26. Hangatnya Cinta

10 2 0
                                        

"Setidak layakkah aku untuk kalian cintai?"
—Rakit—

***

Bibir Kahfi terus bergetar mengusahakan diri menyebut nama Allah. Semalaman ia menangis dalam keadaan meringkuk memohon pertolongan kepada Allah. Semalaman juga ia terpikir, kenapa sang Ayah bisa dengan begitu tega menjualnya seperti barang kepada orang lain.

"Ayah, Mama, setidak layakkah itu aku mendapatkan cinta dari kalian?" batinnya ikut menjerit.

"Anak manis, kamu udah bangun?"

Kahfi berjengit kaget mendengar suara wanita yang semalam menyiksanya. Anak itu kembali mendudukkan dirinya sembari terus menunduk. Rasa takut kembali menghinggapi dirinya.

"Sayang, pagi ini saya harus kerja dulu. Tapi, nanti malam pasti saya kesini lagi! Oke, sayang?" ucapnya sambil menaikkan dagu Kahfi dengan satu telunjuknya. Kahfi hanya bisa pasrah. Ia tidak tau bagaimana lagi caranya bisa lepas dari sini.

Sesaat setelah wanita itu keluar, dua orang pria tadi kembali mendatangi Kahfi.

"Ya ampun, gimana kemarin malam? Seru pasti sama pelanggan, ya nggak?" tanyanya kepada Kahfi sembari menunjuk kawannya.

Kahfi hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. "Om, saya mau keluar dari sini!" lirih Kahfi mengiba.

Dua pria itu saling menatap dan tertawa sinis. "Lu itu udah dijual! Jadi mending lu diem, tenang aja Madame pasti bagi harga kok, sama lu!"

"Saya nggak mau, Om! Saya nggak mau di sini!" lirih Kahfi kembali memohon sembari hampir menangis.

"Udah lu diem! Nih, makanan buat lu! Nanti malem si Bos bakalan ke sini lagi. Jadi, pastiin lu bikin si Bos puas!" peringatnya.

Dua orang tadi memberikan Kahfi sebuah makanan bungkus dengan air mineral ukuran sedang. Kahfi kembali meneteskan air matanya, ia tidak paham bagaimana lagi caranya pergi.

"Ya Allah, hamba harus apa sekarang? Berikan hamba petunjuk-Mu!"

***

Di jam istirahat, semua siswa SMA Cakrawala berhamburan menuju kantin. Termasuk, Cahaya dan teman-temannya. Hanya saja, sedari tadi gadis itu hanya mengaduk-aduk mie goreng yang ia beli.

Malida melirik Cahaya yang nampak tidak bersemangat. "Kamu kenapa?"

"Nggak papa."

Malida melirik Rahma yang berada di sebelahnya. "Kalau nggak papa, kenapa Mienya cuma diaduk-aduk doang? Kan mie buat dimakan bukan diaduk." ucap Malida lagi.

"Gue—"

"Ya, ikut gue!" Arul terlebih dahulu memotong ucapan Cahaya dan menarik gadis itu agar segera pergi bersamanya.

Arul ternyata membawa Cahaya ke ruangan Pak Hidayat. Di sana sudah ada Nando dan Pak Hidayat.

"Ada apa, sih?" tanya Cahaya penasaran. "Pak ada apa?"

"Cahaya, bapak dengar sore itu kamu dan Arul janjian ketemu dengan Kahfi, kan?"

"Iya, Pak. Tapi—Kahfi nggak datang." jawab Cahaya jujur.

RAKITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang