Bab 44|🍂

741 16 17
                                        

*tandai typo

Happy reading...

*

"Bang..." lirih Queen ketika sudah memasuki pekarangan mansion mereka.

Vano menggenggam tangan Queen.

"Jangan takut! Mereka pasti nerima kamu di sini. Mereka masih butuh waktu, " ucap Vano menenangkan dengan tulus.

"Tapi.. "

"Turun gih," ujar Vano dan dia membantu Queen turun dari atas motor besarnya.

Queen mengatur nafasnya kala melihat mobil Daddynya berada di halaman. Di genggamnya tangan Vano dengan suasana yang tiba-tiba dingin.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam" jawab bi Yuni yang sedang membersihkan ruang tamu karena banyaknya camilan dan gelas yang sudah kosong.

Vano dan Queen menghampiri bi Yuni.

"Ada tamu bi tadi?" tanya Vano yang diangguki langsung bi Yuni.

"Iya den. Tamunya tuan besar, " jawabnya dan mulai membawa gelas-gelas kosong itu.

Queen membawa gelas yang tertinggal oleh bi Yuni. Sedangkan bi Yuni yang melihat melebarkan matanya.

"Non biar saya aja yang beresin semua. Non pergi aja, " ucap bi Yuni.

Queen tersenyum saja. Dia langsung membawa gelas itu ke dapur.

Vano hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah yang tak lagi asing di matanya. Dengan segala tingkah baik buruknya sudah Vano ketahui.

...

Malam harinya...

Queen tak keluar kamar dari pulang sekolah sore tadi. Ia hanya berdiam diri di dalam kamar dengan merajut lagi untuk menghilangkan rasa bosannya. Lama sekali dia melakukan kegiatan merajut. Dan akhirnya selesai karena terlalu lelah.

Dia mengembalikan lagi keranjang yang berisi benang-benang wol itu dan menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan berkumur.

Setelah selesai dia keluar dari kamar mandi. Dia menuju ke arah balkon. Di sana terlihat bulan berbentuk sempurna menyinari bumi dan membuat keadaan yang gelap menjadi terang. Queen menikmati keindahannya.

Diam dengan segala pikirannya. Dia teringat tentang tadi yang di berikan kepadanya. Ia mengambilnya di dalam tasnya dan menggenggam gelang itu.

'Gua ngga tahu karena dia sudah mencintai Queen asli dengan penuh perjuangan. Dan parahnya dia mendem semuanya sendirian.'

'Gue harap Queen dapat mendengar semuanya tadi.' batinnya berucap.

"Queen gue harap lo tahu isi hatinya ya, " ucapnya berbicara sendiri dengan memandang langit.

'Tok, Tok, Tok'

Pintu kamar di buka dengan pelan. Queen menolehkan kepalanya dan mendapati abang pertamanya yang datang dengan membawa nampan yang berisi makanan. Sedikit terkejut dia dengan segera menghampirinya, walaupun ada rasa canggung yang melanda hatinya.

𝘛𝘳𝘢𝘯𝘴𝘮𝘪𝘨𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘘𝘶𝘦𝘦𝘯Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang