"BIAN, KAMU TERTANGKAP."
Jantung Bian seakan-akan merosot saat itu juga. Bian sudah sering berada di posisi menegangkan, tapi sialnya, kenapa harus hari ini?
"NAH, TINGGAL KAMU YANG JAGA. AYO AH BURUAN, MASA MALAH BENGONG DOANG GITU."
Bian mendongak ke sudut-sudut kamar, barangkali ada CCTV yang terpasang di kamar Gerald. Tapi mustahil, Bian tak menemukan CCTV di sisi manapun.
Jadi, Raina sedang mengigau? Bukannya benar-benar sedang membuntuti Bian? Syukurlah, dengan begini Bian bisa bernafas lega sekarang. Tanpa menunggu lama-lama lagi, Bian keluar dari kamar Gerald, keluar dari rumah itu dan langsung mengendarai motornya.
Di tengah-tengah perjalanan, Bian sempatkan untuk membuka ponselnya saat terdengar bunyi notifikasi. Ia mendapatkan pesan-pesan yang dikirimkan oleh Meissa.
Bian sekali lagi menghela nafas lega. "Oke, Thea aman sama Meissa."
Bian langsung mengetikkan nomor ponsel seseorang, lalu ia memencet tombol memanggil untuk kemudian diangkat oleh sang penerima di seberang sana.
Tanpa perlu berbasa-basi, saat panggilan telepon tersebut diangkat, Bian berkata. "Flashdisk aman di gue. Plan C udah bisa kita mulai."
"Oke, siap bos. Kita kumpul di apartemen Meissa, minta persetujuan sama Thea."
"Oke, gue kesana sekarang."
Bian secara sepihak menutup sambungan telepon, tujuannya kali ini adalah apartemen Meissa. Jadi ia harus cepat-cepat pergi kesana sebelum terlambat.
Disisi lain, sudah ada dua orang yang berdiri di depan pintu kamar apartemen Meissa, mereka memencet sandi kamar sesuai dengan yang Meissa kirimkan. Kemudian, terdengar bunyi sandi kamar yang artinya benar dan seperti mempersilakan mereka untuk masuk.
"Eh, jangan masuk dulu, kita tunggu ada jawaban dari Lala. Siapa tau kan, dia lagi ganti baju atau apa." Cegah seorang laki-laki yang memikirkan perasaan Lala juga.
Laki-laki di sebelahnya mengangguk pasrah. "Ya udah, coba lo chat si Thea lagi ngapain."
"Eits, minggir-minggir, gue mau masuk." Tiba-tiba saja, Meissa hadir di tengah-tengah mereka. Mengusir kebingungan kedua laki-laki itu.
Meissa masuk sambil menenteng sebuah plastik besar berisi makanan dan minuman yang ia beli dari supermarket.
"Gue masuk dulu, gue kabarin kalo Thea udah siap," Ujarnya sebelum pintu kamar apartemennya kembali tertutup.
"Thea!" Panggilnya ketika baru saja merebahkan dirinya di atas sofa empuk yang berada di pojok kamar apartemennya. Ia letakkan tas plastik yang dibawanya ke atas meja.
Lala yang merasa namanya dipanggil kemudian keluar dari kamar mandi, lengkap dengan baju ganti milik Meissa.
"Kenapa?" Tanyanya sambil ikut duduk di samping Meissa.
"Ada tamu, cowok. Bukain deh pintunya, gue lagi males." Kini Meissa seenaknya berselonjor, bak mengusir Lala secara halus.
Mau tak mau Lala menurut. Awalnya, ia bingung kenapa Meissa menyuruhnya padahal tuan rumahnya bukan dia. Lala baru menyadari siapa yang datang saat matanya tertuju pada layar kecil yang berada di dekat pintu.
"Lo pada ngapain kesini?" Tanya Lala ketika melihat Nathan dan Andra berdiri di depan kamar apartemen Meissa.
"Bertamu." Andra menjawab sambil tertawa pelan.
Tanpa permisi, Andra masuk ke dalam kamar apartemen milik Meissa. Membuat Lala menggeser tubuhnya ke belakang pintu.
"Lo juga masuk, Than. Jangan di depan pintu, ntar jadi penunggu lo."
Nathan tertawa mendengar Lala becanda kepadanya. Tidak biasa, tapi tak apalah, itu artinya suasana hati gadis itu sedang baik.
Setelah semuanya masuk, Lala menutup pintu, namun ia menatap satu per satu temannya itu. "Eh, tunggu. Kayaknya gue ketinggalan sesuatu, kalian merencanakan apa tanpa gue?"
Andra dan Meissa saling bertukar pandang, lalu mengulas senyum licik, sedangkan Nathan hanya mengangkat kedua bahunya, tak ingin menjelaskan apapun.
"Lihat aja nanti." Kata Meissa santai.
Kemudian mereka sibuk dengan ponsel masing-masing, Nathan menghubungi Bibinya supaya menjaga Ibunya hari ini. Berbeda dengan Andra yang men-scroll video pendek di sebuah aplikasi dan Meissa yang mengirim pesan terus menerus pada nomor yang sama.
Ting
Bel pintu apartemen Meissa berbunyi nyaring. Namun kini Meissa sendiri yang bangkit dari sofa dan membukakan pintu untuk tamunya.
Meissa terbelalak dan hampir saja mengumpat karena kedatangan seseorang yang tak diundang, bahkan ia tidak diberi tahu tentang kedatangannya.
"M-masuk." Perintah Meissa.
Keduanya menurut dan melangkah masuk ke dalam kamar apartemen. Meski Meissa tahu kedatangan kedua orang itu akan membuat Lala marah, dan mungkin Andra juga akan marah. Tapi inilah satu-satunya cara untuk mengakhiri drama.
"Halo, Jay datang." Sapa Jay dengan senyum merekah, terlihat Jay menggunakan kursi roda untuk kesana.
Lala yang sedang bermain ponsel, sontak menjatuhkan ponselnya. Ia menutupi mulutnya tak percaya. Lala langsung berdiri dan menepis tangan Bian yang sedang memegangi kursi roda Jay.
"Lo gila? Jay masih sakit!" Bentak Lala marah.
"Gue memang gila, gue kesini mau minta maaf sama lo," Ucap Bian penuh sesal.
"Minta maaf? Semudah itu? Lo putus sama si nenek lampir?"
Bian terkekeh mendengar pertanyaan Lala. Jadi selama ini Lala menganggap Raina nenek lampir? Yah, nenek lampir malah terlalu bagus disandingkan dengan Raina.
Bian berdeham untuk menghentikan tawanya, ia harus meminta maaf dengan serius kepada Lala. Bisa-bisa Lala marah dan tak mau memaafkannya karena menganggap ia sedang becanda.
Dugh
Terdengar suara pukulan yang keras melayang ke wajah Bian. Bukan Lala yang melayangkan pukulan itu, melainkan Andra yang sudah terlihat sangat emosi.
"Gampang banget ngomong maaf, bego lo?" Tanya Andra sinis. Andra tak peduli Bian masih menjadi ketua RIVERA atau bukan.
Bian sudah menyakiti Lala, jadi ini juga menjadi masalah untuk Andra. Dan bisa-bisanya Bian semudah itu meminta maaf? Memangnya ia tidak memikirkan betapa sakit hatinya Lala?
Sedangkan Bian berusaha tak terbawa emosi, jika emosi bisa saja ia membuat suasana jadi ricuh. Memang sudah salahnya yang membuat hubungan mereka jadi tak baik, jadi Bian juga yang harus menyelesaikannya.
"Kalian kena prank, gue deket Raina cuma buat dapet ini!" Bian mengangkat sebuah flashdisk di tangannya. "Ini isinya kebusukan si Raina. Lihat aja kalo lo pada gak percaya."
Andra dan Lala sama-sama tak mengerti, apalagi Bian malah senyum-senyum senang seolah-olah ia adalah pahlawan kesiangan.
"Gak lucu, bego!" Sembur Andra masih tak terima.
"Iya gue emang bego," Ujar Bian membenarkan pernyataan Andra, ia menoleh ke arah Lala. "Tapi lo percaya sama gue kan, The? Gue gak mungkin semudah itu buang berlian demi batu kali. Maafin gue, The. Gue minta maaf dengan tulus atas semua perbuatan gue yang menyakiti lo. Gue tahu gue bodoh banget bikin lo sakit hati, jadi gue minta maaf, Thea."
"Lo mau maafin gue?"
—Jumat, 21 Juni 2024, 06.04
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Ficção Geral"Namaku tak seindah takdirku." -Pelangi Nabastala Althea Memiliki nama Pelangi bukan berarti hidupnya akan seindah fenomena alam yang menciptakan warna warni indah di langit itu. Alih-alih indah, gadis bernama Pelangi atau yang biasa dipanggil denga...
