Part 23 "Undangan Bukber"

2K 199 18
                                        

Syilla membuka pintu rumahnya perlahan. Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju pada suaminya yang duduk santai di sofa, matanya terpaku pada televisi yang menampilkan acara tak begitu menarik. Dengan langkah hati-hati, Syilla mendekat sambil membawa plastik berisi martabak.

"Abang udah makan? Aku beli martabak Bangka, kesukaan Abang," ucapnya pelan, mencoba mencairkan suasana. Ia lalu duduk di sebelah Dama.

"Makasih. Taruh aja di meja," jawab Dama singkat, tanpa menoleh, tanpa senyum.

Syilla menarik napas, mencoba menelan rasa kesalnya. Ia masih menyimpan amarah atas sikap suaminya beberapa hari terakhir, tapi ia memilih untuk bersabar malam ini. Harus ada yang memulai untuk menyelesaikan persoalan ini.

"Bang, boleh nggak kita ngobrol sebentar?" tanyanya hati-hati.

Kali ini Dama menoleh. Tatapannya datar, tapi cukup memberi ruang. "Boleh. Mau ngobrol apa?"

"Oke. Aku nggak bisa basa-basi. Jadi langsung ke intinya aja, ya." Syilla menatap mata suaminya. "Abang mau sampai kapan terus cuek kayak gini?"

Dama mengernyit, "Mana ada abang cuek." jawabnya, suaranya tetap tenang namun jelas mengandung nada defensif.

"Abang sadar nggak sih... komunikasi kita sekarang jelek banget?" lanjut Syilla, nada suaranya mulai berat, tapi ia berusaha tetap tenang.

"Coba kamu jelasin. Di mana letak salahnya? Biar abang tahu."

Syilla menarik napas panjang. Ia sudah menyusun banyak hal di pikirannya. Malam ini, ia ingin bicara, bukan meluapkan emosi, tapi menjelaskan. Menguraikan benang kusut supaya bisa sedikit terurai.

"Oke, ini nggak detail ya, tapi intinya, aku ngerasa abang nggak menganggap aku ada di sini." Ia menatap wajah suaminya lekat-lekat. Saat Dama hendak menyela, Syilla langsung mengangkat tangan. "Tunggu. Jangan dipotong dulu."

"Pertama, abang nggak ngajak aku ngobrol sama sekali, berhari-hari. Sekadar nanya 'udah makan belum?' atau 'abang laper, nih', itu pun enggak. Padahal dulu abang selalu bilang kalau lagi laper, atau ngajakin makan bareng. Sekarang? Sunyi."

Ia jeda sejenak, menahan gejolak di dadanya agar tetap terkontrol. Ini bukan tentang marah-marah. Ini tentang menyuarakan perasaan yang sudah terlalu lama disimpan.

"Abang udah boleh ngomong belum?" tanya Dama pelan, suaranya nyaris seperti bisikan di tengah keheningan.

Syilla mengangguk tanpa berkata apa-apa, memberikan izin untuk suaminya menyampaikan isi hati.

"Maaf ya... kalau menurut kamu abang kelihatan cuek dan kurang perhatian. Abang nggak ada niat buat nyakitin atau ngejauhin kamu. Mungkin karena abang dari dulu udah terbiasa ngurus semuanya sendiri. Jadi pas lapar, ya abang tinggal masak atau pesan online. Abang pikir kamu juga biasa kayak gitu. Abang tau kamu kerja, pasti capek. Makanya abang coba buat nggak jadi beban buat kamu."

Syilla langsung menghela napas panjang, merasa jengkel sekaligus sedih.

"What?! Kita udah nikah, lho, Bang," ujarnya tajam, matanya mulai memerah. "Selama dua bulan ini, aku dianggap apa? Kalau abang masih merasa sendiri, buat apa kita nikah?"

Ia menggelengkan kepala perlahan, masih sulit mencerna secara logika yang barusan dilontarkan lelaki yang duduk di depannya itu. Kata-kata seperti "nggak mau jadi beban" terdengar begitu asing, begitu jauh dari konsep pernikahan yang ia yakini.

"Ternyata aku yang terlalu percaya diri, merasa yang paling mengenal kamu. Tapi ternyata aku salah," gumamnya lirih, sebelum akhirnya menatap mata suaminya dalam-dalam. "Sekarang aku mau tanya... menurut abang, pernikahan itu apa?"

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang