Part 8 "Anak Shinta"

1.6K 132 5
                                        

-Author pov-

----- Angkringan Cak Man

Shafa beberapa kali menggosok telapak tangannya, sesekali merapatkan blazernya erat-erat. Gelagatnya yang kedinginan tak luput dari pandangan Rayyan. "Mau pakai jaket?" tawar Rayyan, menyadari bahwa angin malam yang semakin menusuk kulit telah membuat wanita di sebelahnya menggigil.

"Nggak usah, Pak. Emang Bapak bawa jaket?" Shafa menelisik Rayyan, ia tak melihat ada jaket di sekitarnya

"Ada di mobil atau mau pakai selimut?" Rayyan mencoba menawarkan opsi lain. Interaksi akrab mereka tidak luput dari tatapan curiga teman-teman di sekitarnya.

"Pak Rayyan bawa selimut? Boleh pinjam, Pak? Kebetulan saya kedinginan, percuma nawarin teman saya itu, Pak. Sia-sia," Shafa menatap sengit Noora, ia tahu betul Noora sedang menggodanya.

Rayyan bangkit dari duduknya, berjalan tenang menuju tempat parkir mobilnya.

"Ish, maksud lo apa, Noor!" Shafa memukul paha Noora yangg duduk di depannya, tidak terlalu keras.

"Sakit tahu, Sha! Dibantuin tuh bilang makasih, ini malah mukul!" gerutu Noora sambil mengelus paha bekas pukulan Shafa.

"Pantesan, Shafa kalau lagi tantrum di grup WA heboh banget. Emang darderdor si Presdir," Nada ikut menimpali pembahasan Shafa dan Noora.

"Lo suka sama Pak Rayyan, Sha?" Tiba-tiba, pertanyaan Vano meluncur. Ketiga wanita itu refleks menengok ke arah Vano yang baru saja melontarkan pertanyaan itu. Syilla, Inggit, dan Shinta masih asyik membahas masalah rumah tangga, saking asyiknya sampai tidak menyadari "baku hantam" verbal yang sedang terjadi di dekat mereka.

"Udahlah, ngaku saja deh, Shaa... Siapa tahu Vano bisa bantu lo, hahaha. Kan dia sepupunya Pak Rayyan," ucap Nada, sukses membuat Noora dan Shafa membulatkan mata. Fakta apa lagi ini?

"Demi apa? Kok bisa?" Noora masih menatap heran Vano. "Nggak ada mirip-miripnya, lho," sambung Noora, tak percaya.

"Oh, pantesan gue pernah dengar lo manggil Presdir, 'Rayyan Rayyan'. Terus, beberapa kali juga gue dengar kalian ngobrol santai, enggak pakai bahasa formal. Makanya gue kadang suka kelepasan kalau lagi ngobrol sama Presdir. Gue kira orangnya memang bisa diajak bercanda, enggak kaku," ujar Shafa, mengingat kejadian beberapa minggu lalu.

"Tapi emang kan? Santai orangnya mah. Eh, jawab dulu pertanyaan gua. Lo suka—"

"Iya suka, kenapaaa?!" Jawab Shafa, sedikit menaikkan volume suaranya, kesal dengan posisinya saat ini yang terkesan sudah di tepi jurang pengakuan.

"Suka apa, Sha? Sampai teriak-teriak gitu." Shafa langsung membeku mendengar suara Rayyan. Lelaki itu sudah kembali dan berdiri di belakangnya.

"Nih, Noor." Rayyan menyodorkan selimut warna cokelat miliknya pada Noora yang tampak kedinginan.

"Nih, pakai." Shafa mendongak, ternyata Rayyan juga membawakannya jaket.

"Makasih, Pak." Rayyan mengangguk, lalu mendudukkan dirinya di sebelah Shafa.

" Rayyan mengangguk, lalu mendudukkan dirinya di sebelah Shafa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang