Suasana kantor siang ini cukup tenang. Sebagian besar staf tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Begitu juga dengan Shafa, yang berdiri di depan lift sambil mengecek ulang dokumen yang sejak tadi digenggamnya.
"Berkas-berkasnya udah semua, kan, Sa?" tanyanya, menoleh pada lelaki di sebelahnya.
Aksa, PA baru yang sudah hampir sebulan menggantikan posisi Shafa, mengangguk cepat sambil mengacungkan jempol. "Iya, Mbak. Aman."
"Pak Rayyan udah di lokasi, Mbak?"
Sebelum Shafa menjawab, pintu lift terbuka dengan bunyi denting pelan. Mereka melangkah masuk bersamaan, bergabung dengan dua karyawan lain yang sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Iya, tadi sempat ngabarin. Katanya udah sampai di Hadya Resto," jawab Shafa sambil menekan tombol lantai dasar.
Aksa bersandar santai di dinding lift, senyum tipis muncul di wajahnya. "Pak Rayyan kayaknya lupa deh, kalau hari ini Mbak Shafa last day."
Shafa menoleh sebentar, lalu kembali menatap angka di layar lift yang turun pelan. "Nggakpapa. Mungkin lagi banyak yang dipikirin."
"Enggak, maksudku... kemarin-kemarin semua urusan dilempar ke aku. Tapi hari ini, kok tiba-tiba balik lagi ke Mbak."
Shafa mengangkat alis, lalu tertawa kecil. "Nggak ada yang bisa nebak isi kepalanya presdir, Sa."
Aksa mengangguk, sepakat. "Iya juga, sih."
Lift berhenti di lantai dasar. Begitu pintu terbuka, mereka berjalan keluar dan menyusuri lorong menuju parkiran motor di sisi belakang gedung.
Aksa menghampiri motor matic abu-abu miliknya. Ia membuka bagasi dan mengeluarkan helm tambahan.
"Nih, helmnya, Mbak."
"Thanks, Sa."
Setelah Shafa memakainya dan memastikan semua dokumen sudah aman di ransel Aksa, mereka pun berangkat. Jalanan cukup lengang, jadi perjalanan berjalan lancar.
Hadya Resto berada di kawasan perkantoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor. Restoran bergaya modern itu punya interior yang bersih dan rapi, dengan nuansa profesional yang terasa dari pemilihan warna netral dan tata letaknya yang simpel. Saat mereka tiba, suasananya cukup tenang. Beberapa meja terisi, tapi tidak terlalu ramai.
Seorang pelayan menghampiri, lalu mengecek daftar reservasi sebelum mengarahkan mereka ke meja atas nama Sanjaya Group. Shafa dan Aksa mengikuti pelayan melewati beberapa meja, lalu duduk di kursi yang telah disiapkan.
Ternyata klien yang mereka tunggu masih dalam perjalanan, terjebak macet di tengah kota.
Beberapa menit kemudian, Rayyan datang dari toilet. Ia langsung duduk di sisi kanan meja dan membuka tabletnya, tanpa banyak basa-basi.
"Sudah bikin berita acara serah terima jabatannya, kan, Sha?" tanya Rayyan tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya.
"Sudah, Pak. Aman." Shafa menjawab singkat. Nada suaranya tenang, seperti biasa.
Rayyan mengangguk kecil tanpa melihat. "Oke. Makasih, Sha. Nanti malam jadi farewell party?"
Shafa terdiam sejenak. Ia sempat mengira Rayyan benar-benar lupa kalau hari ini hari terakhirnya sebagai asisten pribadi lelaki itu. Tapi nyatanya, Rayyan ingat.
"Jadi, Pak. Di Vashe Resto, ya. Harus ikut," ucapnya akhirnya, terdengar sedikit memaksa.
Rayyan baru mengangkat wajahnya. Ada senyum di bibirnya, tapi sorot matanya tetap datar. "Iya iya, tenang aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWASENA
FanfictionNAWASENA "Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal." Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
