NAWASENA
"Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal."
Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesampainya di basement kantor, Shafa dan Rayyan langsung melangkah menuju lift. Rasa canggung masih menyelimuti mereka. Rayyan lebih memilih diam dan pura-pura tidak peduli. Sama halnya dengan Shafa, memilih diam, namun ekspresi wajahnya bisa menjelaskan kalau mood-nya sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu lalu menekan tombol angka 5, lantai tempat kantor mereka berada.
Begitu pintu lift terbuka, Rayyan melangkah lebih dulu. Shafa menunduk, mengikuti dibelakangnya. Pandangannya hanya tertuju pada lantai dan langkah kaki Rayyan.
Entah kenapa, Shafa semakin merasa hari ulang tahunnya kali ini benar-benar buruk. Dari mulai air kran kamar mandinya yang mengalir kecil, hingga harus mendorong si Jhony sejauh dua kilometer untuk mencari bengkel yang buka.
Lebih menyedihkan lagi, tak ada satu pun ucapan selamat dari orang-orang terdekatnya. Tahun-tahun sebelumnya, sahabat-sahabatnya selalu menyiapkan kejutan tepat pukul dua belas malam. Mereka datang ke kos Shafa untuk merayakan hari bertambahnya usia. Tapi tadi malam hingga pagi ini, semuanya sepi. Tak ada pesan, tak ada kejutan, tak ada ucapan atau pun doa untuknya.
Hingga tiba-tiba, suara ledakan confetti membuatnya terlonjak kaget. Lagu yang tadi ia putar di mobil Rayyan kini kembali terdengar, memenuhi setiap sudut ruangan. Cukup berisik, apalagi saat rekan-rekan kerjanya mulai ikut menyanyi, ramai dan penuh semangat.
Shafa meneteskan air matanya, terharu melihat ruang kerjanya dihias dengan balon dan tulisan 'happy birthday', serta ada inisial namanya ditempel di dinding sebelah meja kerjanya.
Nada menyerahkan kue ulang tahun yang ia pegang ke Rayyan. Meminta lelaki itu untuk gantian membawanya. Rayyan menyalakan semua lilin yang ada diatas kue tersebut, lalu berjalan mendekati Shafa.
"Tiup lilin, Sha," ucapnya sembari mendekatkan kue ulang tahun sejajar dengan wajah gadis yang semakin deras air matanya keluar.
Shafa tersenyum sambil menghapus air matanya, lalu meniup lilin-lilin itu. Sorak dan gemuruh tepuk tangan mengiringi momen bahagia itu.
"Waahh, terima kasih yaa," ucap Shafa kepada rekan-rekan kerja yang turut merayakan ulang tahunnya. Satu persatu dari mereka bergantian mengucapkan selamat dan doa untuk Shafa.
"Ya sudah, kita balik kerja dulu yaa, dikejar deadline soalnya. Sekali lagi, selamat bertambah usia dan semakin dewasa ya Shafa," ucap Manager HRD ramah.
"Terima kasih, Bu," jawab Shafa sopan sembari membalas jabatan tangan Manager HRD.
"Semangat kerjanya teman-teman. Nanti kuenya saya antar ke meja masing-masing. Sekali lagi, terima kasih, yaa."
Gadis berkacamata itu masih terbawa haru oleh kejutan yang baru saja ia terima. Padahal sebelumnya, ia sempat mengira ulang tahunnya kali ini akan menjadi yang paling buruk.