Aku duduk di depan tenda sambil memperhatikan sela dari jauh. Aku ragu untuk menghampirinya.
"Una, mana bos?" Tanya tedy, aku menunjuk sela yang duduk di tepi danau.
"Kenapa kamu disini?" Tanya tedy lagi, aku menunduk memainkan jariku.
"Bos lagi marah" jawabku lesu "haruskah aku mendekatinya?, aku belum pernah lihat bos marah" lanjutku
"Gak usah, kamu tunggu disini saja. Biar aku yang jaga bos" Tedy dan rekannya pun pergi menghampiri sela. Aku menghela napas berat, aku sedikit malu pada tedy.
Aku masih menunggu sampai langit gelap. Orang-orang sudah pada di luar tenda untuk menikmati api unggun dan makan malam. Panggilan telpon dari tedy, aku segera menjawabnya.
"Bos mau mandi, bawakan barang bos"
Aku gerak cepat menyiapkan pelatan mandi sela dan pakaian ganti. Aku membawanya ke tepi danau tempat sela duduk, tedy dan rekannya pun pergi saat aku sampai. Sela juga beranjak menuju pemandian. Aku menunggu di luar pintu, menunggu sela yang sedang mandi.
Usai mandi Sebelum balik ke tenda sela duduk seperti yang lain di depan api yang dibuat pengelola, suara nyanyian dan gitar mengisi malam itu. Sela menikmati makan malamnya dengan teh dan sandwich yang aku buat, usai makan ia duduk lumayan lama disana sampai api mulai redup.
Aku mengekori sela yang berjalan kembali ke tenda. Suara langkah kami terdengar bergesekan dengan kerikil. Sela masih diam sejak tadi, aku juga takut mengajaknya bicara. Tiba-tiba sela berhenti, ia berbalik menghadapku. Aku terpaku karena sela diam saja mentapku.
"Kamu butuh sesuatu?" Tanyaku memberanikan diri. Sela melangkah mendekat padaku, ia menghela napas.
"Kamu gak dingin?" Tanyanya sembari merapikan jaket yang aku pakai, sela mengaitkan resletik jaketku dan menutupnya hingga ke atas, ia menutup kepalaku dengan bagian kepala jaket dan menutup rapat bagian leherku. Melihat perlakuan sela membuatku terenyuh.
"Kamu udah gak marah?" Tanyaku
"Ayo masuk tenda, dingin" jawab sela kembali berjalan.
Kami berbaring bersebelahan. Ini pertama kalinya kami tidur bersebelahan, udara luar semakin dingin, suara jangkrik sahut-sahutan diluar sana. Aku melirik sela yang sudah terpejam, aku pun berbalik membelakangi sela, jaketku tak terlalu menahan dingin, selimut yang sela bawa juga tak terlalu lebar, dari pada berebut selimut aku membiarkan sela memakai semuanya. Aku meringkuk berusaha meredam rasa dingin.
Sela berbalik memelukku, tangannya melingkar di atas lenganku. Ia juga menarik selimut menutupi tubuh kami berdua. Aku tersentak, jantungku berdegup cepat sekali, rasa dingin berubah cepat jadi hangat, aku yakin bukan hanya karena selimut, tapi perlakuan dan pelukan sela membuat darahku berdesir dan menaikkan suhu tubuhku.
Sela tak bergeming, dengan posisi begini bagaimana ia bisa tidur. Keningku mulai berkeringat, aku mulai mengeluh. Aku tak tahu haruskah aku kedinginan, atau harus keringetan dan tak bisa tidur begini.
*****
Pagi ini kita sudah bisa kembali pulang. Perlahan aku membangunkan sela, karena kita harus beres-beres dan tenda akan dibongkar oleh tedy. Beberapa orang sedang sarapan sebelum kembali jalan ke pintu utama. Aku membuat sarapan untuk sela juga tedy dan rekannya.
Sebelum berpisah supervisor kembali menyampaikan beberapa pesan. Setelah itu berakhirlah rangkaian acara ulang tahun perusahaan. Tedy dan rekannya jalan lebih dulu membawa ransel besar seperti awal pergi.
"Setiap anniversary, perusahaan melakukan acara seperti ini?"tanyaku, sela mengangguk.
"Ya, tiap tahun berbeda. Tim kreatif yang punya ide, aku selalu minta tim keuangan untuk sediain dana tiap tahun untuk acara perusahaan"
KAMU SEDANG MEMBACA
Yes, She is my Girlfriend
RomanceLaluna adalah wanita sederhana yang hidup serba susah, bertemu dengan seorang wanita kaya raya. Mereka terlibat dengan perjanjian yang tidak masuk akal, namun mereka perlahan menikmati perjanjian itu.
