Sore hari di sebuah rumah yang cukup mewah terdapat keributan kecil dari dua perempuan yang berbeda usia. Juga terdapat satu pria yang hanya menyimak keributan keduanya sembari menyesap kopi.
Hal yang sering terjadi di rumah ini jika kedua perempuan itu saling adu mulut. Namun, nantinya akan kembali berpelukan.
"Aku tuh engga mau dititipin sama Tante Gesya. Aku tuh maunya ikut kalian, lagian emang kalian mau kemana sih?"
"Dua hari aku dicuekin terus, sakit hati aku."lanjut gadis remaja itu kemudian menggigit apel dan mengunyahnya dengan kesal.
"Bentar doang yaelah, lagian kamu udah gede masa mau ikut Bunda sama Papa terus sih?"
"Kenapa sih emang kalo udah gede? Bunda udah engga sayang aku lagi?"
Yang dipanggil Bunda menatap malas kearah anaknya. Padahal ia dan suaminya sedang merencanakan sesuatu untuk anak semata wayangnya. Tapi, kalau begini ceritanya bagaimana bisa melakukannya?
"Udah ya kamu di rumah aja sama Tante Gesya, bentar lagi dia dateng."ucap Hasya yang sedang merias wajahnya dengan alat make-up.
Azizi mendekat ke kursi Hasya dan memeluk Hasya dari belakang. "Mau ikut Bunda ajaa. Zizi janji engga nakal apalagi minta pulang."rengek Azizi memeluk erat leher Hasya hingga Hasya kesusahan untuk bernapas.
"Lepas dulu gak?"
"Gak bakal kalo Bunda tetep larang Zizi ikut!"
"Ckk kamu ini bener-bener ya!"
"Lagian Bunda mau ke mana sih sama Papa?"tanya Azizi merenggangkan dekapannya.
"Cari anak yang lebih nurut."jawaban singkat Aleon membuat Azizi menatap tak suka kearah Aleon yang sama sekali tidak melirik ke arahnya.
"Seriusan Bunda?"tanya Azizi yang kini duduk di samping Hasya.
Hasya mengangguk seraya menyimpun peralatan kecantikannya. Setelah selesai, Hasya melirik kearah Azizi yang hanya diam menatap kearahnya dengan tatapan sayunya.
"Maaf ya sayang, Bunda sama Papa terpaksa cari anak lagi untuk temenin kamu."ujar Hasya dengan lembut seraya mengusap kepala Azizi.
Azizi menatap sendu kearah Hasya, "Jangan nangis yaa, maafin Bunda sama Papa."ujar Hasya lagi dengan tangan yang mendekap kearah Azizi.
Tak ada jawaban dari Azizi hingga suara Ine memecah keheningan mereka, "Bu, ini ada Mba Gesya."ujar Ine dengan Gesya berada di sampingnya.
"Haloo Azizi!"sapa Gesya dengan wajah cerianya. Hasya tersenyum kearah Gesya, "Gee titip Zizi dulu yaa. Nanti malam kita ketemuan di tempat yang aku bilang."ucap Hasya menatap penuh harap kearah Gesya.
Gesya menahan senyumnya dan mengangguk kepada Hasya. Hasya pun mencium kilas pipi Azizi yang hanya memasang wajah tanpa ekspresinya. Begitu juga dengan Aleon yang segera mengusap singkat kepala Azizi dan tersenyum singkat.
"Jangan bandel ya sama Tante Gesya."pesan Aleon seraya tersenyum manis kearah Azizi yang hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WITA dan Azizi sedang cemberut menikmati es krim kesukaannya di kedai langganan. Gesya yang sedari tadi membujuk Azizi untuk bisa ceria pun sudah menyerah.
"Bunda di chat engga balas, Papa juga. Mereka beneran mau punya anak lagi ya, Tante?"
Gesya yang semula sedang memandangi langit seraya menyendoki es krim pun menoleh kearah Azizi. "Mungkin iya Zi. Kamu yang sabar ya."jawab Gesya yang membuat Azizi menghela napasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kehidupan di 2045
RomansHasya seorang dokter gigi yang memiliki keluarga kecil semanis coklat dan selembut sutra ternyata harus menghadapi mahasiswi yang ingin merebut suaminya. Baginya ini bukan persaingan tetapi pembasmian. Ternyata tidak selamanya kehidupan itu selalu m...
