Part 21 "Jogja Istimewa (2)"

1.9K 192 11
                                        

Udara dini hari menyelimuti jalanan dengan kabut tipis. Langit masih gelap, tapi tanda-tanda fajar mulai tampak di ufuk timur. Di atas motor matic yang melaju pelan, Rayyan sesekali menoleh ke belakang, memastikan helm Shafa terpasang dengan benar. Gadis itu duduk tenang di jok belakang, mengenakan jaket tebal dan kerudung polos yang terselip rapi di balik helmnya.

Rayyan menepati janjinya, mengabulkan permintaan Shafa yang ingin ke pantai, tempat yang sudah lama ingin dikunjungi gadis itu. Meski mata masih berat karena kurang tidur, Shafa tidak banyak mengeluh. Ia hanya diam, membiarkan angin pagi menyentuh wajahnya, menyelip di sela-sela hijabnya yang rapi.

Mereka sempat berhenti di mushola kecil di pinggir jalan untuk salat subuh. Suasananya hening, hanya suara lantunan ayat dari speaker masjid besar di kejauhan. Usai menunaikan kewajiban, mereka kembali ke jalanan yang lengang, melanjutkan perjalanan ke arah timur, mengejar matahari yang sebentar lagi terbit.

“Sha…” panggil Rayyan pelan. Tak ada jawaban.

Ia melirik ke kaca spion kiri, lalu sedikit memiringkannya. Di situ terlihat jelas kepala Shafa bersandar lembut di bahu kirinya. Tubuhnya tidak terlalu condong, tapi cukup membuat Rayyan merasa perlu waspada. Lengan Shafa terlipat rapi di pangkuannya sendiri, dan ujung jari kanan gadis itu menyentuh pinggiran jaket Rayyan. Tidak erat, tapi cukup terasa.

“Tidur, ya?” gumamnya lagi.

Melihat Shafa tertidur dalam posisi seperti itu membuat Rayyan sedikit gugup. Bukan karena risih, tapi karena khawatir. Jalanan belum terlalu ramai, tapi tetap saja bahaya.

“Jangan tidur, Sha. Bahaya,” katanya sambil menggoyangkan bahunya pelan, mencoba membangunkan Shafa tanpa mengejutkannya. Tangannya juga menepuk lutut kiri gadis itu dua kali.

Shafa bergeming sejenak, lalu mengerang pelan. Ia membuka mata sedikit, lalu kembali menutupnya. Wajahnya tampak masih setengah sadar, rasa kantuk masih menguasai penuh tubuhnya. Udara pagi yang dingin membuatnya semakin merapatkan matanya.

Beberapa detik kemudian, Shafa benar-benar terbangun. Ia menguap kecil, mencoba duduk lebih tegak sambil menggosok matanya yang masih berat. Ia sempat melirik helm Rayyan dari belakang.

“Maaf, Pak… ketiduran,” ucapnya dengan suara serak khas baru bangun tidur. “Pundaknya pegel nggak, Pak?”

Rayyan terkekeh pelan. “Nggak, aman. Tapi kamu bisa jatuh, Sha. Tau gitu saya sewa mobil aja.”

Shafa tersenyum malu-malu, lalu menepuk-nepuk bahu kiri Rayyan yang tadi menjadi sandarannya. “Maaf, saya pijitin deh, Pak.”

“Nggak usah, Sha. Nggak pegel, kok. Tapi muka bantal kamu lucu banget, tau nggak?” Rayyan kembali melirik arah spion kirinya, lalu tertawa pelan melihat wajah Shafa yang masih bengkak karena tidur.

Shafa refleks menutupi pipinya dengan kedua tangan. “Ih, jangan diliatin, Pak!”

Rayyan tak menjawab. Tapi kali ini, spion kirinya sudah dikembalikan ke posisi semula, tak lagi menghadap ke arah Shafa.

Jalanan mulai ramai. Langit belum sepenuhnya terang, bahkan masih gelap, tapi beberapa manusia sudah mulai beraktivitas.

Beberapa truk besar melintas di sisi mereka, membawa muatan berat yang menimbulkan suara gemuruh.

“Kita mau ke pantai mana sih, Pak?” tanya Shafa, sedikit menaikkan suaranya karena angin dan kebisingan jalan.

“Pantai Krakal,” jawab Rayyan. “Katanya bisa liat sunrise di sana. Nggakpapa kan, kalo liat sunrise?”

“Iyaaa… Mau sunrise atau sunset, asal sama Bapak, saya nggak masalah,” balas Shafa setengah berteriak, tapi masih dengan nada santai.

“Hah? Apa, Sha? Nggak denger, ketutup suara klakson truk barusan!” Rayyan menoleh sedikit.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang