Jika beberapa kali terakhir Shafa datang ke Jakarta untuk merayakan momen bahagia, kali ini pun sebenarnya sama. Ia berkunjung lagi ke Jakarta untuk menjenguk buah hati Syilla dan Damaresh. Namun, siapa sangka momen bahagia itu harus diselimuti kabar sedih.
Sesampainya di rumah sakit, langkah kakinya kian cepat menyusuri koridor rumah sakit. Detak jantungnya semakin terpompa. Seakan ingin segera merengkuh seseorang dan menguatkannya.
Lorong rumah sakit malam ini penuh dengan wajah-wajah panik. Di ruang tunggu khusus, orang-orang duduk berdesakan, sebagian menangis histeris, sebagian hanya menatap kosong layar televisi yang menayangkan breaking news tentang kecelakaan pesawat di bandara.
Noora duduk di salah satu sudut ruangan, tubuhnya gemetar. Kedua tangannya menggenggam ponsel erat-erat, layarnya retak karena sempat terjatuh saat ia berlari masuk tadi. Matanya bengkak, wajahnya pucat pasi. Setiap kali ada suara langkah perawat keluar-masuk, ia langsung menoleh, berharap-harap cemas sekaligus takut mendengar kabar.
Pintu ruang tunggu terbuka. Shafa datang dengan langkah terburu-buru, kerudungnya sedikit miring, napasnya tersengal karena berlari dari parkiran. Pandangannya langsung menyapu ruangan sampai menemukan Noora.
"Noora..." suara Shafa tercekat begitu menghampiri.
Noora mendongak, lalu tanpa pikir panjang langsung bangkit dan memeluk Shafa sekuat tenaga. Tubuhnya bergetar, tangisnya pecah di bahu sahabatnya.
"Sha... gue takut banget. Gue nggak siap, Sha..." suara Noora nyaris putus-putus, terisak dalam.
Shafa mengelus punggungnya lembut, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. "Ssst... tenang dulu, Raa. Kita masih nunggu kabar resmi. Jangan dulu mikir yang nggak-nggak."
"Tapi berita di TV..." suara Noora terhenti, tenggorokannya tercekat. Ia menoleh ke layar televisi di pojok ruangan, yang masih menayangkan gambar pesawat hancur di landasan dan tim SAR berlarian.
Shafa cepat-cepat menutup pandangan Noora dengan tangannya. "Jangan lihat dulu. Fokus sama doa, ya. Kita doain Bang Naufal selamat." Suaranya pelan tapi tegas, meski hatinya sendiri remuk mendengar berita yang sama.
Noora hanya bisa mengangguk, air matanya terus mengalir. Ia kembali terisak di pelukan Shafa, sementara Shafa berusaha tetap tegak, demi menjadi sandaran sahabatnya.
Di luar, sirene ambulan kembali meraung, menambah tebal suasana duka di rumah sakit malam itu.
Shafa masih memeluk Noora ketika seorang perawat keluar dari ruang IGD, menyebutkan nama-nama korban yang baru saja berhasil dievakuasi. Semua kepala serentak menoleh. Jantung orang-orang di ruang tunggu itu seakan berhenti berdetak setiap kali satu nama dipanggil.
Di sisi lain ruangan, keluarga besar Rayyan sudah berkumpul. Mama Erwin, alias Oma Rayyan, duduk lemas dengan mata merah sembap, dikelilingi anak cucunya. Rayyan juga terlihat di sana, berdiri kaku di samping papanya, wajahnya tegang dan pucat. Ia menggenggam tangan mamanya erat-erat, berusaha menahan emosi meski matanya jelas berkaca-kaca. Sesekali pandangannya melayang ke arah pintu IGD, penuh harap sekaligus takut.
Tak jauh dari mereka, keluarga Mentari juga sudah datang. Papanya berulang kali mondar-mandir di lorong dengan wajah gelisah, sementara Mamanya hanya bisa duduk sambil menutup wajah dengan kerudung, bahunya berguncang menahan tangis. Kakak laki-laki Mentari berdiri di sampingnya, sesekali mencoba menenangkan, tapi matanya sendiri juga sembab.
Suasana di ruang tunggu makin berat. Tangisan pecah di beberapa sudut ketika ada kabar pasien yang dinyatakan meninggal. Sementara itu, sebagian keluarga masih menunggu nama yang tak kunjung disebut.
Shafa menatap sekeliling, perih melihat banyaknya hati yang teriris di ruangan itu. Ia menunduk, lalu meremas tangan Noora lebih erat. Dalam hati, ia melafalkan doa, berharap ada keajaiban untuk para penumpang pesawat.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWASENA
FanfictionNAWASENA "Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal." Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
