Byur
Seorang gadis melompat ke dalam kolam setinggi 3 meter. Ia melompat melalui pagar rumah yang terbuat dari besi. Tangannya yang berlumuran darah menarik sebuah tangan yang sudah lemas seolah-olah tangan itu telah mati.
Tak mempedulikan perih yang dirasakannya, ia menarik Lala ke atas kolam, membawanya kembali menghirup udara kehidupan.
"Thea bangun!" Ia berulang kalo menekan dada Lala agar air segera keluar dari mulutnya dan kesadarannya kembali.
"Thea, gue minta maaf karena salah paham sama lo. Lo jangan pergi dulu dong!" Gadis itu terisak, frustasi karena temannya itu tak kunjung membuka matanya.
Uhuk
Lala terbatuk dan mengeluarkan air dari dalam mulutnya, perlahan sinar matahari mulai masuk ke celah-celah matanya, membangkitkan kesadaran gadis itu.
"M-meissa."
Tanpa aba-aba, Meissa langsung memeluk tubuh Lala. Terus-terusan meminta maaf kepada gadis itu atas perbuatannya yang kurang ajar.
"Maafin gue, gue kebawa emosi karena lo ketahuan nge-tag Gerald. Lo tau kan gue benci banget sama setan itu."
Meissa merasa bersalah karena membenci Lala secara sepihak, beruntung Andra menyadarkannya dan membuatnya menyesali perbuatannya.
"Mei, kok lo bisa disini?"
Meissa akhirnya mengaku dan menjelaskan semuanya. "Tadi gue di belakang lo pas lo pulang sekolah, gue ikutin lo biar bisa minta maaf. Tapi kayaknya gue gak akan bisa masuk gitu aja ke rumah lo, niatnya gue mau chat lo dulu biar kita bisa ketemuan di depan rumah lo."
"Eh, gue denger suara teriakan bokap lo. Gue sembunyi lah ke samping rumah lo, gue denger semuanya sampai denger lo tercebur ke dalam kolam. Setelah itu gue gak denger suara apa-apa, makanya gue nekat panjat pagar biar bisa menyelamatkan lo." Meissa berucap dengan nada bergetar, sekali lagi ia memeluk erat tubuh Lala. Takut kejadian dimana Lala kehilangan Zean akan terulang menjadi RIVERA yang kehilangan Lala.
"Gue gak mau lo pergi, gue minta maaf karena udah nuduh lo seenaknya."
Lala menenangkan Meissa dengan menepuk pelan pundak gadis itu, sekarang ia sudah tidak apa-apa meskipun ia masih trauma berada dekat dengan air.
"Lo ikut tinggal gue di apartemen gimana? Bokap lo udah gila, The." Saran Meissa, kentara sekali bahwa ia sedang khawatir.
Lala tertawa hambar. "Haha, bisa-bisa gue meninggal beneran habis dari sana."
"Terus lo mau gimana? Lo mau menjalani hidup seperti biasa dengan orang yang udah bikin lo trauma, bahkan hampir meninggal? Lo udah gila?" Meissa bertanya dengan beruntun, tak membiarkan Lala mencerna satu per satu pertanyaannya.
"Gue udah biasa kayak gini. Kak Zean jauh lebih sakit daripada gue, Mei." Jawab Lala.
"Jauh lebih sakit bukan berarti rasa sakit lo itu gak ada kan?"
Meissa berkaca-kaca sekarang, Pelangi Nabastala Althea yang biasa ia kenal sebagai anggota geng yang kuatnya setara dengan Bian, kini menjadi orang yang bahkan membela dirinya saja tidak bisa.
"Kita keluarga The. Gue dan RIVERA, kita semua ikut merasa sakit kalo lo sakit."
"Gue tau, gue juga sayang sama kalian semua. Tapi gue harap, kejadian hari ini buat rahasia kita berdua aja, gue harap lo gak kasih tahu yang lain." Pinta Lala dengan menggenggam erat tangan kanan Meissa, berharap gadis itu akan segera mengiyakan.
"Iya, gue janji gak akan kasih tahu siapa pun." Jujur Meissa, tangannya ikut menggenggam tangan Lala, meyakinkan bahwa ia takkan mengingkari janjinya.
Tring
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Ficção Geral"Namaku tak seindah takdirku." -Pelangi Nabastala Althea Memiliki nama Pelangi bukan berarti hidupnya akan seindah fenomena alam yang menciptakan warna warni indah di langit itu. Alih-alih indah, gadis bernama Pelangi atau yang biasa dipanggil denga...
