"kenapa kok kamu dihukum?" tanya Fani menatap kegiatan yang dilakukan Queen yang berada ditaman sekolah.
"yeuu,lihat gak si kalo gue telat tadi?" jawab Queen dengan mendumel-dumelkan nama orang-orang yang dirumah.
Fani hanya ber oh ria, sedangkan Zea dia memfoto kegiatan Queen secara sembunyi-sembunyi dan dia kirimkan ke penyuruhnya.
"lo daripada nontonin gue, mending bantuin biar ada kerjaan gitu." Queen mengangkat tong sampah agar lebih dekat dengannya.
"hmm, bukan apa-apa ya Queen. Tapi gue udah cantik jelita kayak gini masak mau ngerjain gitu," ucap Fani yang membuat Queen langsung berkacak pinggang seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
"edaaan, sok-sok'an juga. Kita nih harus cantik luar dalam, bukan luarnya aja"
Queen pun telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menghampiri Fani yang duduk selonjoran di bawah pohon dengan tenang.
"huuhh, capek" Queen mengibas-ibaskan tangannya seperti layaknya kipas.
"kasiannya,"gumam Fani dan dia pun membantu Queen dengan kipas mininya.
keduanya menikmati suasana kali ini dengan khidmat,tetapi karena terlalu lama Queen bersandar Ia pun tertidur.
"Yee malah tidur"
Zea datang dengan satu botol air putih ditangannya. Niatnya Ia akan memberikan kepada Queen ternyata si empu ketiduran. Fani hanya berkedip-kedip melihat Zea yang menatapnya.
"Duduk aja kalo capek, lagian nih anak juga ga bakalan bangun sekarang." Fani menolelkan tangan lentiknya ke hidung Queen yang malah hanya menggeliat kecil.
"Tuh liatkan?"
Zea tersenyum saja lalu ikut duduk bersama keduanya. Tidak ada percapakan hanya keheningan yang terjadi.
...
Ruang taro digunakan kelas Queen untuk latihan teater yang akan ditampilkan 2 hari lagi. Dengan sedikitnya waktu mereka harus benar-benar ingat dengan setiap script yang harus dihafalkan. Apalagi tokoh utamanya.
Berjam-jam mereka latihan dengan mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang sudah mulai terkuras banyak. Akhirnya malam harinya, sudah selesai.
"Guys, Jangan lupa besok gladi ya!" teriak ketua kelas yang hanya ditanggapi anggukan dari siswa lainnya. Tidak ada tenaga pastinya.
"Fanii.." Queen bergelayut dengan mata yang sudah keluar air mancur.
"Ehh, kenapa?" Fani menepuk-nepuk pundaknya.
Queen geleng-geleng kepala. badannya pegal, tubuhnya terasa berat rasanya dia tidak sanggup untuk berjalan pulang lagi.
"Capekk, ga mau jadi gini lagi." Keringatnya banyak bercucuran, membuat tubuhnya menjadi lebih lengket.
Fani hanya mengangguk paham. Dia juga capek latihan nonstop, tapi apa boleh buat. Mereka melakukan ini secara mendadak.
"Udah-udah, mau aku suruh abangmu kesini?"
"Hmmm" Queen hanya mengangguk saja.
Fani pun menelpon Vano dengan Queen yang masih dipelukannya.
"Halo"
"Sorry ka, ini Queen mau minta dijemput ke kelas tari. Soalnya dia capek habis latihan."
"Ohh, iya makasi"
Panggilan langsung dimatikan. Memang tabiat Abang yang perhatian tapi menjengkelkan.
"Udah, Abang Lo otw."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝘛𝘳𝘢𝘯𝘴𝘮𝘪𝘨𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘘𝘶𝘦𝘦𝘯
Novela Juvenil𝘾𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙊𝙣 𝙜𝙤𝙞𝙣𝙜 Queen adinda anastasya sari cewek bar-bar yang masih suka susu, kadang polos kadang ngreog, dan sialnya ketika dia sedang tidur... tiba-tiba dia bangun di raga orang yang tidak dikenalinya. Tasya yang awalnya...
