Setelah acara pernikahan Inggit dua bulan lalu, baru kali ini Shafa kembali menginjakkan kaki di Jakarta. Kali ini untuk menghadiri momen bahagia Syilla dan Damaresh, mereka menggelar acara syukuran atas kehamilan Syilla yang ke 7 bulan sekaligus pengumuman gender calon buah hati mereka.
Halaman belakang tempat acara berlangsung sudah mulai ditata rapi, meskipun tidak begitu luas, namun cukup untuk menampung beberapa keluarga dan kerabat dekat Syilla dan Damaresh.
Satu jam sebelum acara dimulai, Nada baru tiba bersama Vano. Mereka datang sambil menenteng kantong berisi titipan Syilla. Begitu melihat sang sahabat, Syilla langsung menghampiri dengan wajah ceria.
"Aaaa... maaciw udah dibawain gethuknya," seru Syilla, matanya berbinar saat membuka paperbag yang dibawa Nada.
"Iya, sama-sama. Demi babycil nih, umma rela subuh-subuh blusuk-an ke pasar," balas Nada sambil mengelus perut Syilla.
Syilla tertawa kecil ikut mengelus perutnya yang membuncit. "Aaa... bahagia banget anak gue punya emak banyak. Hahaha."
Inilah salah satu hal yang ia syukuri, memiliki sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri. Kalau satu orang punya anak, rasanya semua ikut jadi orang tua.
"Gue bantu apa nih?" tanya Nada.
"Nggak usah. Duduk aja di situ, temenin gue makan ini," pinta Syilla sambil menggamit lengan Nada dan membawanya ke kursi di sudut ruangan.
Sementara itu, Vano memilih memisahkan diri dari Nada begitu mereka masuk. Ia langsung menuju meja di sudut ruangan, tempat Damaresh sedang sibuk menyusun souvenir untuk para tamu.
"Persiapan nikah lo gimana, Van? Aman?" tanya Dama, matanya tetap fokus menata kotak-kotak kecil berisi souvenir di atas meja.
Vano mengangguk sambil ikut membantu merapikan. "Sejauh ini aman sih. Tinggal fitting baju pengantin minggu depan."
"Jadinya kapan? Kok belum sebar undangan? Atau jangan-jangan gue nggak diundang nih?" goda Dama sambil melirik.
Vano terkekeh. "Diundang lah, bro. Akadnya tanggal 21 bulan depan. Cuma masih mikir nih, mau sekalian resepsi atau dijeda besoknya."
"Lah? Waktu tinggal sebulan masih bingung? Acaranya di rumah? Nggak booking WO?"
"Udah booking dua hari, kok. Cuma kemarin habis ngobrol sama Nada, kepikiran kalau digabung sehari aja gimana. Jadi capeknya cuma sehari, besoknya bisa istirahat... terus gas honeymoon." Vano menutup kalimatnya dengan tawa lepas.
Damaresh mengangguk setuju. "Iyaa, bener. Mending langsung sehari aja sekalian."
Tiba-tiba terdengar teriakan kecil Syilla, ia langsung bangkit dengan antusias begitu melihat Shafa datang bersama Noora. Meski perutnya sudah membuncit, ibu hamil itu tetap berlari kecil menyambut sahabatnya. Begitu jarak mereka cukup dekat, Syilla langsung menubruk Shafa ke dalam pelukannya.
"Aduh... engap banget nih, Syil. Babycil kejepit nih," ujar Shafa sambil sedikit mendorong pelan tubuh Syilla untuk memberi ruang.
Syilla justru terkekeh, lalu menangkup pipi Shafa dan menghujaninya dengan kecupan gemas.
"Aduh... pelan-pelan, Ciilll! Anak gue di perut lo terguncang itu!" protes Shafa, meski wajahnya tetap tersenyum dan tidak berusaha menghindar.
Syilla akhirnya melepaskan tangannya dari kepala Shafa, lalu meremas kedua lengan atas sahabatnya itu dengan ekspresi penuh kegemasan. "Aaaa... gue gemes banget sama lo, Sha! Nggak tau kenapa, tapi sumpah gue gemes bangeeettt... iihhh!"
"Ooh gitu... jadi babycil cuma gemes sama bunca aja? Sedih banget," sahut Noora, yang sedari tadi hanya mengamati interaksi mereka.
Syilla langsung memutar tubuhnya ke arah Noora, matanya membulat. "Yaampun, Buno! Maafin babycil, yaa. Sini peluk dulu, cium dulu sinii!"
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWASENA
FanficNAWASENA "Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal." Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
