Part 30 "Hari Besar"

400 44 16
                                        

Sama halnya dengan suasana di rumah orang tua Rayyan. Saat ini mereka sedang berkumpul di meja makan, menikmati opor dan ketupat buatan Mama Rayyan. Bedanya, keluarga ini sudah sempat ke makam sang kakek tadi pagi, sesaat setelah pulang dari masjid.

"Rekan kerja abang nanti ada yang main ke sini nggak?" tanya Mama Rayyan, sambil menuangkan kuah opor ke piring putranya.

"Enggak ada yang ngabarin sih, Mah. Emangnya kenapa?"

"Kan besok kita kumpul keluarga besar di Puncak. Mama nggak enak aja kalau ada tamu dan rumah kosong."

"Oh iya... yaudah, abang ke rumah Pak Andi hari ini aja deh," jawab Rayyan sambil mengunyah pelan.

"Pak Andi siapa?" sahut Papa Rayyan dengan nada penasaran.

"Direktur Utama PT Sinar Mentari, Pah. Abang mau silaturahmi ke sana... sekalian kenalan sama putrinya."

Refleks, Mama Rayyan menoleh cepat ke arah putranya, ekspresinya penuh tanya. "Kenalan sama putrinya? Maksudnya mau kerja sama?"

"Enggak, Mah. Bukan urusan kerjaan. Mau kenalan secara pribadi. Doain aja, ya. Kalau nanti cocok dan serius, abang kenalin ke Mama sama Papa."

Sejenak, suasana meja makan terasa lebih hening. Mama Rayyan tampak terkejut.

"Lho... bentar.. jadi maksudnya abang mau PDKT sama putri Pak Andi? Bukannya abang deket sama Shafa?"

Rayyan mengangguk pelan, tapi tenang. "Iya, mau coba kenalan. Abang nggak ada hubungan apa-apa kok sama Shafa. Cuma rekan kerja aja. Nggak lebih."

Mama Rayyan mengangguk, meski raut wajahnya belum sepenuhnya hilang dari rasa heran. "Oh... yaudah. Mama kira udah ada arah sama Shafa. Tapi kalau memang belum, ya mama doain yang terbaik buat kamu, Bang."

Rayyan mendengus pelan, berusaha menyembunyikan kekesalannya saat melihat Mentari tampak lebih nyaman mengobrol dengan Om Erwin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rayyan mendengus pelan, berusaha menyembunyikan kekesalannya saat melihat Mentari tampak lebih nyaman mengobrol dengan Om Erwin. Ada sedikit penyesalan menyelinap di benaknya. Untuk apa tadi ia mengajak Omnya ikut silaturahmi ke rumah Pak Andi?

Ia tak menyangka kalau Mentari justru tampak antusias saat berdiskusi dengan Erwin. Padahal usia mereka terpaut dua belas tahun, tapi obrolan mereka terlihat mengalir lancar. Sesekali bahkan terdengar tawa kecil dari Mentari, yang entah kenapa membuat dada Rayyan terasa sesak.

Tamu-tamu di rumah Pak Andi semakin ramai, dan beberapa mulai berpamitan. Rayyan pun merasa waktunya sudah cukup lama di sana. Ia menepuk lengan Om Erwin pelan, memberi kode untuk pulang.

"Kami pamit pulang dulu ya, Tari. Nanti kalau kamu mau diskusi lagi soal proyek yang tadi, boleh chat ke nomor saya," ujar Erwin sambil tersenyum ramah, menjabat tangan Mentari dengan sopan.

"Siap, Kak. Terima kasih banyak ya, udah sharing ilmunya." Mentari membalas dengan senyum lebar, senyum yang entah kenapa terasa terlalu manis di mata Rayyan.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang