Part 13 "Akhir dari apa?"

1.6K 140 11
                                        

-Author pov-

Minggu kedua di bulan Januari. Setelah liburan tahun baru di villa milik Vano. Inggit dan Nanda masih berhubungan dengan baik. Nanda juga masih sering mengantar atau bahkan menjemput Inggit kerja. Perhatian yang Nanda berikan masih sama, tidak ada yang berubah. Mungkin karena kondisi Shinta akhir-akhir ini juga stabil, jadi Nanda bisa lebih leluasa fokus menghabiskan waktu dengan Inggit.

Suasana kantor pagi ini cukup tenang, hening, bahkan suara ketikan keyboard pun belum terdengar. Nada menepuk pundak Shafa yang sedang bersenandung sambil mengaduk kopi di pantry.

"Sha, masalah Inggit gimana ya?" Nada sedikit berbisik, membuat Shafa menoleh.

"Mungkin dia mau nunggu Nanda ngaku sendiri, Nad."

Shafa bergeser dari posisinya, mendudukkan dirinya di kursi sebelah kulkas. Lalu gadis itu menyeruput kopi instan yang baru saja ia buat.

Nada berbalik, bersandar pada wastafel pantry. Gadis itu beberapa kali menghembuskan napasnya sedikit gelisah, ia khawatir dengan keadaan Inggit. Sebenarnya jika dilihat dari luar, Inggit terlihat baik-baik saja. Justru karena tampak baik-baik saja, jadi membuat Nada khawatir. Apa yang sebenarnya gadis itu rasakan? Apakah dia benar baik-baik saja?

"Kalo gue tanya ke Inggit, gue terlalu ikut campur nggak ya, Sha? Soalnya kemarin pas di villa, dia kan minta dianterin ke rumah Nanda. Gue larang, nunggu dia tenang dulu. Tapi sampai sekarang, dia enggak ada bahas masalah itu lagi. Malah tiap hari dianter jemput tuh, kayak enggak terjadi apa-apa,"

Shafa menatap Nada sebentar, lalu menunduk, memikirkan ucapan Nada. Saran apa yang bisa ia berikan untuk sahabatnya. Gadis itu berusaha untuk netral disini. Ia mencoba memposisikan diri sebagai Inggit dan Nada. Kemarin saat di villa, mereka tidak banyak membahas masalah Inggit dan Nanda. Setelah kejadian di kamar itu, Syilla dan Nada ikut bergabung bersama teman-teman yang lain untuk memeriahkan acara gathering. Sedangkan Inggit memilih untuk beristirahat di kamar sendirian.

Sebagai sahabat, sebisa mungkin mereka menyalurkan kekuatan untuk Inggit yang sedang merasa terpuruk. Karena Inggit sempat berpikir, apa yang salah dari dirinya? Kenapa ini semua bisa terjadi? Dan kenapa harus Nanda? Saat itu, Nada dan Shafa berusaha menjelaskan, menurut yang mereka tahu, kalau hal itu terjadi karena ketidak sengajaan. Jadi tidak ada faktor kesalahan Inggit disini.

Namun saat ini, Inggit seperti enggan melepas Nanda, mungkin karena 3 tahun bukan waktu yang sebentar. Lebih banyak kenangan indah yang telah mereka lalui dibanding cerita pahit yang bisa dihitung jari.

Nanda memang tidak pernah membahas perihal pernikahan. Namun, lelaki itu menjanjikan akhir bahagia untuk Inggit. Nanda selalu meyakinkan Inggit, bahwa ia akan memastikan jika sampai akhir, Inggit lah pemenangnya.

Namun kini, pernyataan Nanda sedikit menggoyahkan Inggit. Katakanlah, memang Inggit pemenangnya sampai akhir. Tapi akhir yang mana?

Kedatangan Vano membuyarkan lamunan Inggit. Gadis itu mengusap air mata di pipinya, akhir-akhir ini ia jadi sering melamun. Memikirkan bagaimana cara membahas masalah tentang Shinta dengan Nanda. Inggit sadar, ia terlalu mengulur waktu. Namun, ia juga belum siap menghadapi kenyataan, jika nanti Nanda lebih memilih Shinta.

Vano berdeham, "Bahan meeting buat besok udah jadi, Nggit?"

Vano mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerja Inggit. Kalau boleh jujur, lelaki itu sedikit kesal karena personal assistant-nya sekarang jadi kurang fokus saat bekerja. Vano tahu, gadis di hadapannya saat ini sedang ada masalah dengan kekasihnya. Namun, gadis itu jadi kurang fokus saat bekerja. Memang masih aman terkendali, karena pekerjaannya juga selesai. Tapi yang harusnya bisa dikerjakan sehari, jadi 2-3 hari baru selesai. Jadi tidak efisiensi waktu.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang