Part 6 "Risa's Farewell Party"

1.5K 128 3
                                        

-Author pov-

Hari ini adalah hari terakhir Risa menjabat sebagai PA Rayyan, sebuah keputusan yang sedikit dimajukan dari kesepakatan awal. Persiapan pernikahannya, yang semula Risa pasrahkan sepenuhnya kepada keluarga, ternyata ada beberapa kendala yang mau tidak mau, ia harus turun tangan membantu mengurus segala detail acara.

Beruntung, Shafa bisa beradaptasi dengan sangat cepat terhadap pekerjaannya, bahkan melebihi ekspektasi Risa. Hal ini menjadi alasan kuat untuk Risa bernegosiasi dengan Rayyan agar jadwal last day-nya bisa dimajukan. Risa sudah menyiapkan beberapa daftar alasan, namun, begitu alasan pertamanya terucap—bahwa Shafa sudah bisa bekerja tanpa bimbingannya, bahkan sangat memahami dan peka terhadap keinginan Rayyan, serta komunikasi di antara mereka terjalin sangat baik—Rayyan langsung menyetujuinya. Risa pun bisa resign dengan tenang, tanpa dihantui rasa was-was jika Shafa membutuhkan sesuatu terkait pekerjaan lamanya. Karena ia juga harus fokus menyiapkan acara pernikahannya.

"Coba kamu baca ulang lagi, Sha," Risa menggeser laptopnya menghadap Shafa. Layar laptop itu menampilkan file berita acara serah terima jabatan, lengkap dengan lampiran dokumen dan daftar barang yang diterima.

Shafa membaca halaman pertama yang berisi poin-poin serah terima jabatan. Kemudian, ia menggulir kursor ke bawah, menelusuri data lampiran dokumen dan barang yang diterima. "Sudah semua, Mbak. Saya print ya?" Risa mengangguk.

Dengan pena di tangan, Risa menggoreskan tanda tangannya di bagian 'Pihak Pertama'. Setelah itu, giliran Shafa membubuhkan tanda tangan pada bagian 'Pihak Kedua'.

"Kalian lagi ngapain?" Suara Rayyan tiba-tiba menyapa, ia baru saja datang.

"Nah, kebetulan Bapak di sini. Minta tolong tanda tangan di sini, Pak," ucap Shafa, menunjuk dokumen berita acara tersebut. Ah, Rayyan datang di waktu yang sangat tepat, jadi Shafa tidak perlu repot-repot menemuinya hanya untuk meminta tanda tangan.

"Oh, hari ini last day ya?" tanya Rayyan, matanya beralih dari dokumen ke Risa.

"Iya, Pak. Nanti malam rencananya saya mau mengajak rekan-rekan kantor makan malam bersama di Rengganis Café. Kalau Bapak tidak sibuk, semoga berkenan untuk hadir," ujar Risa.

"Setelah pulang kerja, kan? Bisa, nanti saya ke sana setelah menghadiri grand opening resto milik Pak Adnan, ya," Rayyan menyerahkan dokumen yang telah ia tanda tangani. Risa menyimpannya ke dalam map ordner.

"Berangkat sekarang, yuk, Sha. Saya belum beli buah tangan," ajak Rayyan.

"Kemarin sudah saya pesankan karangan bunga, Pak. Sebentar, ini fotonya ya pak kalau sudah diantar ke lokasi." Shafa menyodorkan ponselnya, menunjukkan foto karangan bunga yang ia pesan.

"Makasih, ya. Saya kelupaan minta tolong kamu kemarin," ucap Rayyan, senyumnya mengembang.

Risa tersenyum bangga, penilaiannya tentang Shafa tidak meleset sedikit pun.

Shafa memasukkan ponselnya kembali ke slingbag, bersiap untuk menemani Rayyan menghadiri acara tersebut. "Handphone, dompet, lipstik, cushion, tisu, hand sanitizer, kipas. Oke, sudah lengkap," gumamnya, mengabsen satu per satu barang bawaannya.

"Cewek tuh, apa memang selalu ribet kayak gini, Ris? Kamu kayaknya enggak gini, kan?" Ucapan Rayyan membuat Shafa melirik tajam ke arahnya. Ekspresi cemberut juga terpampang nyata di wajahnya.

"Hahaha, saya juga sama, Pak. Cuma Bapak enggak tahu aja," Risa tertawa ringan, membuat Shafa merasa senang karena secara tidak langsung mendapat pembelaan dari Risa.

"Hahaha, ya udah, yuk berangkat. Udah kenapa, Shaa, mukanya cemberut gitu. Kita pergi dulu ya, Ris," pamit Rayyan, lalu melangkah meninggalkan meja kerja Risa. Shafa melambaikan tangannya sambil berjalan di belakang Rayyan.

NAWASENACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang