Part 27 "Welcome Kiara!"

2.5K 259 44
                                        

Sejak pukul tiga pagi, hujan mengguyur kota tanpa henti. Deras, tapi tanpa angin. Setidaknya masih aman bagi kendaraan bermotor untuk menerjangnya.

Shafa yang sudah siap berangkat ke kantor sedikit kesusahan memakai jas hujannya. Entahlah, pikirannya masih berisik, jadi sedikit mengganggu konsentrasinya. Ia sempat berpikir untuk mengambil cuti hari ini. Tapi kalau pengajuan jam segini, terlalu mendadak.

Jadi ia memilih tetap berangkat ke kantor. Meskipun kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Ia masih teringat kejadian semalam. Permintaan Rayyan sungguh memenuhi otaknya. Cukup berisik dan riuh.

Sambil menunggu mesin motornya panas, Shafa melamun sebentar. Matanya menerawang, menatap kosong ke arah pagar kos. Suara hujan yang jatuh di atas kanopi jadi latar musik untuk pikirannya yang penuh pertanyaan.

Nanti harus kayak gimana ya, kalau ketemu Rayyan?

Apa Rayyan emang tertarik ya, sama anaknya Pak Andi?

Tapi kalau dilihat-lihat, Rayyan kayaknya emang lagi jatuh cinta, sih.

Masih ada peluang nggak, yaa?

Pikiran itu terus berputar, menggulung seperti ombak yang menyeret perasaannya semakin dalam.

Shafa menarik napas dalam. Kemudian menghembuskannya pelan-pelan. "Udah, nggakpapa, Sha. Nggak semua hal harus sesuai sama keinginan lo," gumamnya pelan. Ia merangkul dirinya sendiri, dengan kedua tangannya menyilang di depan dada. Memberikan tepukan kecil di bahunya sendiri, seolah jadi afirmasi yang ia butuhkan untuk tetap kuat hari ini.

Beberapa detik ia terdiam. Lalu, dengan satu helaan napas, ia memasang helm dan merapikan jas hujannya yang sedikit tertekuk. Langkahnya mantap meski hatinya belum sepenuhnya pulih.

Motor itu mulai melaju keluar dari garasi kecil kosannya, menembus tetesan hujan yang turun cukup deras.

Sesekali ia mengusap kaca helmnya yang dipenuhi air hujan, karena mengganggu pandangannya ke jalanan.

Sementara itu, di seberang jalan depan kos Shafa, terparkir sebuah mobil hitam milik Rayyan. Lelaki itu sengaja datang pagi-pagi, niatnya ingin menjemput Shafa dan berangkat ke kantor bersama. Namun sejak tadi, ia tak bisa menghubungi gadis itu.

Ia melirik ponselnya lagi. Masih belum ada notifikasi masuk. Tanpa pikir panjang, Rayyan membuka pintu mobil, berlari kecil melintasi jalan yang basah, lalu menekan bel di dinding dekat pagar kos.

Tak lama, pintu pagar terbuka perlahan. Seorang gadis berambut hitam keluar, mengenakan jaket berwarna cokelat tua dan tas selempang berbahan kulit. Sepertinya ia juga hendak berangkat ke kantor.

"Cari siapa, Mas?" tanya gadis itu sopan.

"Cari Shafa, Mbak," jawab Rayyan cepat.

"Hm... udah berangkat kayaknya, Mas. Motornya udah nggak ada."

Rayyan mengangguk pelan, menyembunyikan raut kecewanya. "Oh... yaudah. Terima kasih, ya, Mbak. Permisi."

Ia kembali ke mobilnya, menatap layar ponselnya lagi, masih kosong. Belum ada balasan. Apalagi tanda centang biru.

Pikirannya mulai berputar.

Semalam, Shafa terlihat pucat. Tatapannya kosong, dan suaranya... entahlah, Rayyan sedikit bingung menafsirkan ini. Tapi dia yakin... ada yang nggak beres.

Dan sekarang, di tengah hujan deras seperti ini, Shafa malah lebih memilih berangkat ke kantor naik motor sendirian.

Rayyan menyandarkan kepalanya di headrest, lalu menghela napas pelan. Ia mengirim satu pesan lagi ke Shafa. Sebelum akhirnya melajukan mobilnya.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang