NAWASENA
"Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal."
Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Shafa meletakkan pistolnya di meja, napasnya masih tersengal tipis. Ia benar-benar tak menyangka kalau olahraga menembak ternyata bisa seseru ini. Padahal tadi pagi ia sempat menolak saat Mahesa mengajaknya ke tempat ini, karena niat awal mereka hanya ingin cari sarapan santai di sekitar Surabaya.
Tapi rencana Mahesa mendadak berubah setelah tahu kalau komandannya juga sedang mudik ke kota ini.
Sekali dayung dua pulau terlampaui, pikir Mahesa. Mampir sebentar ke lapangan tembak milik seniornya, sekalian mengenalkan Shafa ke lingkungannya. Walaupun pria itu sempat ragu, takut tempat ini terlalu asing buat Shafa.
Tapi ternyata kekhawatiran itu tak terbukti. Shafa yang awalnya canggung, kini justru terlihat antusias. Baru setengah jam latihan, jemarinya sudah cukup luwes menarik pelatuk. Yaa, walaupun sebagian besar pelurunya masih meleset dari target, tapi ekspresi puas di wajahnya jelas menggambarkan bahwa ia menikmati sesi ini.
"Wiiih, keren banget nyonyaku ini," goda Mahesa sambil tepuk tangan ringan lalu memberikan jempol untuk Shafa.
Shafa mendengus pelan, tapi senyum tak bisa disembunyikan dari bibirnya. Ia menepuk pelan dada Mahesa dengan punggung tangannya. "Apa sih, Mas. Jangan lebay, nanti aku besar kepala."
"Eehh, nggakpapa tau, Dek. Besar kepala tuuh... Asal yang muji pasangan sendiri," canda Bu Susan, istri Pak Mitro, dengan tawa renyah.
Shafa hanya menggeleng pelan sambil tersenyum malu, pipinya bersemu merah. Tak ada yang bisa ia balas selain senyum kecil yang mengembang begitu saja.
"Kamu tadi hebat, loh. Baru pertama kali pegang senjata api, kan?" tanya Bu Susan lagi, matanya menyiratkan kekaguman tulus.
"Hehe, iya Bu. Pertama kali banget, malah sempat deg-degan parah di awal," jawab Shafa, jujur dan antusias. Matanya berbinar, masih terbawa adrenalin dan rasa bangga yang belum hilang. "Tapi ternyata seru juga ya..."
"Iya, bener. Dulu saya juga gitu, awalnya tegang tapi lama-lama nagih," ujar Bu Susan sambil terkekeh kecil. "Tapi tadi gayamu udah kelihatan natural banget, loh. Mahesa yang ngajarin, ya?"
Shafa menoleh cepat, menahan tawa. "Hehe, bisa aja Mas..."
Senyum Bu Susan semakin lebar melihat interaksi anak muda di depannya.
Beberapa menit kemudian, Shafa mendudukkan dirinya disebelah Mahesa. Membiarkan tubuhnya sedikit bersandar ke belakang sambil menghembuskan napas perlahan. Lengan kanannya terasa sedikit pegal, mungkin efek dari sesi menembak barusan yang cukup intens untuk ukuran pemula. Ia mengangkat tangannya dan mulai memijat pelan otot-ototnya yang tegang, gerakannya kecil tapi cukup menarik perhatian Mahesa.
Lelaki itu melirik ke arahnya, alisnya terangkat.
"Kenapa? Pegel, ya?"
Shafa mengangguk pelan, ekspresinya setengah mengeluh. "Iya ih... padahal baru sebentar, tapi langsung kerasa gini."