Siang ini Hasya sedang berkutat dengan para pasiennya dibantu dengan Gesya. Sesekali Hasya akan meminta Gesya untuk menangani pasien agar Gesya mulai terbiasa bekerja sebagai dokter utama.
"Saya aja percaya sama kamu, masa kamu engga percaya sama diri kamu sendiri?"ucap Hasya agar Gesya percaya diri atas kinerjanya.
"Gimana ya dok? Takut salah aja."
"Gak papa, ini kasus kecil kok cuman cabut gigi geraham."
Hasya mengambil ponselnya yang bergetar, ia menatap kearah Gesya dan tersenyum lebar.
"Saya tinggal bentar ya, Gee!"
Hasya keluar dari ruangan dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit seraya mengangkat telepon dari Aleon.
"Iya sayang kenapa?"
"Kamu kerja sampe jam berapa? Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Hari ini aku sampe jam 4 mungkin."
"Mau ketemu dimana?"
"Di rumah sakit aku aja gimana? Di lantai paling atas pemandangannya bagus kalo sore hari."
"Boleh, nanti aku tunggu di sana."
"Kamu jemput Azizi dulu, ya? Aku engga bisa jemput."
"Loh kan dia naik bus, halte terakhir tuh di area 50. Minta tolo—"
"Boleh dia naik bus, asal kamu jemput di halte terakhir. Kalo gak mau jemput, gak usah naik bus."
"Iya oke, Sya."
"Yaudah lanjut kerja deh, semangat dokter Hasya!!"
Hasya terkekeh kecil, "Iya makasih Pak Aleon!"
Hasya menyimpan ponselnya dan matanya menemukan beberapa Ibu yang menggendong anak kecil mereka. Hasya menebak jika usia mereka masih usia dua tahun kebawah, Hasya tersenyum tipis memperhatikan rupa mereka.
Anak kecil itu sangat lucu dan menggemaskan, ingin rasanya Hasya menggendongnya. Tetapi dirinya masih memakai pakaian oka berwarna biru dongker. Ia takut akan menyebarkan virus yang mungkin bisa menyerang tubuh bayi yang rentan terkena penyakit.
Hasya memilih untuk kembali ke ruangannya daripada sedih harus membayangkan seorang anak bayi di kehidupannya.
Sementara itu di sekolah Nusantara, Azizi, Lily, dan Ira sudah menunggu bus di halte. Sembari menunggu bus, Azizi mengirimkan live location kepada Hasya dan Aleon.
Dirinya tadi mendapatkan izin dari Hasya dan tentu hal ini membuat Azizi bersorak senang. Setelah pesannya di baca oleh Hasya, Azizi tersenyum tipis ketika ada panggilan masuk dari Bundanya yang selalu posesif kepadanya.
"Sayang hati-hati yaa. Jangan berdiri di bus, duduk aja ya sayang. Jangan deket-deket sama cowok, deket sama Lily Ira aja oke?"
"Bunda posesif banget sih Bundd. Iya-iya Zizi bakalan sama Lily, Ira kok. Bunda jangan khawatir, ya?"
"Bunda mau ngomong sama Lily dong."
Azizi menyerahkan ponselnya ke Lily dan Lily pun menerima ponsel itu dan meletakkannya di telinganya.
"Halo Tante Hasya!!!"
"Halo juga Lily, jagain Zizi yaa. Kalo di halte terakhir belum ada Om Leon, ditunggu dulu jangan pergi kemana-mana."
"Iyaa Tante, Tante tenang aja okee. Azizi bakal aman kok."
"Hehehe iya Lily, makasih ya sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kehidupan di 2045
RomanceHasya seorang dokter gigi yang memiliki keluarga kecil semanis coklat dan selembut sutra ternyata harus menghadapi mahasiswi yang ingin merebut suaminya. Baginya ini bukan persaingan tetapi pembasmian. Ternyata tidak selamanya kehidupan itu selalu m...
