Part 41 "Masihkah Bisa?"

484 52 20
                                        

Entah sudah berapa lama Shafa berjongkok di samping pusara itu. Pipinya dingin, sebagian bahkan lengket karena air mata yang mengering, namun mata sendunya masih saja menitikkan kesedihan yang tak ada habisnya.

"Mas Esa..." panggilnya lirih, suaranya tercekat di kerongkongan. Ia tak tahu sudah berapa kali memanggil nama itu, tapi tak kunjung melanjutkan ucapannya.

Shafa menarik napas panjang, seakan berusaha mengumpulkan serpihan hatinya yang berserakan. Emosi yang sejak tadi bergejolak di dada belum juga reda. Kedua kakinya kebas, kesemutan, membuat tubuhnya terasa berat.

Dengan susah payah ia berdiri, mengusap pelan betisnya, berharap peredaran darahnya kembali normal. Ia kemudian menunduk merapikan taburan bunga mawar di atas makam Mahesa. Jari-jarinya menyibak rumput liar yang tumbuh di sekitar pusara.

​"Kamu nggak kangen aku, kah?" gumamnya, suaranya hampir hilang terbawa angin sore.

​"Jangan-jangan kamu di sana lagi asyik sama bidadari-bidadari, ya?"

​"Kamu nggak mau jemput aku, Mas? Aku juga nggak kalah cantik, kok, sama bidadari-bidadari itu."

Shafa mencoba melukis senyum, tapi dadanya justru semakin perih oleh rasa kehilangan. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sedikit kasar. Kalau saja ada satu hal yang bisa ia paksa pada Tuhan, ia ingin Mahesa kembali, memeluk dan menemaninya menjalani hidup.

Tubuhnya mulai bergetar, isakannya semakin menikam dadanya. Shafa merasa seperti orang yang tersesat di tengah labirin tak berujung. Jalan yang ia lalui seperti buntu, tak tahu lagi harus berbuat apa. Pikirannya selalu dipenuhi bayangan Mahesa. Meskipun akhir-akhir ini ia sibuk dengan tugas-tugas kuliah, tapi jiwanya seperti hilang, hampa.

​"Aku nggak tahu lagi tujuan hidupku apa. Aku kayak hilang arah, Mas. Aku..."

​Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya, air matanya semakin mengalir deras. Semua memori bersama Mahesa kembali berputar, menyiksa sekaligus menenangkan.

​Sudah lebih dari sebulan Mahesa pergi. Namun, Shafa masih belum ikhlas. Ia masih berharap keajaiban datang, mengembalikan Mahesa ke pelukannya, andai saja.

​"Harusnya hari ini kamu yang nemenin aku belanja kebutuhan buat puasa besok. Tega banget kamu biarin aku nyiapin itu semua sendirian," bisiknya dengan suara bergetar.

​Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berucap penuh penekanan.

"Dulu aku bisa apa-apa sendiri. Tapi kamu... kamu bikin aku bergantung sama kamu, Mas. Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Aku lupa gimana caranya berdiri di kaki sendiri. Aku udah coba terlihat ikhlas. Aku udah coba melanjutkan hidup dengan baik. Tapi semua itu palsu. Aku belum bisa. BELUM BIISSAAA, MMAASSS!"

​Tangisnya pecah, semakin keras. Langit pun seakan ikut merasakan kepedihan Shafa. Butiran hujan mulai turun perlahan, lalu deras, membasahi tubuh Shafa yang semakin tenggelam dalam kesedihan. Dinginnya hujan menyelimuti Shafa, membungkusnya dalam kesepian.

​Tapi entah kenapa guyuran air hujan justru bisa menenangkannya. Mungkin ia merasa perasaannya saat ini telah diwakilkan oleh derasnya hujan yang turun, seolah alam semesta ikut menumpahkan air mata bersamanya.

Shafa menarik ujung bibirnya, senyum tipis nan sendu. Ia menatap nisan Mahesa lalu mengusapnya perlahan, meresapi setiap detail nisan yang dingin itu, seakan sedang mengusap kepala Mahesa.

Ia memejamkan mata, membiarkan bayangan Mahesa memenuhi pikirannya. Bayangan itu semakin mendekat, terasa sangat nyata.

Mahesa berjalan perlahan, menyambut uluran tangan Shafa. Gadis itu semakin larut dalam imajinasi yang entah kenapa terasa begitu nyata. Ia seolah bisa merasakan genggaman hangat Mahesa di tangannya dan mendengar bisikan lembutnya.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang