Aksa masih menunggu di pos satpam. Sebenarnya, ia sempat berniat pulang ke hotel lebih dulu. Jujur saja, badannya terasa pegal-pegal karena beberapa hari ini hidupnya penuh gedibag-gedibug. Tapi ketakutan membuatnya menahan diri. Ia takut kalau Shafa melaporkan tindakannya ke Rayyan.
Meskipun ia sudah menyiapkan jawaban untuk membela diri. Namun tetap saja, pikirannya tidak tenang dan akhirnya ia memilih menunggu. Lebih baik ia pulang ke hotel bersama atasannya itu. Daripada harus menunggu di hotel dengan perasaan was-was.
Sudah hampir tiga puluh menit ia duduk di sana, belum juga terlihat sosok Rayyan dan Shafa keluar dari rumah sakit.
Masa mereka udah pulang duluan? Nggak mungkin. Mobil Pak Bos belum lewat. -pikir Aksa
"Nah, keluar juga," gumam Aksa begitu melihat Rayyan dan Shafa berjalan berdampingan menuju tempat parkir.
Ia segera berlari menghampiri mereka.
"Lho, belum pulang kamu, Sa?" tanya Rayyan begitu Aksa muncul di depan mereka.
Aksa mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan, lalu menggeleng pelan.
"Yaudah, ayo pulang. Motornya tinggal disini aja, besok pagi diambil. Kamu kayaknya juga udah kelihatan capek," ucap Rayyan.
Aksa terdiam. Sepertinya Shafa belum menceritakan kejadian tadi ke Rayyan. Syukurlah. Tapi tatapan sinis dari perempuan itu cukup membuatnya kembali gelisah.
"Kamu duduk dibelakang aja ya, Sha. Biar bisa istirahat," saran Rayyan sambil membuka pintu mobil.
Shafa menurut. Ia masuk mobil, lalu menyandarkan tubuhnya, mencoba rileks. Tapi ketika melihat Rayyan yang duduk di balik kemudi, dahinya langsung berkerut.
"Lho, bapak yang nyetir?" tanyanya heran.
"Iya. Kamu tiduran aja, Sha. Saya bawa mobilnya pelan-pelan kok. Aman."
"Bapak kan lagi sakit. Kenapa nggak Aksa aja yang nyetir? Tangan bapak kan luka juga," protes Shafa sambil menatap lengan kiri Rayyan.
"Biar saya yang nyetir, Pak," sela Aksa cepat-cepat sambil melepas seatbelt-nya.
"Nggak usah. Kamu istirahat aja, Sa," tolak Rayyan, lalu melajukan mobilnya.
Shafa menghela napas, menatap Aksa tajam dari balik sandaran kursi. Dalam hati, ia kesal. Apa gunanya Aksa jadi personal asisten kalau Rayyan tetap harus melakukan semuanya sendiri? Ya, meski dulu waktu ia jadi personal asisten Rayyan, lelaki itu juga melakukan hal yang sama, tapi ini kan beda. Harusnya Aksa lebih memahami kondisi atasannya itu.
Sebenarnya, Aksa pun juga tak enak hati membiarkan atasannya itu menyetir dengan kondisi tangannya terluka. Tapi apa boleh buat? Atasannya itu kepalang sudah trauma dengan cara Aksa mengendarai mobil. Jadi, ya sudah, nikmati saja.
Mobil melaju perlahan keluar dari area rumah sakit. Lampu-lampu jalan yang berbaris di sepanjang trotoar memantul di kaca depan, membuat suasana dalam mobil tampak redup dan tenang, tapi hanya dari luar.
Di dalamnya, udara terasa padat. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Hanya suara mesin dan deru angin malam yang sesekali terdengar menembus celah jendela.
Shafa melirik dari kursi belakang. Ia memperhatikan cara Rayyan menekan gas dan mengendalikan setir, lalu kembali menatap Aksa yang duduk diam.
Suasana canggung itu terasa menusuk.
Aksa yang sejak tadi menunduk, berusaha tidak membuat gerakan yang bisa memancing obrolan. Ia tahu, dari pantulan kaca spion, tatapan Shafa tidak lepas dari dirinya. Begitu sinis dan mengintimidasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWASENA
FanficNAWASENA "Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal." Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
