CHAPTER : 7

100 15 3
                                        

———

BUDAYAKAN VOTE SEBELUM MEMBACA, AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA.

ENJOY!

HAPPY READING
.

.

.

.

.


————


Hari sudah berganti sore hari, Rina - wanita paruh baya itu sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. Selain itu, dia juga menunggu anak sulung sekaligus anak tunggalnya, yaitu Jemian.

"Jemian kemana ya?" gumam Rina melihat pintu rumahnya yang masih tertutup, Rina pun menghela nafas beratnya dan lanjut membaca majalah.

Cklek

Pintu itu terbuka, itu adalah Jemian. Rina pun tersenyum hangat, "Eh anak mama udah pulang." sapa Rina dengan nada lembut.

Jemian menghampiri Rina, ia mencium punggung tangan Rina. "Jemian ke kamar dulunya ma." pamit nya yang hendak menaiki anak tangga.

"Jemian.." panggil Rina, Jemian pun sontak menoleh. Ia mengernyitkan dahinya, seolah bertanya kenapa kepada mamanya yang menatap Jemian dari jauh.

Rina menghampiri Jemian, "Jemian, besok malam acara lamaran kamu sama Karamel ya." ucap Rina.

Jemian mengernyitkan dahinya, "Karamel? Karamel siapa?" tanya Jemian.

Rina terkekeh pelan mendengar ucapan Jemian, ia mengusap puncak kepala Jemian dengan lembut. "Karamel itu tunangan kamu sayang, yang mama sama papa jodohin ke kamu." sahut Rina.

Kaget sekaligus memutar bola matanya malas mendengar ucapan dari sang mama.

"Gak mau mah, Jemi gak mau di jodohin!" tolak Jemian mentah-mentah.

"Jemian, ini amanah dari om Raden temen papa kamu dulu. Kasian loh Karamel udah di tinggal kedua orang tuanya, sekarang dia cuman punya kita sebagai harapan." turut Rina lembut.

"Tapi ma, kenapa kalian jadiin Jemian sebagai sasarannya? Kenapa kalian jadiin Jemian sebagai tumbalnya, kenapa kalian ngerencanain itu semua?" tanya Jemian dengan sorot mata meminta penjelasan.

Rina mengusap punggung Jemian, "Jemian.."

"Mama sama papa gak jadiin kamu tumbal atau apapun kok, Karamel itu cewe yang baik. Dia polos, lucu. Kamu pasti suka, oh iya. Ini emang rencana papa sama om Raden papanya Karamel, pas kalian masih kecil banget." tutur Rina.

Jemian berdecak sebal, "Terserah mama!" gumam Jemian bersidekap dada, Jemian membuang arah pandangannya kearah lain.

Rina menghela nafas beratnya, sungguh anaknya sangat keras kepala seperti Seno sang papa.

"Jemian, tolong nurutin apa perkataan mama. Kamu gak mau mama sedih kan?" ucap Rina dengan sorot mata sayu.

Jemian mengacak rambutnya frustasi, "Iya iya!" final Jemian dengan terpaksa.

Rina tersenyum lebar mendengar anaknya itu mengalah, "Nah gini dong, ini baru anak mama!" seru Rina.

Jemian tersenyum masam, "Jemian masuk kamar dulu." ujar Jemian lalu pergi menaiki anak tangga.

Jemian dan LukanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang