Hari semakin sore, acara senang-senang karena merayakan ulang tahun Lala itu telah selesai. Sekarang mereka dihadapkan oleh sebuah keputusan besar yang mungkin saja akan merubah kehidupan mereka nantinya. Entah ke arah yang baik atau malah buruk.
"Udah sore, kita semua harus cepet-cepet ambil keputusan," kata Bian berterus terang.
Nathan menyahut setuju, "Bener, kalo kita tunda-tunda, nanti malah nggak terurus."
Kedua laki-laki itu saling bertukar pandang, mereka yang reputasinya paling kuat disini, Bian sang Ketua RIVERA dan Nathan sebagai mantan Ketua OSIS SMA Langit Biru. Jika salah-salah sedikit saja, keputusan yang mereka ambil bisa menjadi bumerang bagi mereka semua.
Lala dan Jay sudah diberi tahu bahwa Meissa, Andra, Bian dan Nathan memiliki rencana untuk melepaskan RIVERA dari belenggu adu domba Gerald dan menyelamatkan Lala juga Nathan dari Raina.
Awalnya, Jay merasa dibohongi karena disini hanya ia yang tidak tahu apa-apa. Tapi, Jay masih bisa memikirkan dengan kepala dingin karena bagaimana pun kondisi Jay sedang tidak baik-baik saja. Meski begitu peran Jay masih dibutuhkan disini, ia adalah korban pengeroyokan dari Black Stars, yang merupakan salah satu ulah yang diperbuat oleh Gerald.
Meissa juga termasuk orang awam disini, tetapi untuk meluruskan masalah tentang akun Lala yang diambil alih oleh seseorang yang membawa-bawa nama Gerald, Bian rasa Meissa harus turut andil dalam pengambilan keputusan ini.
"Mending, satu per satu cerita tentang kejadian-kejadian yang dialami. Kita mungkin punya bukti, tapi dengan menemukan benang merahnya, kita bisa bikin rencana yang lebih baik. Gimana?" Usul Nathan meyakinkan. Akhirnya Bian mengangguk setuju, disusul dengan yang lainnya.
"Teror ini dari siapa dulu?" Tanya Bian.
Lala mengangkat tangannya dan mengambil kesempatan untuk berbicara lebih dulu daripada yang lain. "Ini kalo dari sudut pandang gue ya, gue pertama kali itu dapat tugas kelompok sama temen-temennya Raina. Dan entah kenapa tugas gue hilang begitu saja, padahal gue udah ngerjain sampe begadang dan cuma gue sendirian yang kerjain tugas itu. Tapi tiba-tiba, tugas itu ada di loker adik kelas gue. Kan aneh?"
Nathan berdeham, ia ikut mengangkat tangannya. "Mungkin giliran gue. Jadi, pas gue sama Lala urus masalah tugas itu di BK, gue malah dilempari batu sama seseorang. Bahkan sampai kepala gue berdarah."
"Habis itu Jay dikeroyok." Potong Lala cepat.
"Nah, terus gimana ceritanya lo bisa dikeroyok Jay?" Andra mendekat ke arah Jay, antara kepo sekaligus geram akan ulah Black Stars.
Jay akhirnya bercerita bahwa saat itu ia tengah pulang ke arah rumahnya. Tanpa disadari, Jay diikuti oleh anggota Black Stars termasuk Ketua mereka, Gerald. Jay tidak tahu apa-apa saat itu, jumlah mereka juga tidak seimbang. Jay harus melawan 5 orang sendirian yang menyerangnya tanpa ampun. Jay bisa selamat karena ada warga setempat yang sedang melakukan ronda dan meneriaki Black Stars yang mengeroyok Jay seorang diri.
"Gila, bener-bener gila mereka," komentar Bian yang diam-diam mengepalkan tangan akibat kesal.
"Lo juga kenapa bisa mau sama kembaran orang gila itu hah? Bahkan muka mereka aja mirip, sifat juga sama-sama kelakuan setan leh," cecar Andra tak terima dengan pernyataan Bian. Bian sendiri tidak sadar kalau ia juga sama gilanya?
"Diem, lo jangan asal ngomong. Gue begini juga bagian dari rencana."
Lala menatap Bian dengan tatapan menuntut penjelasan. Bian sendiri belum menjelaskan apapun disini.
"Oke-oke, biar kalian nggak nuduh gue lagi, gue ceritain yang sebenernya."
"Ya udah gih cerita," sentak Andra masih tak santai. Ia adalah salah satu orang yang paling tidak rela melihat Lala tersakiti.
"Gue sebenernya ikut taruhan balapan sama Gerald. Ini karena si Niko yang terima aja tantangan si Gerald. Kayak yang gue bilang, dia pengkhianat," Bian menggertakkan giginya tanpa sadar. "Akhirnya, gue ikut lah balapan itu, tapi motor gue tiba-tiba mogok di tengah-tengah pertandingan. Otomatis si Gerald menang, dan sesuai perjanjian, yang kalah harus menuruti apapun keinginan yang menang. Dan dia, mau gue jadi pacar kembaran dia."
Sambil menyedot segelas boba, Andra menimpali. "Terus? Sisi mana yang bikin lo terlihat lebih baik daripada Gerald?"
"Gue itu istilahnya kayak mata-mata disana. Gerald ternyata pake narkoba."
Semua orang yang sedang berkumpul di apartemen Meissa itu tampak terkejut. Gerald memang brengsek dan gila, tapi tidak disangka Gerald sampai memakai barang haram tersebut.
"Dan Ayah mereka itu, kepala sekolah SMA Langit Biru, Pak Nurim Jayadi."
Mendengar apa yang Bian sampaikan, Lala dan Nathan langsung melotot. Selama ini, mereka tidak tahu bahwa Raina adalah anak dari kepala sekolah mereka. Pantas saja, Raina memiliki akses untuk merekayasa nilai yang hanya menguntungkan dirinya sendiri.
"Oh ternyata, dia anak kepala sekolah makanya bisa seenaknya jadi Wakil Ketua OSIS," Lala tertawa yang terdengar menyakitkan. Lala memang bersalah telah melanggar peraturan OSIS, namun tidak sebaiknya orang yang diluar organisasi OSIS malah dijadikan Wakil Ketua OSIS dalam satu malam.
"Hah? Sampai begitu?" Tanya Bian yang bingung karena mereka berbeda sekolah.
"Karena gue ketahuan ikut dalam penyerangan RIVERA sama BS, gue dicopot dari waketos," terang Lala.
"Berarti ada yang bocor informasinya? Or Gerald sengaja menggunakan gue sebagai umpan, biar RIVERA sama BS saling serang? Karena, mereka tahu Thea pasti bakal ikut dalam penyerangan itu? Bukannya sejak dulu kalo ada penyerangan kayak gini nggak sampai terdengar ke orang luar? That's right?" Ujar Jay yang sedari tadi diam memperhatikan jalan cerita ini.
"Dan kalo Thea ikutan, itu biar ada alasan mencopot Thea dari jabatan waketos. Weh, sinting iki." Andra menambahi.
"Berarti emang udah direncanakan matang-matang sama si brengsek itu."
"Dan kesimpulannya, mereka melakukan ini semua karena mereka mau gue menderita sendirian. Maaf karena gue, kalian jadi ikut-ikutan kena imbasnya." Lala memandangi teman-temannya satu per satu.
Kalau saja mereka gampang emosi dan hanya teman palsu, pasti Lala sudah habis di tangan mereka karena bukan hanya gadis itu yang menjadi incaran, tapi karena Lala, orang-orang terdekatnya ikut merasakan getahnya.
"The, kita semua ini keluarga kalau lo lupa. Jadi masalah lo juga masalah kita, bukan tentang salah siapa atau siapa yang dijadikan target, tapi ini emang otak si Gerald aja yang bermasalah," Ucap Meissa, gadis itu tersenyum tipis untuk membuat Lala percaya bahwa mereka berada di sisi Lala.
"Tapi, yang mungkin aja jadi sumber masalah disini, Gerald kayaknya suka sama Thea, bahkan sejak lama, sejak kita masih satu sekolah bareng," tutur Bian yang mulai mengingat-ingat kejadian di masa lalu mereka.
"And, the older brother really likes Thea, but her younger sister hates Thea."
-Senin, 24 Juni 2024, 19.21
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi
Ficção Geral"Namaku tak seindah takdirku." -Pelangi Nabastala Althea Memiliki nama Pelangi bukan berarti hidupnya akan seindah fenomena alam yang menciptakan warna warni indah di langit itu. Alih-alih indah, gadis bernama Pelangi atau yang biasa dipanggil denga...
