Sudah hampir tiga jam Aksa sibuk mencari data klien atau relasi kerja Rayyan yang berdomisili di Surabaya. Tugas itu datang tiba-tiba tanpa penjelasan apa pun dari atasannya. Ia sudah menghubungi beberapa orang, tapi sayangnya, mereka sedang tidak berada di Surabaya.
Dengan napas berat, Aksa menyugar rambutnya menggunakan jemari. Permintaan Rayyan kali ini benar-benar membuatnya frustasi. Entah kenapa, keberuntungan seolah sedang tidak berpihak padanya. Hampir semua klien yang tercatat tinggal di Surabaya telah ia hubungi, dan mereka bilang tidak bisa.
Bagaimana kalau pada akhirnya tidak ada klien yang bisa diajak buka puasa bersama? Apa yang akan ia katakan ke Rayyan? Dan solusi apa yang bisa ia berikan ke atasannya itu?
Merasa otot punggungnya mulai tegang, Aksa menegakkan tubuhnya, menautkan jemarinya, dan menarik tangannya ke atas untuk meregangkan badan. Hanya sebentar, sebelum akhirnya ia kembali bersandar di kursi dengan kedua tangan bersilang di dada.
"Pak Bos lagi ngerencanain apa sih, sebenernya?" gumamnya lirih.
Ia menghela napas pelan, menatap layar laptop yang penuh daftar nama klien.
"Kalo mau ngajak bukber klien, tinggal undang aja ke sini nggak sih? Kenapa harus repot-repot ke Surabaya? Lagian aneh, kenapa harus Surabaya? Biasanya kan yang diundang tuh klien loyal, royal, atau yang kontribusinya gede. Ini malah random banget milihnya, asal domisili di Surabaya."
Baru saja Aksa akan kembali men-scroll data, terdengar langkah sepatu mendekat dari arah ruangan Rayyan. Ia langsung menegakkan badan dan memposisikan diri seolah sedang serius bekerja.
"Gimana, Sa? Udah dapet?" tanya Rayyan sambil mencondongkan badan di depan pintu.
Aksa menggeleng pelan. "Belum, Pak. Rata-rata tempat tinggalnya bukan di Surabaya. Meskipun di data tertulis domisilinya di sana."
"Tolong cariin lagi ya, Sa. Masa dari sekian banyak klien kita nggak ada satu pun yang beneran tinggal di Surabaya?" ucap Rayyan sambil berjalan mendekat.
"Baik, Pak. Nanti saya cari lagi."
"Oke, sip." Rayyan duduk di kursi depan meja kerja Aksa, lalu menatapnya santai. "Kamu hari ini buka puasa apa, Sa?"
Pertanyaan Rayyan membuat Aksa terdiam sejenak. Sejak tadi ia sibuk menghubungi klien sampai tidak sempat memikirkan menu buka puasa hari ini apa.
"Bapak mau apa? Nasi? Mie? Atau gado-gado?" tawarnya sambil mengetik sesuatu di laptop.
"Hm... nasi aja deh. Dua hari ini saya belum makan nasi," jawab Rayyan ringan.
"Mau saya pesenin online, atau kita keluar, Pak?"
"Keluar aja, Sa. Pikiran saya juga lagi sumpek."
"Baik, Pak. Mau sekarang?"
"Enggak, Sa. Tahun depan." Rayyan melirik tajam, ekspresinya datar tapi ujung bibirnya sedikit tertarik. Ia lalu menggeleng pelan.
Aksa terkekeh kecil, tangannya refleks menutup laptop. "Hehe, yaudah, Pak. Ayo berangkat sekarang."
Rayyan berdiri, merapikan lengan kemejanya yang digulung sampai siku. "Akhirnya mikir juga kamu. Udah tau lagi puasa. Kalo berangkat nanti ya alamat penuh semua, nggak dapet tempat kita," ujarnya sambil berjalan lebih dulu menuju pintu.
Aksa hanya bisa nyengir kecil sambil mengikuti langkah atasannya. "Iya, iya, Pak. Siap salah."
Suara derit kursi dan langkah kaki bersahutan di ruang kerja yang mulai sepi. Beberapa karyawan lain sudah keluar lebih dulu untuk mencari takjil. Aksa dan Rayyan berjalan berdampingan melewati lorong kantor yang beraroma khas kopi dan pendingin ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWASENA
FanfictionNAWASENA "Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal." Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
