Jangan lupa Vomennya!
────────────────────────────────────────────Marlon berada di sebuah rumah yang menjadi lokasi syuting Halley. Sementara perhatiannya tertuju pada Halley yang sedang beradu akting dengan lawan mainnya yang merupakan seorang aktor terkenal. Marlon selalu siap siaga melindungi Halley, berdiri seperti bayangan untuk memastikan tak ada bahaya yang mendatangi Halley.
Ini adalah kali pertamanya Marlon menyaksikan kegiatan syuting film. Marlon akui, Halley dianugerahi bakat akting yang mumpuni. Tanpa dialog yang meledak-ledak dan ekspresi berlebihan, perempuan itu bisa tampil natural di depan kamera. Bahkan ketika pengambilan gambar dilakukan di depan gerbang yang dipadati warga sekitar yang ingin menonton proses syuting, Halley tetap fokus dan sangat mendalami perannya tanpa terpengaruh keberadaan warga yang menontonnya.
Ponsel Marlon di dalam saku bergetar, ia meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Roy yang menghubunginya. Mungkin Roy ingin mengonfirmasi pertemuan mereka, karena Elio mengajak Halley makan malam bersama. Marlon lantas menerima panggilan dan berbicara melalui earpiece yang terpasang di telinganya.
"Ya?"
"Aku dan Tuan Elio sudah tiba di restoran."
Marlon menatap jam yang terpasang pada pergelangan tangannya. "Masih 45 menit lagi, bukan? Syutingnya juga belum selesai."
"Setelah syuting selesai, sampaikan pada Nona Halley untuk langsung menuju restoran."
"Ya."
Tak lama setelah panggilan Marlon dan Roy berakhir, sang sutradara meneriakkan kata 'wrap' untuk menandakan proses syuting telah selesai.
Halley menghampiri keberadaan Sonia yang duduk di samping Marlon berdiri. "Sonia." Halley mengguncang bahu perempuan itu agar bangun.
"Sudah selesai?" gumam Sonia begitu bangun dari tidurnya. Lalu ia berdiri dan meregangkan tangannya.
Halley duduk di bangku yang tadi di tempati Sonia. "Aku yakin, artis lain tidak akan sudi mempekerjakan asisten pemalas sepertimu. Kerjaanmu hanya tidur saja," dengus Halley.
"Dan betapa beruntungnya aku menjadi asisten seorang Halley Romarov, artis cerewet tapi baik hati karena tidak memecat asistennya sekalipun asistennya sering tidur," sahut Sonia menanggapi.
Halley kembali mendengus mendengar jawaban Sonia barusan.
Sonia kemudian mengambil tas berisi makeup Halley dan meletakkan tas tersebut ke pangkuan majikannya. Sementara itu, tangan Sonia memegang cermin gagang supaya memudahkan Halley memperbaiki riasan wajahnya, karena setelah ini Halley akan makan malam bersama kakaknya.
"Tuan Elio sudah tiba di restoran," kata Marlon menyampaikan.
"Biarkan saja dia menunggu. Sekalipun aku datang dua jam lagi, dia tidak akan keberatan menunggu selama itu, karena dia akan menungguku sambil main game," sahut Halley yang paham betul bagaimana kebiasaan Elio jika dia memiliki waktu senggang.
"Apa kakakmu masih memainkan game peternakan dan pertanian itu?" timbrung Sonia.
"Tidak lagi. Sekarang dia memainkan game Zombie."

KAMU SEDANG MEMBACA
About Time and Destiny
FantasyMarlon merupakan sosok yang begitu disegani dan dihormati karena ia menjabat sebagai jenderal militer di Kekaisaran Siregal. Tetapi, siapa yang akan mengira jika reputasi yang telah Marlon bangun dengan susah payah, hancur dalam sekejap mata setelah...