Part 29 "Hari Raya"

337 37 16
                                        

Hari terakhir puasa di bulan Ramadan tahun ini. Papa Shafa memilih mengisi waktu luangnya dengan menyirami tanaman di kebun belakang rumah. Sore ini, cuaca cukup bersahabat. Langit tampak cerah dan angin berembus pelan. Sepertinya tak ada tanda-tanda hujan akan turun.

Ditemani si kecil Enzo yang sibuk berlari ke sana ke mari, tertawa riang sambil bermain tanah.

"Kuung, nanah," ujar Enzo sambil menunjuk gumpalan tanah di tangannya.

"Ta-nah," koreksi Papa Shafa lembut, sambil tersenyum melihat usaha cucunya mengucap kata.

"Iiihh, kothoor..." Enzo meringis geli, lalu mengibas-ngibaskan tangannya yang kotor oleh tanah.

"Nggakpapa, nanti cuci tangan pakai air, bersih lagi, Nang," ujar Papa Shafa sabar. Ia mengambil teko air dan menyiramkan sedikit ke tangan mungil Enzo, lalu mengelapnya perlahan. "Sini, Yangkung bantu bersihin."

"Daah, bersih," ucap Papa Shafa sambil tersenyum puas.

"Maaciiih, Kung," balas Enzo dengan semangat.

"Ya, sama-sama..." Papa Shafa hendak menaruh kembali teko, tapi tiba-tiba...

"Laahh! Kok main tanah lagi!!" serunya begitu melihat Enzo sudah lari dan kembali menimbun tanah dengan kedua tangannya yang baru saja dibersihkan.

"Hadeeh..." Papa Shafa menggeleng pasrah. Tapi senyumnya tidak hilang. "Yaudah lah, puas-puasin dulu sana. Besok lebaran, nggak ada main tanah ya."

Sambil terus menyiram tanaman, pandangannya tak lepas dari Enzo yang terus berlarian bebas, ceria, dan penuh semangat.

Sementara itu di dapur, Shafa, Ina, dan Mama Shafa tengah sibuk membuat kue kering untuk mengisi toples di ruang tamu. Sudah hampir seharian mereka berkutat dengan adonan, mengaduk, mencetak, memanggang, dan menata. Kini, adonan terakhir siap dicetak. Shafa dengan tekun membentuknya jadi bulan sabit, sementara Ina mengeluarkan loyang terakhir dari dalam oven. Mama Shafa bertugas menata kue yang sudah dingin ke dalam toples-toples kaca.

"Jadi banyak banget, yaa. Ini toplesnya kurang," keluh Mama Shafa sambil menumpuk beberapa kue yang belum sempat diberi tempat.

"Taruh di box plastik yang agak gede dulu, Mah. Nanti kalau di toples habis tinggal refill," saran Ina sambil meletakkan loyang di atas rak pendingin.

"Okee, Mama cari dulu ya."

"Ya Allah... capek banget," keluh Shafa, merenggangkan tangan dan memutar bahu. "Kayaknya kita salah hitung deh, Kak."

"Hehe, iya ya. Banyak banget jadinya," balas Ina ikut meregangkan otot punggungnya sambil tertawa kecil.

Ina lalu melirik Shafa dengan senyum menggoda. "Ini kalau mau dikasih ke calon suami, boleh loh, Dek~"

"Apa sih, Kak..." Shafa langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk menyusun cetakan lagi. "Orang belum resmi juga."

"Hahaha, belum tuh, yaa... Berarti ada kemungkinan dong?" Ina menaikkan alisnya dengan ekspresi tengil khasnya, membuat Shafa hanya bisa menunduk malu sambil menghela napas panjang.

"Yaa... kan kita nggak tahu, ke depannya bakal kayak gimana," ucap Shafa pelan. Ia berhenti mencetak adonan sejenak, lalu melirik Ina. "Oh iya, kemarin aku ngobrol tuh sama Mas Esa. Bahas soal hidup dia, tujuan dia... Nah, Kak Ina pernah ngerasa kesepian nggak sih, selama nikah sama Mas Eja?"

Ina menoleh, menatap Shafa dengan lembut. Senyum tipis tersungging di bibirnya. "Emangnya Esa bilang apa, sampai kamu kepikiran kayak gitu?"

Shafa menarik napas perlahan. "Katanya... aku nanti bukan prioritas utama dia. Karena hidupnya sepenuhnya untuk negara ini. Aku ngerti sih, Kak. Nggak masalah juga sebenarnya. Tapi... kepikiran aja. Nanti kalau beneran sama dia, hidup aku bakal sesepi apa ya?"

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang