Part 15 "Hari Bahagia Arsyilla & Damaresh"

1.8K 151 8
                                        

-Author pov-

Minggu, 28 Januari 2024, akan menjadi hari bersejarah untuk sepasang pengantin yang hari ini akan mengikat janji suci dihadapan dua keluarga besar dan para kerabatnya. Acara akan dimulai dengan akad nikah pada pukul 8 pagi. Dilanjut prosesi pernikahan adat Kalimantan Timur. Jeda istirahat sampai jam 3 sore, setelah itu persiapan acara resepsi. Malamnya setelah resepsi dimanfaatkan khusus untuk acara after party, bagi para sahabat dekat kedua mempelai dan keluarga.

Salah satu kamar hotel di lantai tiga telah disulap menjadi ruang rias pengantin. Di dalamnya, aroma bedak, parfum, dan hairspray bercampur jadi satu, memenuhi udara sejak pukul tiga tadi. beberapa anggota tim make up artist sibuk merapikan alat-alat rias, mencocokkan warna lipstik, hingga menyusun perhiasan yang akan dikenakan pengantin.

Di depan cermin kotak dengan lampu-lampu terang di sekelilingnya, Syilla duduk diam mengenakan bridal robe. Rambutnya perlahan dirapikan oleh hair stylist, dan wajahnya sudah full makeup. Ia mencoba tetap terjaga meski matanya terasa berat karena bangun sejak pukul tiga pagi. Sesekali ia menguap kecil, lalu tersenyum malu saat sang MUA menegurnya ramah, "Masih ngantuk ya Mbak Syilla?"

Beberapa ketukan pelan terdengar dari pintu kamar. Salah satu staff buru-buru berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ternyata Shafa, muncul dengan wajah segar.

"Eh, kok belum make up, Sha?" tanya Syilla sambil melirik pantulan sahabatnya dari cermin.

"Iya, nanti aja. Gue ke sini dulu, mau lihat lo. Siapa tahu lo butuh sesuatu," jawab Shafa sambil mendekat dan duduk di tepi tempat tidur.

Shafa menghela napas kecil. Ia tahu Syilla pasti deg-degan dan kelelahan. "Mau gue ambilin roti atau teh anget? Lo harus isi perut, Syil, takutnya lemes nanti pas acara." Syilla tersenyum lebar, merasa bersyukur Shafa datang.

"Sini gue suapin."

Shafa menarik kursi dan duduk di samping Syilla, tepat di sebelah meja rias yang penuh dengan produk make up dan aksesoris pengantin. Ia mengambil sebungkus roti tawar isi selai coklat dari tas kecilnya, lalu membukanya. Dengan hati-hati, Shafa merobek roti tersebut menjadi ukuran yang kecil dan menyodorkannya ke mulut Syilla.

"Izin ya, Kak," ucap Shafa meminta izin ke MUA untuk menyuapi sahabatnya sebentar, sedikit mengganggu aktivitas sang MUA.

Syilla mengunyah pelan, sambil menatap cermin. Shafa sesekali menatap sahabatnya lekat-lekat, matanya sedikit berkaca-kaca.

Sulit dipercaya, gadis mungil yang sekarang duduk mengenakan bridal robe ini, sebentar lagi akan mengucap janji sebagai istri.

Dalam heningnya, Shafa teringat kenangan mereka. Rasanya baru kemarin mereka pertama kali ngobrol di depan gedung kantor, canggung tapi langsung nyambung. Sejak itu, hampir setiap hari pulang kerja mereka nongkrong bareng, curhat, ketawa-ketawa, dan menghabiskan waktu bersama. Bahkan pernah bikin list, kira-kira siapa di antara mereka yang bakal nikah duluan. Namun, ternyata prediksi mereka meleset.

"Mau lagi?" tanya Shafa setelah roti yang ia pegang habis.

Syilla menggeleng pelan. "Enggak, Sha. Udah cukup. Lo aja yang makan."

Shafa tersenyum kecil, lalu mengambil sebotol air mineral dari meja. Ia membuka tutupnya dan menyodorkan sedotan ke mulut Syilla. "Minum dulu, biar nggak seret."

Setelah Syilla meneguk beberapa kali, ia menarik napas dan tersenyum. "Makasih ya, Shaa.. Lo juga jangan lupa makan."

"Iya, ini gue lagi makan kok," jawab Shafa sambil mulai mengunyah roti yang awalnya ia siapkan untuk Syilla semua, ternyata Syilla hanya makan satu bungkus saja.

Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat beberapa orang di dalam kamar menoleh. Shafa refleks bangkit dari kasur dan berjalan ke arah pintu. Begitu dibuka, tampak Noora berdiri dengan wajah berseri, mengenakan dress berwarna biru langit. Meski wajahnya belum dirias, dia sudah terlihat rapi. Di tangannya, ada kantong berisi camilan dan dua botol minuman dingin.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang