Part 40 "Seminar"

609 43 12
                                        

Lampu sorot panggung menyala lembut, menyoroti spanduk besar bertuliskan:

"Young CEO Mindset: Membangun Bisnis di Era Disrupsi"

Spanduk itu menampilkan foto Rayyan Levantra Sanjaya, CEO Sanjaya Group, dengan senyum percaya diri yang menegaskan wibawanya.

Shafa datang lebih awal, memilih duduk di bangku tengah agar tak terlalu mencolok. Di sekitarnya, mahasiswa lain sibuk bercengkerama. Ada yang membicarakan profil Rayyan sebagai pengusaha muda, ada pula yang sibuk menyiapkan ponsel untuk selfie.

Jam tepat menunjukkan pukul 13.00. Moderator berdiri di podium.
"Selamat siang, Bapak-Ibu dan teman-teman semua. Terima kasih sudah hadir di seminar Young CEO Mindset membangun bisnis di era disrupsi. Hari ini kita kedatangan pembicara luar biasa, seorang pengusaha muda yang kiprahnya sering menjadi inspirasi, khususnya bagi generasi muda yang ingin membangun usaha sejak dini."

Senyum Moderator melebar.
"Hadirin, mari kita sambut dengan tepuk tangan meriah, Bapak Rayyan Levantra Sanjaya."

Tepuk tangan bergemuruh. Lampu sorot menyoroti panggung ketika Rayyan berjalan naik dengan langkah mantap, jas navy yang ia kenakan menambah tingkat ketampanannya.

Rayyan berdiri di tengah panggung, membiarkan tepuk tangan reda, lalu ia tersenyum kecil.
"Selamat siang semuanya." Suaranya dalam, tenang, memantul di ruangan besar itu. "Saya senang bisa ada di sini. Biasanya kalau saya datang ke kampus, pertanyaan pertama saya sederhana: siapa di sini yang mau punya bisnis sendiri?"

Beberapa mahasiswa langsung mengangkat tangan semangat. Suasana pun cair.

Rayyan mengangguk. "Bagus. Artinya kalian punya bibit semangat. Sekarang, kita akan bicara soal disrupsi. Tapi sebelum itu, mari kita bedakan dulu dengan digitalisasi. Banyak orang mencampuradukkan keduanya."

Ia berjalan ke sisi panggung, tak menyentuh podium sama sekali, membuat penyampaian terasa lebih dekat.

"Digitalisasi itu proses. Mengubah sesuatu dari analog menjadi digital. Contoh, arsip kertas dipindahkan ke file PDF, bayar belanjaan pakai e-wallet, atau belajar lewat e-learning. Semua itu digitalisasi, membuat hidup lebih efisien."

Audiens mengangguk, memahami penjelasan Rayyan.

"Tapi, disrupsi berbeda." Rayyan memberi jeda, matanya menatap tajam ke audiens. "Disrupsi adalah dampak besar dari inovasi yang mengguncang cara lama. Kalau digitalisasi ibarat menambahkan mesin pada kapal supaya lebih cepat, maka disrupsi adalah badai besar yang memaksa semua kapal mengubah haluan. Kalau tidak, kapal akan tenggelam."

Suasana auditorium hening. Shafa yang duduk di barisan tengah pun tanpa sadar ikut fokus.

Rayyan melanjutkan penuh energi.
"Contoh paling dekat dengan kita? Transportasi. Dulu, orang mengandalkan ojek konvensional. Sekarang, cukup buka aplikasi, kendaraan datang dalam hitungan menit. Itu bukan sekadar digitalisasi, tapi disrupsi karena seluruh industri berubah. Sama dengan Netflix yang membuat rental DVD lenyap, atau marketplace yang mengubah cara orang belanja. Sekali pola konsumsi bergeser, yang tidak siap akan tersingkir."

Beberapa mahasiswa saling berbisik, merasa relate.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai generasi muda? Pertama, jangan tunggu modal besar. Modal uang penting, tapi modal utama adalah ide dan keberanian. Banyak bisnis besar dimulai dari garasi rumah."

Rayyan menurunkan nada suaranya, membuat suasana lebih intim.
"Kedua, jangan takut gagal. Bisnis pertama saya dulu belum ada setahun bangkrut. Rasanya pahit, tapi di situlah saya belajar mengelola arus kas, membaca tren, membangun tim. Kalau saya berhenti waktu itu, Sanjaya Group tidak akan pernah ada."

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang