----- Rumah Orang Tua Rayyan
Rintik hujan belum juga berhenti sejak satu jam lalu. Meski derasnya mulai mereda, udara malam tetap terasa dingin dan lembap. Tapi suasana di ruang makan rumah keluarga Rayyan justru terasa hangat, penuh tawa, dan obrolan yang ramai.
"Wiihh, apa tuh Nad?" goda Anjani, kakak perempuan Vano, sambil menunjuk cincin yang melingkar cantik di jari manis Nada.
Gadis berhijab pashmina merah muda itu spontan menarik tangannya dan nyengir malu-malu. "Hehe, Kak Anja ih, pasti pura-pura nggak tau ya? Perasaan waktu itu kakak udah ngucapin selamat deh."
"Hahaha, iya ya! Duh, gagal deh godain bocil satu ini," sahut Anjani sambil tertawa.
Di balik jendela, lampu teras memantulkan cahaya ke arah rintik hujan yang turun pelan. Malam ini, keluarga besar Rayyan tengah berkumpul, merayakan ulang tahun sang Oma, Nenek dari pihak Mama Rayyan. Keluarga yang hadir malam ini hanya keluarga inti dari anak-anak Oma. Ada Mama Vano, si sulung, yang biasa dipanggil Bu Erika, datang bersama suaminya dan dua anak mereka. Anjani—yang kini sudah menikah dan punya dua anak kembar lucu bernama Geta dan Geya—dan si bungsu, Vano.
Kemudian ada Mama Rayyan, Bu Erinna, adik dari Erika. Usia mereka hanya terpaut dua setengah tahun, jadi kedekatan mereka terlihat jelas dari cara bercanda dan mengobrol yang cukup nyambung.
Dan terakhir, si bungsu dari tiga bersaudara itu terpaut 11 tahun dari Mama Rayyan, Om Erwin, satu-satunya paman Rayyan yang belum menikah. Sosoknya selalu jadi tameng Rayyan setiap kali topik "kapan menikah?" muncul. "Pokoknya abang sih nunggu Om Erwin duluan," Rayyan sering berkata begitu. "Takut kualat kalau nyalip Om Erwin," tambahnya sambil pura-pura serius.
Meskipun sang kakek sudah berpulang dua tahun lalu karena serangan jantung, suasana malam ini tetap terasa hangat dan penuh makna. Tawa dan obrolan ringan memenuhi ruang makan, seakan kehadiran almarhum masih terasa lewat kebersamaan keluarga yang tak pernah pudar.
Sambil menyeruput kuah tomyam yang masih mengepul hangat, Mama Vano melirik ke arah adiknya, Erinna, dengan alis terangkat penasaran.
"Kamu kursus masak, Rin?" tanyanya tiba-tiba.
Mama Rayyan, alias Bu Erinna, sempat kaget. "Enggak, kenapa Kak?" jawabnya heran. Matanya memantau reaksi sang kakak, takut-takut kalau ada yang aneh dari masakannya.
Mama Vano menyeruput lagi kuah dari sendoknya. "Soalnya beda aja dari biasanya. Tomyam kamu kali ini lebih seger, lebih berani main bumbunya. Biasanya tuh, enak sih, tapi kayak... nanggung gitu, lhoo,"
Mendengar itu, Mama Rayyan langsung tergelak. "Hahahaha, itu bukan aku yang masak. Shafa yang bikin! Enak, ya? Aku juga kaget pas nyicip. Pinter kamu, Nduk."
Ia menatap Shafa penuh bangga, dan si gadis yang duduk di seberang meja itu cuma tersipu malu, sembari tersenyum.
"Waah, nanti Tante minta resepnya ya, Sha," ujar Mama Vano antusias, lalu kembali tenggelam menikmati sisa tomyam di mangkuknya.
"Iya, Tante," jawab Shafa singkat sambil tersenyum manis.
Rayyan yang dari tadi fokus menyendok makanan, akhirnya ikut mengangguk pelan, setuju dengan semua pujian yang dilontarkan para Mama.
"Iya, enak," gumamnya sambil tetap menatap mangkuknya. Suaranya pelan, tapi cukup terdengar oleh gadis di sebelahnya.
Shafa langsung menoleh cepat. "Kenapa, Pak?" tanyanya berbisik.
Rayyan menoleh, sedikit bingung, kenapa ditanya. Tapi setelah sadar maksudnya, ia mengangguk sekali lagi dan berkata, "Ini... tomyamnya enak." ucapnya sembari memberi jempol kanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWASENA
FanficNAWASENA "Karena tak semua yang datang terlambat, takdirnya ikut tertinggal." Shafa hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang, menyimpan rasa dalam diam, berdiri di balik bayang seorang pria yang tak mungkin ia miliki. Namun hidup punya cara send...
