Part 24 "Bukber Hari Pertama"

1.9K 204 10
                                        

Cahaya matahari menelusup lembut lewat sela-sela tirai jendela kamar, membentuk garis cahaya yang jatuh tepat di wajah cantik Nada. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mengusir kantuk yang masih menggantung di pelupuknya. Tubuhnya belum bergerak, masih meringkuk di atas kasur empuk milik Shafa.

Perlahan, kesadarannya mulai terkumpul. Pandangannya pun terhenti pada sosok Shafa yang sedang berdiri di depan meja rias. Rambutnya yang masih basah dililit handuk, dan tangannya tengah mengusap pelan wajahnya dengan kapas, merapikan skincare yang baru saja dipakai.

"Enngh... Kok udah dandan, Sha?" gumam Nada parau sambil meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. "Jam berapa sih?"

Layarnya menyala, menampilkan waktu yang membuat matanya membelalak sedikit. "Eh, udah setengah tiga..."

Nada segera bangkit, duduk bersandar sambil memeriksa notifikasi di layar ponsel, ada tiga panggilan tak terjawab dari Vano.

Tanpa pikir panjang, ia menekan tombol panggil balik. Setelah nada sambung beberapa detik, suara lelaki di ujung sana terdengar.

"Sayang."

"Sayang, kamu udah berangkat belum?" tanyanya cepat, sambil berjalan pelan ke ujung ranjang.

"Udah. Paling lima belas menit lagi sampe kos Shafa."

"Oke. Aku siap-siap dulu, ya. Kamu hati-hati nyetirnya," pesannya lembut.

"Iiiiyaa, Sayaang," balas Vano dengan nada manja sebelum menutup sambungan.

Nada langsung beranjak, mengambil peralatan mandi dari dalam tote bag dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Sementara itu, Shafa tetap fokus dengan per-skincare-annya. Setelah selesai dengan skincare, Shafa menoleh ke stand hanger kecil di sebelah lemari, tempat tiga gamis tergantung rapi. Ia menyentuh satu per satu, menimbang warna dan suasana acara nanti. Akhirnya, ia menarik satu gamis hitam sederhana dengan detail renda halus di bagian lengan. Jilbab hitam polos pun diambil dari rak atas, senada dengan gamis yang sudah disiapkan.

"Shaaa, tolong ambilin baju ganti gueee!" teriak Nada dari dalam kamar mandi. Rupanya ia terburu-buru sampai lupa membawa baju ganti.

Shafa mengambil baju Nada dari tas, lalu membuka pintu kamar mandi sedikit, cukup untuk menyodorkan tangannya ke dalam. Nada segera menerima pakaiannya sambil menggumamkan terima kasih.

Beberapa detik kemudian, dering telepon terdengar dari atas ranjang.

"Buruan, Nad! Vano udah sampe!" seru Shafa sambil melihat layar ponsel Nada yang terus menyala.

Tak lama kemudian, Nada keluar dari kamar mandi dengan langkah cepat. Rambutnya masih sedikit basah, tapi ia tak peduli. Tangannya sibuk merapikan isi tote bag dan mencari hijab. "Makeup di mobil aja deh," gumamnya sambil memasang jarum pentul di sisi hijabnya.

"Ayok, Sha." Nada berdiri sambil merapikan tote bag di pundaknya.

Shafa masih terbaring di atas kasur, "Gue nunggu Rayyan," ujarnya pelan, seperti malas beranjak.

Nada spontan menoleh, keningnya berkerut. "Lho? Bukannya tadi mau bareng Vano?"

"Enggak, Nad. Tadi Tante Erinna minta Rayyan yang nemenin gue, jadi dijemput deh," jelas Shafa, suaranya datar tapi matanya tampak memikirkan sesuatu.

Nada mengangguk singkat, "Ya udah, gue duluan kalau gitu. Bahan-bahannya lo yang bawa, apa gue aja sekalian?"

"Lo aja deh... nanti minta tolong siapin juga, ya. Hehe," Shafa tersenyum kecil sambil melambai pelan. Matanya mulai menutup lagi, seolah ingin mencuri waktu untuk rebahan barang beberapa menit.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang