"Kasih sayang Mama sudah habis untuk mereka, ya?"
***
Terang bulan malam ini, tak seperti biasanya bagi Kahfi. Entah kenapa, beranda Twitternya banyak menunjukkan kehangatan keluarga kecil nan bahagia orang-orang. Tanpa sadar, air mata remaja itu mengalir tanpa diperintah.
"Gimana ya, rasanya punya keluarga seperti ini?" gumam Kahfi sembari mengusap foto yang ditampilkan di Twitternya. Sampai, postingan milik Tiara mampu mengalihkan atensi kahfi sepenuhnya.

Air mata Kahfi mengalir semakin deras. "Mama punya tiga anak, Ma!" gumam nya. Ia semakin terisak hebat. "Kasih sayang Mama habis untuk mereka, ya? Apa nggak ada sisa kasih sayang dari Mama untuk Kahfi?" lirih Kahfi mengeratkan pelukan pada foto ibunya.
"ASSALAMUALAIKUM! KAHFII!!! SPEDAAA!!!!" teriakan kencang milik Riko mendadak membuyarkan kesedihan Kahfi. Ia menghapus air matanya kasar.
Ceklek
Saat membuka pintu kamar, Kahfi refleks menghindar karena dorongan teman-teman nya. Riko, Arif, Nando, dan Ega, mereka masuk ke kamar nya tiba-tiba dan mulai menempati kasur empuk milik Kahfi.
"Elah, Fi! Kamar lo rapi bener, dah!" ucap Riko memuji kamar teman nya itu.
Nando terkekeh geli. "Ya iyalah, jelas lo sama Kahfi beda! Kamar lo bentukan nya udah kayak kapal kena hujan badai angin ribut!"
"Bentar-bentar! Kok kalian bisa kesini, sih?" tanya Kahfi heran.
Arif terduduk di kursi belajar Kahfi. "Pak Hidayat nyuruh kita kesini, nemenin lo! Aneh juga sih, padahal Pak Hidayat sama Bu Aini juga nggak kemana-mana!"
Kahfi terdiam sejenak. Pak Hidayat seolah selalu bisa menebak suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. "Oh, kalian mau minum apa?"
Riko terbelalak kaget. Ia bangkit dari telentang nya. "Eh, bocah! Pak Hidayat yang baik hati dan tidak sombong, selalu bilang ke kita bahwa anggap aja rumah ini seperti rumah sendiri. Lo nggak usah repot-repot ngasih minum, nanti juga gue sama anak-anak ngambil sendiri minum nya!"
Kahfi hanya mengangguk pelan sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Atensi nya teralih pada Nando yang tiba-tiba melamun sembari memandang ke arah luar kaca kamarnya.
"Lo kenapa?" tanya Kahfi sembari menepuk pundak Nando.
Lamunan remaja itu pun sontak terbuyarkan. "Eh, nggak! Cuma lagi agak pusing aja!"
"Pusing karena sakit, atau pusing karena masalah?"
Nando tersenyum simpul. "Pusing masalah, Fi! Kayak numpuk aja gitu! Masalah keluarga, OSIS, temen-temen yang lain!"
Kahfi menghela nafas pelan. "Gue kadang tuh, ingin hidup gue selesai, Fi! Capek aja!" lanjut Nando dengan senyum getir nya.
Kahfi menghela nafas pelan. "Gue emang nggak tau dan mungkin gue nggak akan pernah ngerti apa masalah, lo. Tapi—ada Allah yang akan selalu ngertiin lo, bahkan tanpa lo bilang!"
Nando melirik ke arah Kahfi. "Gini, Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 286 yang artinya “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Yang berarti siapa yang menciptakan kita lebih tau kadar kesanggupan kita menjalani ujian yang akan kita alami."
KAMU SEDANG MEMBACA
RAKIT
SpiritualSpiritual-Teenfiction Ini tentang abu-abu yang dihampiri warna pelangi. Dan juga luka yang membalut dirinya sendiri, bersama setiap doa yang ia panjatkan kepada-Nya. ⚠️BUAT DIBACA BUKAN DIPLAGIAT.⚠️ Rank 🏅 3 in Rakit Rank 🏅 15 in Kahfi Rank 🏅 7...
