Setelah seluruh rangkaian acara mulai dari buka puasa bersama, sholat Maghrib, Isya', hingga tarawih berjamaah berakhir dengan penuh kehangatan, satu per satu tamu undangan mulai berpamitan pulang. Jalanan depan rumah Rayyan pun kembali senyap, hanya menyisakan temaram lampu teras yang perlahan meredup, seperti turut mengantarkan malam yang kian larut.
Di dalam mobil, Shafa duduk di kursi penumpang. Matanya mulai terasa berat, kelopak yang mengatup pelan menandakan kantuk yang mulai menggoda. Cahaya lampu jalan sesekali menyapu wajahnya, menyorot bayang samar kantung mata dan pipi bulatnya. Hening. Hanya suara mesin mobil yang menderu pelan, bersanding dengan desau angin malam yang menyelinap dari celah kaca jendela.
"Kalo capek, tidur aja. Nanti Abang bangunin," ucap Rayyan, suaranya lembut tapi cukup untuk memecah sunyi.
Kalimat itu menyentak kesadaran Shafa. Seolah ada petir kecil yang menyambar langit-langit dadanya. Matanya langsung terbuka, dan ia refleks menoleh. Dahinya berkerut pelan. "Apa, Pak?"
"Tidur," ulang Rayyan singkat, masih fokus pada jalan.
"Bukan... bukan itu." Suaranya mengecil tapi tegas, seperti ingin memastikan dirinya tidak salah dengar. "Ulangin yang tadi... yang lengkap."
Rayyan sempat menoleh sekilas. Senyum samar muncul di sudut bibirnya. "Kamu mau denger yang mana? 'Abang'?" tanyanya, sengaja menekankan kata terakhir.
Wajah Shafa seketika memerah. Matanya membulat, bibirnya mengatup erat. Namun pipi chubby-nya sudah lebih jujur, naik perlahan, menahan tawa malu yang nyaris meledak.
Rayyan menahan tawa melihat ekspresi itu. "Tadi kamu juga manggil 'Abang' terus, pas ngobrol sama Mamah. Masa giliran saya ngomong gitu, kamu kaget?"
Shafa mendecak pelan, mencoba bersikap biasa saja. "Ha? Oh... emang boleh?"
"Boleh lah," jawab Rayyan santai. "Jadi berasa punya adik cewek."
Adik cewek? Ulangnya dalam hati. Kenapa harus itu sih?
Senyum yang semula merekah perlahan memudar. Tatapannya beralih ke jalanan aspal di depannya, menyembunyikan semburat kecewa yang datang terlalu cepat.
"Tapi saya seneng, lho," ujar Rayyan, suaranya tulus namun terdengar terlalu ringan di telinga Shafa. "Mamah sama Papah juga suka sama kamu. Jadi makin berasa aja kayak punya adik."
Kayak punya adik, lagi-lagi kata itu.
Shafa mengangguk pelan, mencoba menanggapi dengan senyum tipis yang tidak sepenuhnya sampai ke matanya.
"Hhmm... hahah... iya, adek," gumamnya. Tawa kecil itu terdengar hambar. Otaknya sibuk menyusun respon yang netral, sementara hatinya diam-diam membereskan sisa ekspektasi yang sempat tumbuh liar.
Lalu, tiba-tiba Rayyan kembali bersuara, kali ini dengan nada yang lebih dalam. "Dulu waktu saya umur tujuh tahun, saya hampir punya adik... Tapi Mamah keguguran."
"Oh..." jawab Shafa singkat.
Tak tahu harus merespon sepeti apa.
Seketika udara di dalam mobil berubah. Sunyi, serta tidak nyaman.
Rayyan melirik sekilas ke arah Shafa, lalu membuka suara lagi.
"Kamu kok... kayaknya nggak seneng, Sha, jadi adik saya?"
Shafa tertawa kecil, cepat-cepat menyembunyikan getir yang mulai naik ke tenggorokan. "Hahaha... gimana ya, Pak. Saya udah punya kakak juga di rumah. Belum kepikiran mau nambah kakak lagi. Ribet."
Padahal bukan itu alasan sebenarnya.
"Emang kakakmu berapa?"
"Satu aja sih, Pak."
"Naahh, nambah satu lagi, bisa lah, Sha," goda Rayyan sambil tertawa.
Shafa melirik ke arah Rayyan dengan tatapan setengah kesal, tapi buru-buru mengatur ekspresinya agar tetap tenang.
"Mau banget nih jadi abang saya, Pak? Haha haa..." ucapnya, berusaha terdengar santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWASENA
FanfictionNAWASENA "Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal." Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
