NAWASENA
"Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal."
Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
Suara derit pintu terbuka menyambut Shafa yang baru saja tiba di kos. Seketika, ia menghela napas lega, seolah beban hari ini sedikit terangkat. Jemarinya dengan cepat mencari sakelar lampu kamarnya. Aroma khas ruangannya sejenak menenangkan hatinya.
Shafa melangkah santai, menggantungkan totebag-nya di gantungan khusus tas dekat pintu, lalu berjalan menuju meja rias. Di sana, berjejer rapi skincare yang siap menjadi saksi ritual malamnya. Ia meraih micellar water dan kapas bersih yang tersimpan di wadah kristal. Namun, saat tangannya hendak menyentuh wajah, gadis itu mendadak terdiam, pandangannya kosong menatap pantulan dirinya di cermin. Otaknya berputar cepat, mengulang kejadian beberapa jam yang lalu. Ia mengatur napasnya beberapa kali, berusaha menetralkan pikirannya yang sedikit riuh.
"Kenapa bisa ada laki-laki modelan Nanda, sih? Kok bisa ada gitu, lho?!" gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar, lebih mirip desisan frustasi yang tertahan.
Setelah beberapa saat ia bergelut dengan pikirannya, Shafa akhirnya meneruskan ritualnya, membersihkan sisa riasan di wajahnya. Ketika kulitnya terasa sudah bersih dan segar, ia membuka ponselnya, hendak menanyakan kondisi Inggit. Namun ternyata ada pesan masuk dari Rayyan yang sedari tadi belum ia balas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.