Part 22 "Tak Tampak"

1.9K 196 11
                                        

Sudah dua minggu berlalu sejak kepulangan Shafa dari Jogja. Meskipun malam terakhir di sana sempat membuatnya panik karena merasakan gempa untuk pertama kalinya, bahkan nyaris meninggalkan jejak trauma. Tapi Jogja tetap istimewa di hatinya. Kota itu masih menjadi salah satu tempat favoritnya. Suatu saat nanti, ia ingin kembali berkunjung. Mendatangi tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi, menghabiskan waktu bercengkerama dengan alam, dan menikmati kuliner khasnya. Dua hari terasa terlalu singkat, tapi cukup meninggalkan kesan yang dalam.

Dengan langkah tergesa-gesa, Shafa menghampiri Noora di meja kerjanya. Napasnya ngos-ngosan, padahal jarak antara meja mereka hanya sepuluh meter. Sepertinya bukan soal jarak, tapi lebih karena antusiasme yang membuat langkahnya terburu-buru.

Noora yang menyadari kedatangan Shafa hanya melirik sejenak, lalu kembali menatap layar laptopnya, sambil tetap bersabar menunggu Shafa menenangkan napasnya. Meskipun, dalam hati, gadis berdarah Batak itu cukup penasaran, apa yang sampai bikin Shafa lari-lari begini?

"Raa... coba buka story WA-nya Syilla," ucap Shafa setelah akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi depan meja Noora.

"Wait..."

Noora meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop, membuka kunci layar, lalu membuka aplikasi WhatsApp. Jarinya mulai menggulir daftar kontak, mencari nama Syilla.

"Maksudnya apa nih?" gumam Noora sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Shafa.

"Nah, itu dia... Dia kenapa ya?" Shafa mengernyit. "Pantesan tadi bilang malam ini mau ikut nginep di apartemen lo."

Noora menatap layar sejenak, lalu menoleh ke Shafa. "Tanya sekarang atau nunggu dia cerita aja?"

"Nanti aja, pas udah di apart lo, Raa," jawab Shafa sambil berdiri.

Ia melangkah menuju pantry, berniat membuat kopi. Tapi pikirannya masih berkutat pada story Syilla. Ada apa sebenarnya? Tumben sekali sahabatnya itu membuat story yang nuansanya... nggak seperti biasanya.

Lamunannya buyar saat terdengar suara menyapa dari arah kulkas.

"Eh, Nad," ucap Shafa sedikit terkejut saat melihat Nada membuka kulkas dan mengambil kotak kecil berisi potongan buah naga.

"Sha, udah lihat story Syilla belum? Gue sempet mau reply, tapi bingung... takut salah ngomong," ujar Nada, menutup kulkas pelan.

"Nanti aja, pas di apartemen Noora. Sekalian kita tanya langsung."

Mereka bertiga memang penasaran, tapi sekarang masih jam kerja. Dan Syilla pun masih ada di kantor. Jadi biarkan gadis itu fokus dengan pekerjaannya dulu.

"Wiihh, bawa bekal apaan tuh?" tanya Shafa saat melihat dua kotak bekal di tangan kanan Nada.

"Buah," jawab Nada santai. "Kemarin Umma dapet kiriman dari kampung, hasil kebun sendiri. Lo mau?"

"Ada apa aja?"

"Mangga sama buah naga, nih." Nada membuka sedikit penutup kotaknya, menunjukkan isinya.

"Hhm... enggak deh. Tapi makasih, ya." Shafa tersenyum. "Gue duluan ya, Nad. Masih ada kerjaan."

Shafa pun keluar dari pantry, berjalan kembali ke meja kerjanya. Nada ikut meninggalkan pantry tak lama kemudian.

 Nada ikut meninggalkan pantry tak lama kemudian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang