Part 33 "Ternyata..."

423 58 37
                                        

Rayyan melajukan mobilnya pelan. Menikmati perjalanan malam ini yang terasa lebih panjang dari biasanya. Mungkin karena pikirannya yang tidak tenang.

Matanya memang fokus ke jalan, tapi isi kepalanya cukup berisik.

Bukan.. bukan karena ditolak Mentari. Anehnya, hal itu justru tidak mengusik pikirannya sama sekali. Setelah keluar dari area resto, ia merasa perasaannya pada Mentari juga ikut menghilang.

Mungkin memang belum sepenuhnya lenyap. Tapi yang jelas, saat ini, ia tak peduli akan hal itu.

Kali ini yang mengganggu pikirannya justru Mahesa. Laki-laki yang tadi Shafa kenalkan sebagai tunangannya.

Apa benar Mahesa tunangannya Shafa?

Tapi sejak kapan gadis itu bertunangan?

Rayyan menepikan mobilnya ke sisi jalan, menyalakan lampu hazard. Ia menarik napas panjang, fokusnya mulai tertanggu. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Tangannya meraih ponsel, lalu menelpon Vano.

Satu dering.. Dua dering.

"Halo? Kenapa?" suara Vano terdengar berat dan disusul suara menguap.

"Lagi dimana?" tanya Rayyan.

Terdengar suara Vano menguap lagi sebelum akhirnya menjawab. "Dimana-mana hatiku senang. Kenapa?"

"Gue butuh lo jadi pendengar malam ini. Bisa, nggak?"

Vano mengernyit, kenapa lagi nih bocah? Pikir Vano.

"Hoaaam.. tapi gue ngantuk banget sekarang, sumpah. Lo ke rumah aja deh, gue dengerin lo cerita."

"Oke. Gue ke sana," jawab Rayyan cepat, lalu memutuskan sambungan telpon.

Rayyan menghidupkan mesin kembali, melajukan mobilnya. Kali ini, pedal gas ditekan lebih dalam. Mobil itu melaju sedikit lebih cepat dari sebelumnya.

Sesampainya di depan rumah Vano, Rayyan langsung disambut dengan gerbang yang terbuka otomatis oleh satpam yang mengenalinya. Ia hanya menekan klakson singkat sebagai isyarat terima kasih, lalu melajukan mobilnya pelan masuk ke halaman.

Ia memarkir mobilnya tepat di samping mobil Vano. Lelaki itu keluar dengan sedikit buru-buru. Langkah kakinya kian cepat menuju pintu utama, tidak memperlambat gerak langkah kakinya. Walau sempat disapa oleh salah satu asisten rumah tangga di dalam.

"Eh, selamat malam, bang Rayy-"

Rayyan hanya mengangguk sekilas, tak sempat menjawab. Pikirannya terlalu penuh. Tangannya langsung memutar kenop pintu kamar Vano. Tapi ternyata terkunci.

"Van! buka!" serunya sambil mengetuk pintu kamar Vano.

Tak ada jawaban.

Rayyan mengetuk sekali lagi, kali ini lebih keras. "Van, cepet buka pintunya!"

Merasa tidurnya terganggu, Vano segera bangkit menuju pintu dan membukanya.

"Berisik amat, Rayy... tinggal masuk aja ngapain ketuk-ketuk?" gumamnya sambil mengucek mata. Wajahnya tampak kusut dengan rambut acak-acakan.

"Pintu lo dikunci. Gimana caranya masuk?" balas Rayyan ketus, mendorong pintu supaya terbuka lebih lebar dan melenggang masuk tanpa basa-basi.

Ia menjatuhkan dirinya ke sofa kecil di samping tempat tidur. Melepas jas, lalu menyandarkan tubuhnya.

Vano hanya mendengus, lalu kembali ke arah kasur. Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, menarik selimut sampai dada.

"Jadi? Lo mau cerita apa?"

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang