Tiga bulan setelah Shafa resmi resign dari Sanjaya Group, akhirnya ia kembali menginjakkan kaki di kota ini. Bukan untuk kembali bekerja, tapi untuk menghadiri pernikahan Inggit dan Irwan yang akan digelar besok pagi.
Begitu Shafa tiba di apartemen Inggit, suasana langsung pecah oleh reaksi sahabat-sahabatnya.
"Lah, udah nyampe aja!" Noora menoleh sambil membetulkan huruf-huruf kertas bertuliskan Bridal Shower yang menempel di dinding. "Kok nggak bilang? Kan bisa gue jemput di bandara."
"Gue tau kalian lagi riweh," jawab Shafa sambil meletakkan koper di sebelah sofa.
Nada yang tengah meniup balon langsung nimbrung, "Yaudah, sini bantuin. Kasihan si bumil, baru tiup tiga balon udah ngos-ngosan."
Syilla terkekeh. "Yaaa, gimana ya... perut gue juga udah kayak balon, jadi wajar dong. Mending gue siapin kuenya aja deh."
"Kuenya di mana, Ra?" tanyanya sambil berdiri pelan-pelan.
"Di kulkas," jawab Noora tanpa menoleh, masih sibuk dengan hiasan.
Syilla pun berjalan ke dapur, sementara Shafa mulai membantu Nada menali pita ke balon.
"Inggit masih di hotel?" tanya Shafa di sela pekerjaannya.
"Iya, tadi katanya udah otw pulang," sahut Nada.
Tak butuh waktu lama sampai semua dekorasi bridal shower selesai dipasang. Bunga-bunga artifisial, balon pastel, hingga tirai kelap-kelip kini tertata rapi di ruang tamu. Tinggal menunggu sang calon pengantin tiba.
Begitu terdengar suara PIN pintu apartemen, Noora buru-buru mematikan lampu. Nada dan Shafa siap dengan confetti, sementara Syilla menyalakan lilin.
"Surpriiiiiiseee!" seru mereka serempak saat pintu terbuka.
"Duuhhh! Kaget!!" Inggit berseru tak kalah heboh. Meski sudah menebak bakal ada kejutan, tetap saja suara sahabat-sahabatnya yang menggelegar itu sukses membuatnya terlonjak.
Syilla mendekatkan kue yang ia bawa, dan Inggit langsung meniup lilin-lilin di atasnya. Noora menyelempangkan pita bertuliskan Ny. Irwan ke bahunya, sementara Shafa dan Nada memasangkan veil dan mahkota kecil di kepalanya.
Syilla menyalakan musik, lalu menyiapkan kamera ponsel untuk mengabadikan momen. Selama hampir setengah jam mereka bernyanyi, berjoget, membuat konten, dan tertawa lepas tanpa memikirkan apapun. Sejenak, dunia terasa ringan.
Kini mereka duduk bersila di lantai, masih berkeringat ringan setelah seru-seruan merayakan bridal shower. Napas belum sepenuhnya stabil, tapi tawa mereka belum reda juga.
"Nggak nyangka, ya..." ucap Shafa sambil menyeka pelipisnya dengan tisu. "Besok, dua dari kita berlima udah resmi jadi istri. Gila sih. Waktu tuh cepet banget muternya. Yang satu lagi malah udah hamil lima bulan."
Nada ikut tertawa pelan. "Iya ya... tapi gue sekarang udah tenang banget. Soalnya kalian semua udah ada pasangan. Dulu gue sempet kepikiran lo sih, Ca."
Shafa langsung menoleh, matanya menyipit, "Eh, jangan mulai ya, Nad."
Nada malah cengengesan. "Tapi serius. Sekarang gue lega banget. Karena yang lo dapetin itu Mahesa, Ca. Mahesa. Sempurna."
"Pak Wadanyon 735/Nawasena. Mayor Mahesa," celetuk Inggit, lalu tertawa. "Gue baru tau kalau pangkatnya Mayor pas Irwan nulis nama dia di undangan kalian."
"Oh iya. Kata Irwan, Mahesa nggak bisa dateng ya, Ca?" sambung Inggit lagi.
Shafa mengangguk pelan, wajahnya sempat berubah sendu. "Iya... Nggak dapet cuti. Katanya, menjelang 17-an gini, personel lagi diketatkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWASENA
Fiksi PenggemarNAWASENA "Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal." Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
