? Padahal gue bisa anter, tapi nunggu selesai makan bentar," ucap Winda seraya menunjuk piring di atas meja.

"Nggakpapa, aman kok. Makasih yaa," jawab Shafa sambil melambaikan tangannya, lalu menarik kopernya keluar kos.

"Okee, tiati yaakk! Titip salam buat om tante."

"Iyyaahhh."

----- Stasiun Gubeng

Setelah menempuh perjalanan darat selama 13 jam, akhirnya Shafa tiba di Surabaya. Langit kota itu mulai menguning, tanda senja sebentar lagi akan berganti malam. Di pintu keluar stasiun, seorang pria paruh baya berdiri sambil mengangkat tangan, mencoba memberi isyarat untuknya.

Begitu melihat Papanya melambaikan tangan, Shafa langsung mempercepat langkah. Koper besar berwarna cokelat muda ia tarik di belakangnya, rodanya berisik menabrak lantai stasiun yang padat. Wajah lelah karena perjalanan panjang perlahan berubah jadi hangat. Ia setengah berlari, dan begitu sampai, tubuhnya langsung tenggelam dalam pelukan sang Papa.

"Duh, akhirnya anak Papa pulang juga," ucap Papa Shafa pelan sembari mengelus kepala Shafa. Pelukannya erat, seolah mencoba menambal semua rindu yang sempat menumpuk.

Shafa mengangguk kecil, matanya mulai berkaca. Rasanya seperti baru tersadar, kalau rumah itu bukan cuma bangunan, tapi juga pelukan hangat seperti ini. Sudah lama sekali ia tak merasakan hangatnya pelukan yang selalu berhasil menenangkan dirinya.

"Udah, yuk. Lepas kangennya di rumah aja. Mamah hari ini masak pecel kesukaan Adek," ujar Papa Shafa sambil melepaskan pelukannya. Ia tersenyum, tapi langsung mengernyit saat melihat mata putrinya mulai basah. "Eh, kok nangis? Batal nanti puasanya!"

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang