"Lo emang brengsek, tapi lo masih tetap jadi Ketua gue," balas Lala. Meski Bian telah menyakitinya, tapi Lala masih bisa memaafkan.
Mungkin Lala memang bodoh, namun Bian melakukan suatu kesalahan, masa akan menghapus seribu kebaikannya begitu saja?
"Gue akan maafin lo, tapi gue gak akan lupa, Davian Putra Byantara."
Bian tersenyum hingga lesung pipinya terlihat, Bian lega karena akhirnya Lala menerima permintaan maafnya. Bian memang brengsek seperti yang Lala katakan, tapi Bian seperti ini juga demi Lala.
"Nah, tinggal Andra sama Bian nih yang masih musuhan, ayo baikan, biar acaranya cepet mulai," Teriak Meissa, lalu menarik tangan Andra dan Bian untuk saling berjabat tangan dan memaafkan kesalahan masing-masing.
"Maaf udah bikin RIVERA kecewa," kata Bian menyesal.
"Maaf juga udah benci sama lo," timpal Andra.
"Nah, tunggu apalagi?" Jay pura-pura bertanya, tangannya sueah gatal ingin membuka bungkusan yang sedari tadi ia pegang.
"HAPPY BIRTHDAY PELANGI NABASTALA ALTHEA!!"
Tiba-tiba saja, kelima orang yang sedang berada di ruangan itu berteriak kompak, bahkan ada ribuan kertas warna warni yang beterbangan karena ulah Nathan dan Meissa yang memutar party popper.
Lala sendiri terkejut dan memegangi dadanya karena jantungnya berdetak begitu cepat. Lala tidak sadar dan tidak ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Kini giliran Andra yang membuka sebuah kotak berisi kue warna warni yang tersusun atas warna merah, kuning, hijau dan biru. Persis seperti nama Lala, kue itu berwarna pelangi.
Andra menancapkan sebuh lilin panjang di tengah-tengah kue itu, lalu menyalakan api di atasnya.
"Selamat ulang tahun, wakil ketua RIVERA," ucap Andra keras-keras.
"Tiup lilin, tiup lilin!" Heboh Jay, disusul dengan Bian, Nathan, Meissa dan Andra yang menyanyikan lagu ulang tahun.
Lala tersenyum singkat sebelum akhirnya meniup lilin tersebut hingga padam. Di dalam hati kecilnya Lala berharap, tidak ada lagi lilin-lilin yang menyala di tahun-tahun berikutnya, cukup tahun ini. Lala bahkan hampir mati saat hari ulang tahunnya, jadi untuk apalagi ada perayaan ulang tahun berikutnya?
"Make a wish, Thea!"
Lala menutup kedua matanya, berdoa agar segala yang ada di hidupnya menjadi lebih baik, RIVERA terus bersama seperti ini, dan tidak ada lagi tangisan kemarahan maupun kesedihan.
"Makasih atas kejutan kalian semua, gue bahkan nggak ingat kalau gue ulang tahun hari ini." Lala memandang teman-temannya satu per satu.
"Tapi ini bakal jadi ulang tahun yang lo inget selamanya, The. Happy sweet seventeen!" Meissa memeluk Lala dengan erat, walaupun hari ini mereka mengalami hari yang burukk tapi Meissa ingin Lala menikmati hari ini dengan penuh bahagia.
Meski tak mudah melewati tujuh belas tahun di bumi ini, tapi nyatanya sahabatnya itu berhasil menjalaninya. Dengan segala tangis juga tawa, Meissa yakin semua itulah yang membuat Lala bisa menjadi sekuat yang sekarang.
"Bareng-bareng terus sama gue ya, The. Jangan bosen-bosen, kita bersama terus sampai tua haha." Meissa mengatakannya dengan meneteskan air mata, Meissa yang menyimpan rahasia Lala yang hampir mati itu sendirian, jadi Meissa yang menangis atas hal buruk yang Lala alami.
"Ah, masa tua sama lo terus sih, Mei. Bosen leh bosen," sembur Andra memprovokasi.
"Biarin, daripada sama lo yang nyebelin," sahut Meissa tak peduli.
Dalam persahabatan memang Andra dan Meissa sering ribut akan hal-hal kecil, tapi itulah yang membuat RIVERA bertambah seru dan memperkuat persahabatan mereka.
"Gue bersyukur punya kalian semua di hidup gue. Kalian menjadi salah satu alasan gue bahagia karena terlahir ke dunia, meski persahabatan kita semua gak mudah dan sering terjadi kesalah pahaman, tapi gue tetap bersyukur bisa menjadi sahabat kalian."
"Thea, terharu banget gue." Andra berakting sedang menghapus tangisannya.
"Gue juga bersyukur jadi sahabat lo, The," sahut Jay senang.
Setelah itu, Lala memotong kue menjadi 6 bagian, agar tidak ada rasa saling iri karena siapa-siapa yang diberi kue pertama kali oleh Lala.
Lala menyusunnya satu per satu di atas meja apartemen Meissa, lalu ia berkata. "Ambil sendiri-sendiri ya biar adil."
"Eits, masa langsung mau makan kue? Kasih hadiah dulu gak sih?" Potong Nathan cepat, sayang sekali kan jika hanya memakan kue langsung dan memberi kado di akhiran?
"Oh iya, gue udah mempersiapkan kado terbaik di muka bumi ini untuk Thea." Jay mengulurkan sebuah tas berisi sepatu mahal yang Jay yakini itu adalah sepatu yang diinginkan oleh Lala, Jay melihat Lala menyukai postingan tentang sepatu limited edition tersebut.
"Hush, kado yang terbaik itu dari gue, Jay." Andra membangga-banggakan kadonya, yang padahal kalau harganya dibandingkan dengan kado pemberian Jay mungkin akan seperti langit dan bumi.
Sedangkan Meissa, gadis itu memberikan sebuah kalung berliontin gambar pelangi untuk Lala. Meissa memberikannya dengan sebuah kotak perhiasan berwarna putih.
"Isinya kalung, nggak usah ditebak, langsung dipakai aja," kata Meissa beda sendiri.
Lala menuruti perkataan Meissa, ia langsung membuka kotak perhiasan tersebut dan memakainya di lehernya yang putih bak awan.
"Cantik banget, makasih banyak, Mei. Pasti mahal, gue jadi gak enak tau gak." Lala memeluk Meissa dengan perasaan tak enak hati.
Meissa menepuk punggung Lala beberapa kali. "Lebih mahal harga gue bisa temenan sama lo. Kalo itu bikin lo bahagia, gue justru seneng."
"Sekarang tinggal gue yang kasih kado," potong Bian. "Lo mungkin males menerima pemberian dari orang yang sempat lo benci. Tapi, selamat ulang tahun Thea."
Lala membeku menerima kado pemberian dari Bian. Lala tak bisa menebak isinya karena Bian menaruhnya di dalam sebuah paper bag besar yang ditutupi beragam snack berbagai merek.
"Thank you, gue gak benci lo, Bian. Tapi gue cuma kecewa sama lo," koreksi Lala.
"Dan yang terakhir, kado pemberian dari gue, Pelangi Nabastala!" Sorak Nathan tak sabar.
"Emang lo bawa apaan?" Tanya Lala meremehkan.
Di belakang punggungnya yang lebar, Nathan menyembunyikan sebuah buket bunga mawar warna biru dan sebuah kotak besar yang dilapisi kertas kado.
"Tebak dulu dong!" Ledek Nathan disertai dengan kekehan pelan.
"Halah, kesuen!" Andra memukul lengan Nathan kesal. Mengulur-ulur waktu saja, memangnya ini sedang acara kuis?
Nathan menahan tawanya, akhirnya ia memberikan hadiahnya untuk Lala. Diterima oleh Lala dengan senang hati, harum bunga mawar membuat hati Lala menghangat. Tanpa sadar Lala mengulas senyuman lebar.
Semua kado yang diberikan oleh sahabat-sahabatnya hari ini begitu berkesan. Tak akan terlupakan olehnya sampai kapan pun.
"Tapi, masih ada lagi, sebuah video yang bikin hari ini semakin sempurna." Bian menepuk tangannya tiga kali, sampai akhirnya layar televisi Meissa tiba-tiba menayangkan sebuh video.
"SELAMAT ULANG TAHUN PELANGI NABASTALA ALTHEA! HAPPY SWEET SEVENTEEN, BAHAGIA SELALU, SEHAT SELALU DAN BERSAMA RIVERA TERUS!!"
Video tersebut adalah rekaman saat para anggota RIVERA mengucapkan ulang tahun untuk Lala. Ini adalah ide dari Gara, bahkan Gara berdiri di depan sendiri dengan memamerkan senyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"CINTA SIAPA? CINTA PELANGI NABASTALA!" Teriak Gara sendirian.
🌈🌈
Aww happy sweet seventeen Lala anak baik! Tetap semangat menjalani hidup yang gedebag gedebug ini :( tenang ajaa nanti pasti akan ada akhir kisah yang paling bahagia untuk Lala kok! Dikelilingi anak- anak RIVERA yang baik hati juga salah satu bentuk bahagia hehe :)
Btw apa nih pesan dari kalian untuk Lala ke depannya? Hehe👀
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Fiksi Umum"Namaku tak seindah takdirku." -Pelangi Nabastala Althea Memiliki nama Pelangi bukan berarti hidupnya akan seindah fenomena alam yang menciptakan warna warni indah di langit itu. Alih-alih indah, gadis bernama Pelangi atau yang biasa dipanggil denga...
