Part 26 "Dewa-19 • Pupus"

2.7K 263 40
                                        

Rayyan memarkirkan mobilnya perlahan di halaman rumah Pak Andi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rayyan memarkirkan mobilnya perlahan di halaman rumah Pak Andi. Seorang staf keamanan langsung menghampiri dan menawarkan bantuan untuk memarkirkan kendaraan. Suasana terlihat cukup ramai, lampu-lampu taman menyala temaram, dipadu musik lembut yang mengalun dari sudut panggung kecil. Rupanya, cukup banyak tamu yang hadir di acara ulang tahun Pak Andi malam ini.

Setelah mematikan mesin, Rayyan keluar dari mobil, diikuti oleh Shafa yang berjalan di sampingnya. Mereka melangkah masuk ke taman belakang, tempat acara berlangsung.

"Selamat ulang tahun, Pak Andi. Semoga hal-hal baik senantiasa menyertai langkah Bapak," ucap Rayyan sambil menjabat tangan Pak Andi, pria paruh baya yang menjadi pusat perhatian malam ini.

"Selamat ulang tahun, Pak. Doa terbaik untuk Bapak dan keluarga," sambung Shafa dengan senyum sopan.

"Terima kasih sudah menyempatkan datang," balas Pak Andi hangat. "Silakan duduk dan nikmati acaranya, ya."

Seorang pria berseragam batik segera mengarahkan mereka ke meja tamu undangan yang ditandai dengan nama perusahaan Rayyan. Meja itu berada di sisi kanan taman, cukup strategis dengan pandangan yang leluasa ke area utama.

"Sha, itu yang duduk di sebelah Pak Andi... putrinya, ya?" bisik Rayyan sambil sedikit mencondongkan tubuh, matanya masih terpaku pada seorang gadis berambut panjang yang dibiarkan tergerai. Gadis itu mengenakan headband dengan hiasan bunga kecil beraksen mutiara, menambah kesan manis dan anggun.

Shafa mengikuti arah pandang Rayyan, lalu menjawab, "Itu istrinya, Pak."

"Ish, bukan yang itu, Sha. Yang nggak pake hijab."

"Ohh... iya, itu putrinya Pak Andi," jawab Shafa, kini memalingkan pandangannya ke wajah Rayyan, diam-diam mengamati ekspresinya.

Wajah lelaki itu tampak berseri, matanya memancarkan ketertarikan yang tak biasa. Seketika Shafa menunduk, menatap kosong pada meja yang diselimuti kain beludru berwarna emas di depannya. Perasaannya mendadak tak tenang. Tatapan tadi... ada yang berbeda. Ada kilau kekaguman yang belum pernah ia lihat sebelumnya di wajah Rayyan, dan itu bukan untuk dirinya.

Sementara itu, Rayyan masih terpaku menatap gadis di seberang sana. Bibirnya sedikit tertarik membentuk senyum samar saat melihat gadis itu tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan tangan. Ia penasaran, hal apa yang membuat gadis itu tertawa manis seperti itu?

Tanpa Rayyan sadari, Shafa kembali memperhatikannya. Sorot mata Rayyan... senyumannya... semua terekam jelas dalam benaknya, menyisakan ruang yang mendadak terasa sesak.

"Sha, boleh minta tolong?" tanya Rayyan tiba-tiba, usai cukup lama matanya mengikuti gerak gerik putri Pak Andi yang duduk tak jauh dari mereka.

Shafa menoleh, mencoba menjaga ekspresinya tetap netral. "Boleh, minta tolong apa, Pak?"

"Tolong carikan semua informasi tentang gadis itu, ya." Rayyan menunjuk samar ke arah gadis yang sejak tadi mencuri perhatiannya, yang dengan mudah membuat tatapan matanya berbinar.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang