Part 20 "Jogja Istimewa (1)"

2.3K 219 22
                                        

Jalanan pagi ini masih basah oleh hujan yang mengguyur kota semalaman. Suasana syahdu dan hawa sejuk membuat Shafa sedikit enggan berangkat ke kantor. Tapi apa boleh buat, hari ini pekerjaannya menumpuk. Lusa Rayyan akan berangkat ke Yogyakarta untuk mengisi seminar di sebuah kampus swasta, dan semua urusan harus beres sebelum Rayyan berangkat.

Selesai adu mekanik dengan rasa malasnya, Shafa akhirnya berhasil mengalahkan godaan kasur dan menyelesaikan ritual mandi paginya. Dengan rambut yang masih sedikit basah, ia menarik kursi di depan meja rias dan menatap pantulan dirinya di cermin. Sambil bersenandung kecil, tangannya terampil meraih botol toner dan mulai mengoleskannya merata ke seluruh wajah.

Setelah rangkaian skincare pagi selesai, Shafa berdiri untuk mengganti piyamanya. Ia memilih setelan kantor andalannya, kemeja putih tulang yang dipadukan dengan vest coklat gelap tanpa lengan, serta loose pants senada yang memberi kesan santai tapi tetap profesional.

Sebelum benar-benar siap, ia kembali ke meja rias untuk langkah terakhir. Ia menyemprotkan parfum favoritnya ke pergelangan tangan dan jilbabnya, lalu tersenyum kecil pada bayangannya sendiri di cermin.

Semua persiapan selesai. Shafa meraih totebagnya dan melangkah keluar kamar. Ia menyalakan mesin motor kesayangannya, si Jhony. Suara mesin mulai menggeram pelan, pertanda siap diajak beraksi. Shafa menunggu sejenak sampai mesin cukup panas, lalu melaju membelah jalanan ibu kota, menuju kantor yang kini sudah seperti rumah keduanya.

Tiba-tiba Shafa terkekeh sendiri, mengingat momen saat Rayyan meroasting dirinya yang heboh karena keringat Ello di konser Dewa 19 beberapa hari lalu. Tanpa sadar, tawanya menarik lirikan tajam dari seorang pengendara ojek online di sebelahnya. Tapi bagi Shafa, itu sudah biasa. Ia memang sering begitu, diam, tapi pikirannya melompat ke mana-mana. Kadang tiba-tiba senyum sendiri, kadang cemberut, kadang melamun dengan ekspresi dramatis. Yang bikin malu itu... kalau pas lagi di tempat umum. Kayak sekarang ini, berdiri di bawah lampu lalu lintas di tengah keramaian ibu kota.

Tak lama, lampu lalu lintas berubah dari merah, kuning, lalu hijau. Dengan gerakan refleks, Shafa memutar gas dan membawa si Jhony melaju pelan menyusuri jalanan ibu kota. Angin pagi menyapu pelan wajahnya, namun pikirannya justru sedang berkelana ke tempat lain.

Tanpa ia sadari, pikirannya kembali memutar ulang momen-momen bersama Rayyan saat menonton konser Dewa 19. Mulai dari antre masuk, duduk bersebelahan, sampai nyanyian Rayyan yang nyaris tak terdengar tapi cukup membuatnya gemas sendiri.

Entah kenapa, kebiasaan melamun seperti ini terasa menyenangkan bagi Shafa. Meski secara fisik ia sedang berkendara sendirian, tapi hatinya terasa ramai. Seolah ada yang menemani, bukan orang di jok belakang, melainkan isi kepalanya sendiri yang terus berisik.

Sesampainya di kantor, keempat sahabat Shafa sudah berkumpul di meja kerjanya. Mereka menunggu kedatangannya dan tentu saja sarapan yang dijanjikan oleh gadis itu sejak kemarin.

"Baik banget sih... by the way, Pak Rayyan udah dateng," ujar Syilla sambil menerima bekal sarapan buatan Shafa.

"Gue nggak telat, kan? Tumben presdir udah dateng duluan," balas Shafa sambil meletakkan beberapa kotak bekal ke meja. Komentar itu langsung disambut gelengan kompak dari teman-temannya.

Shafa kemudian berjalan ke pantry, berniat membuatkan secangkir kopi untuk Rayyan. Setelah selesai, ia kembali ke meja kerjanya sambil membawa nampan berisi kopi hangat. Gerak-geriknya tak luput dari perhatian teman-temannya.

Dengan hati-hati, Shafa meletakkan kotak bekal sarapan yang sudah ia siapkan di samping cangkir kopi. Kini semuanya sudah tertata rapi di atas nampan.

Langkah Shafa ringan saat mulai berjalan ke ruang kerja Rayyan, tapi jelas ada rasa deg-degan yang menyusup di dada. Ia berusaha tetap kalem, meski teman-temannya di belakang sudah mulai bereaksi.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang