Part 16 "Kopi Shafa"

1.8K 145 4
                                        

-Author pov-

Malam itu benar-benar terasa hangat. Tidak lagi kaku seperti acara formal sebelumnya, after party ini jadi ruang lepas bagi semua yang hadir untuk bersenang-senang. Ruangan yang sebelumnya tertata rapi kini berubah menjadi lebih santai. Meja-meja didorong ke pinggir, lampu-lampu redup menyala temaram, berpadu dengan gemerlap lampu gantung yang menari di atas kepala.

Di tengah keramaian itu, Rayyan dan Shafa berdiri berhadapan. Suara Noora masih mengalun merdu dari atas panggung, membawakan lagu bertempo lembut yang membuat suasana makin syahdu.

Sudah lagu kedua yang Noora bawakan, permintaan dari mempelai wanita semua. Harusnya Noora menyanyi saat acara resepsi tadi. Namun Shafa minta tukar, supaya bisa full menemani Rayyan selama after party. Yaa, sepertinya sudah lama juga gadis ini nggak modus ke atasannya.

"Sha, tangan saya nganggur."

Rayyan mengangkat telapak tangan kanannya, menggantung di hadapan Shafa. Gadis itu melirik ke arahnya, sedikit bingung.

"Teruss?" tanyanya, meski sudut bibirnya sudah menahan senyum.

"Mau dansa sama saya nggak? Gabung sama yang lain disana."

Shafa sempat terdiam sebentar. Wajahnya menoleh ke arah area tengah ruangan di mana beberapa tamu mulai berdansa dengan santai. Tatapannya kembali ke Rayyan. Wajahnya memerah, pipinya memanas. Jantungnya pun ikut berdentum lebih cepat dari biasanya.

Dengan malu-malu, Shafa mengangguk. Ia meletakkan tangan kirinya di telapak tangan Rayyan. "Tentu... kan hari ini bapak partner kondangan saya," ucapnya.

Mereka berdua mulai bergerak perlahan mengikuti irama lagu. Gerakan Shafa masih canggung, tapi Rayyan tak mempermasalahkannya. Ia terlihat tenang, mengikuti setiap alunan nada yang menggema dari panggung. Dalam balutan suasana hangat dan penuh suka cita, mereka larut dalam momen yang seolah hanya milik berdua.

"Aw."

Shafa tersentak kaget.

"Maaf ya, Pak. Kayaknya saya nginjak sepatu Bapak lagi.." ia terlihat sedikit panik dan canggung.

"Udahan aja kali, ya? Gerakan saya kaku banget, mana dari tadi nginjak kaki Bapak terus."

Rayyan hanya tersenyum. Tatapannya lembut, menelusuri wajah Shafa yang kini dipenuhi rasa bersalah.

Ia melepaskan tautan jemarinya, namun tangan kanannya masih bertahan di pinggang gadis itu, menahan agar Shafa tidak buru-buru menjauh. "Yaudah, kita duduk lagi aja."

Saat mereka berjalan melewati area tengah ruangan, mereka melewati sepasang kekasih yang masih larut menikmati alunan musik.

"Duuh, nempel teruuss kek perangko," ucap Rayyan saat melewati Vano dan Nada yang masih asyik berdansa.

Vano terkekeh, "Demi tiket konser dewa, bro, hahaha."

Shafa langsung menoleh, heran. 

"Loh? Kok bisa tiba-tiba ada tiket konser segala?" Shafa menatap curiga ke pasangan di depannya ini. Kenapa tiba-tiba jadi ada tiket konser? Dalam rangka apa?

"Syilla tadi bilang mau kasih hadiah buat pemenang nominasi di acara pernikahannya ini," jelas Nada.

Shafa mendengus kecil, sedikit kesal. "Kok gue nggak tau?!"

"Tadi lo sibuk membucin sih," Nada menimpali dengan nada menggoda. "Salah siapa diajak briefing nggak mau. Malah ngilang bareng Pak Bos."

Shafa mendelik, lalu memasang ekspresi kesal karena mendengar ucapan sahabatnya itu.

"Emang apa aja nominasinya, Nad?" tanya Rayyan penasaran.

Nada mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Aduuh, lupa. Tadi tuh apa aja ya, Yang?"

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang