-Author pov-
Sembari menunggu agenda selanjutnya, Shafa memainkan gitar mengiringi Nada dan yang lainnya bernyanyi. Noora yang menyadari kedatangan Rayyan, menggeser tubuhnya ke kanan. Memberikan tempat untuk Rayyan duduk di sebelah Shafa.
"Cobain, Sha." Shafa menoleh, lalu melihat dua buah piring di depannya.
Shafa mengernyitkan dahinya, menatap heran makanan di depannya, "Kok ada udang sama kerang, Pak? Perasaan kita enggak ada beli ini deh, Pak," Shafa beralih menatap Rayyan, meminta penjelasan.
"Tadi pas di supermarket, nemu ini di display. Teruuss.. inget kalau kamu suka seafood, jadi saya beli."
Vano tersedak saat mendengar ucapan Rayyan barusan. 7 pasang mata kini menatap heran Rayyan dan Shafa. Sejauh mana hubungan mereka ini? Apakah sudah sejauh itu, sampai Rayyan tahu makanan kesukaan Shafa?
Nada mengambil struk belanjaan di sakunya, mengecek ulang item udang dan oyster. "Kok enggak ada di struk belanjaan ya, Pak?"
Rayyan terdiam membisu, pasalnya ia membeli udang dan oyster diam-diam, saat Shafa dan Nada masih mencari camilan.
Shafa yang peka kalau Rayyan seperti kebingungan mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Nada, langsung meletakkan gitarnya, dan mencoba hidangan yang dibawa Rayyan tadi. "Emm.. Enak, ih, pakek bumbu apa, Pak?"
Rayyan menarik bibirnya tersenyum tipis, memperhatikan gadis di sebelahnya menikmati hidangan buatannya. Padahal tadi ia sempat ragu dengan masakannya, karena ini pertama kalinya laki-laki dengan penuh kharisma ini mengolah kerang tiram.
Rayyan sedikit memiringkan kepalanya, lagi-lagi bola matanya menelisik ekspresi shafa, "Oh ya? Serius, enak? Udangnya pakai bumbu yang kamu bikin tadi, sih. Oyster-nya juga sama, cuma saya tambahin perasan lemon."
"Bapak belum nyobain yaa?? Nih, cobain dulu. Gimana sih, yang masak malah belum nyobain."
Kali ini Shafa hanya menyodorkan sendok berisi kerang tiram ke Rayyan, tidak berniat menyuapi atasannya itu. Padahal Rayyan sudah bersiap menerima suapan dari Shafa.
Vano yang melihat gelagat Rayyan, langsung tertawa terbahak-bahak mengeluarkan suara khasnya.
"Hmm, enak ternyata, Sha. Jago juga ya saya ngolah seafood. Hahaha."
Shafa ikut tertawa, padahal harusnya dia yang memberikan pujian itu untuk Rayyan. Tapi, sepertinya Rayyan lebih bangga pada dirinya yang berhasil mengolah oyster untuk pertama kalinya, dibanding harus menunggu pujian dari orang lain.
Malam semakin larut, memperlihatkan langit yang cukup cerah, dihiasi kerlipan bintang-bintang. Suhu udara pun semakin rendah, meniupkan angin halus ke kulit mereka yang sedang menikmati makanan sambil bergurau. Sesekali Shafa mengeratkan kembali cardigan-nya. Inggit dan Noora juga semakin mengeratkan selimut yang mereka pakai.
Vano mulai sibuk merakit layar proyektor, memasangnya di depan pintu samping villa, dan menghadap ke tempat para staff berkumpul.
Dama membantu Vano mengarahkan posisi yang pas. Sedangkan Naufal mengatur proyektor, menghubungkan ke laptop milik Vano.
Setelah kurang lebih setengah jam mereka menyiapkan peralatan untuk movie time. Akhirnya, puncak agenda pada malam ini di mulai. Vano sebagai pemandu berjalannya acara movie time mulai membuka acara tersebut dengan santai.
"Hallo, teman-teman. Masih semangaatt??" Vano menyapa para staff yang duduk di tikar, menunggu film diputar.
"Masiihhhhh," sorak gembira dan semangat 45 dari semua staff yang tak sabar menonton film terdengar riuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWASENA
FanfictionNAWASENA "Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal." Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
